TIMUR TENGAH

Harga Minyak Kembali Naik, Khamenei Perintahkan Hormuz Ditutup

Khamenei juga menyerukan agar negara-negara Teluk segera menutup pangkalan AS di negara mereka.

12 Mar 2026 21:57 WIB · Internasional

AP/Altaf Qadri

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

DUBAI, KAMIS — Harga minyak di bursa Brent kembali menginjak angka 101,59 dolar AS per barel pada Kamis (12/3/2026) sebelum turun kembali ke angka 99,35 dolar AS per barel. Meski demikian, situasi masih mengkhawatirkan lantaran perang masih berlanjut.

Apalagi pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan agar Selat Hormuz tetap ditutup. ”Efek pengaruh dengan memblokade Selat Hormuz harus benar-benar digunakan,” kata Khamenei.

This photo taken in Tehran shows a statement by Iran's new supreme leader Mojtaba Khamenei being televised on March 12, 2026. Khamenei, whose father Ali Khamenei was killed in the first wave of US-Israeli attacks at the start of the Middle East war, called for the Strait of Hormuz to remain blocked and for Gulf countries to close their US military bases. Khamenei, who was reportedly injured in an air strike, has yet to appear publicly since his nomination last March 8, 2026,  as supreme leader, and his defiant message was read by a newscaster on state television. (Photo by AFP)

Dalam pernyataan pertama yang dibacakan di televisi Iran oleh pembaca berita, Khamenei juga menyerukan agar negara-negara Teluk segera menutup pangkalan AS di negara mereka. Menurut dia, perlindungan yang dijanjikan AS tidak lebih dari sekadar kebohongan belaka.

Ia pun berterima kasih kepada ”front-front perlawanan” di Yaman, Lebanon, dan Irak. Khamenei menegaskan, pembalasan dendam adalah prioritas ”sampai sepenuhnya tercapai”.

Infografik Jalur Penting Pengiriman Minyak dan Gas
TOPSHOT - This handout photo taken on March 11, 2026 and released by the Royal Thai Navy shows smoke rising from the Thai bulk carrier 'Mayuree Naree' near the Strait of Hormuz after an attack. A Thai bulk carrier travelling in the crucial Strait of Hormuz was attacked March 11, with 20 crew members rescued so far, the Thai navy said. (Photo by Handout / ROYAL THAI NAVY / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / ROYAL THAI NAVY " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS -

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menebar ancaman untuk menuntaskan operasi militer AS di Iran. Saling serang ini membuat perang kian tak berujung.

Dampak penutupan Selat Hormuz

Sebagaimana diberitakan, ”tekanan” pada lalu lintas energi global di Selat Hormuz memicu dampak besar. Serangan balasan yang menyasar sejumlah target di negara-negara Teluk memaksa sejumlah produsen minyak menutup fasilitas mereka. Dalam laporan terbaru, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan, produksi minyak mentah harian—secara global—turun setidaknya 8 juta barel.

A man walks along the shore as oil tankers and cargo ships line up in the Strait of Hormuz, as seen from Khor Fakkan, United Arab Emirates, Wednesday, March 11, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Dampaknya, selain harga minyak meroket, efek ikutan seperti terhentinya ribuan jadwal penerbangan membuat banyak pelancong terdampar. Cathay Pacific mengumumkan biaya tambahan bahan bakar jet baru untuk sebagian besar rute, sementara Air France-KLM akan menaikkan harga tiket.

Menyikapi tekanan pada pasokan minyak, negara-negara di dunia mencoba mengimbanginya dengan membuka ”keran” cadangan minyak mereka. IAEA pada Rabu lalu telah melepas lebih dari 400 juta barel dari cadangan yang mereka miliki. Namun, aksi tanggap darurat itu merupakan solusi jangka pendek dan tidak menghilangkan risiko jangka panjang.

Para analis mengatakan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, dalam waktu relatif singkat, harga minyak dapat melonjak hingga 150 dolar AS per barel. ”Pasar energi telah terguncang oleh berita serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk Persia, bersama dengan rudal yang ditujukan ke negara-negara di seluruh wilayah,” kata analis Trade Nation, David Morrison.

”Ketidakmampuan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memberikan keamanan bagi kapal-kapal yang melewatinya menunjukkan bahwa ada batasan bagi dominasi mereka,” tambahnya.

”Semakin lama harga minyak tetap tinggi, semakin merusak dan lama guncangan inflasi akan berdampak pada ekonomi global,” kata Kathleen Brooks, direktur riset di grup perdagangan XTB. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan