Simpanan nasabah tumbuh signifikan hingga dua digit, tetapi pertumbuhan kredit masih terus tertekan. Lantas, bagaimana prospeknya hingga akhir tahun?
08 Des 2025 13:20 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan simpanan nasabah telah memberikan tambahan likuiditas bagi perbankan. Di sisi lain, simpanan berupa giro yang tumbuh relatif signifikan memberikan sinyal-sinyal ekspansi dari dunia bisnis. Kondisi tersebut disinyalir akan mendorong pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
Mengutip data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total simpanan nasabah pada Oktober 2025 mencapai Rp 9.790,37 triliun atau tumbuh 11,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kategori simpanan di atas Rp 5 miliar dengan pangsa 56,8 persen. Simpanan nasabah kategori ini tumbuh 18,3 persen.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, pertumbuhan simpanan tersebut bisa jadi berasal dari dana yang sebenarnya akan digunakan oleh pelaku usaha untuk ekspansi.
”Namun, (dana itu) tidak digunakan dan disimpan di bank. Maka, dari sisi perbankan dapat meningkatkan likuiditas,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (8/12/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/03/a77ab91d-9f98-4972-bbf4-25bd17a5269b.jpg)
Berdasarkan data Bank Indonesia, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) perbankan meningkat menjadi 29,47 persen. Sementara, DPK tumbuh 11,48 persen secara tahunan pada Oktober 2025. Ini menunjukkan kapasitas pembiayaan oleh perbankan masih memadai.
Pada periode yang sama, penyaluran kredit oleh perbankan secara industri tumbuh 7,36 persen secara tahunan. Torehan ini cenderung melambat bila dibandingkan pertumbuhan pada September 2025 sebesar 7,7 persen secara tahunan.
”Harapannya bagi bank, dana tersebut (simpanan) harus aktif disalurkan kembali dalam bentuk kredit produktif sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Trioksa.
Giro itu, kan, bunganya kecil (dibandingkan deposito). Ketika orang menaruh dananya di giro, dengan bunga kecil, pasti tujuannya bukan untuk mencari bunga, melainkan tujuannya adalah ’stand by’ untuk usaha.
Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank LPS Dimas Yuliharto menyampaikan, simpanan jenis deposito dan tabungan masih mendominasi DPK perbankan. Namun, dari sisi pertumbuhannya, simpanan dengan jenis giro tumbuh cukup signifikan.
LPS mencatat, simpanan giro nasabah tumbuh 15,4 persen secara tahunan pada Oktober 2025. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan simpanan deposito dan tabungan yang masing-masing tumbuh 11,7 persen dan 7,2 persen.
”Giro itu, kan, bunganya kecil (dibandingkan deposito). Ketika orang menaruh dananya di giro, dengan bunga kecil, pasti tujuannya bukan untuk mencari bunga, melainkan tujuannya adalah stand by untuk (ekspansi) usaha,” ujarnya dalam dalam acara Literasi Keuangan dan Berasuransi di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/12/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/69a977743ed4d325b84e615bc5470c5b-20250916_H10_KID_Penyaluran_Kredit_UMKM_mumed.jpg)
Sejalan dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan simpanan nasabah di atas Rp 5 miliar tumbuh signifikan dibandingkan simpanan di bawah Rp 5 miliar. Kondisi tersebut semakin menegaskan bahwa dunia usaha tengah bersiap untuk melakukan ekspansi bisnis.
Menurut Dimas, saat ini masih ada gap atau selisih antara pertumbuhan simpanan dan pertumbuhan kredit. Meski demikian, pertumbuhan simpanan nasabah di perbankan dapat mendorong penyaluran kredit.
”Tentunya ada gap waktu 1-2 bulan. Kita lihat saja nanti di bulan ini, November, akan naik atau tidak? Apalagi, pemerintah, kan, sudah menguncurkan dana Rp 200 triliun dan menambah lagi (Rp 76 triliun) ke perbankan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan, permintaan kredit saat ini menghadapi tekanan, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor perdagangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/cbf5a0fb-0f08-457e-9ade-8da0a44a8e10_jpg.jpg)
Namun, OJK optimistis beberapa sektor ekonomi dapat pulih seiring dengan dukungan kebijakan, baik dari sisi fiskal, industri, maupun investasi. Perkembangan ini akan meningkatkan efek pengganda ke konsumsi rumah tangga dan investasi sehingga mendorong permintaan kredit.
”OJK tetap mengharapkan kredit terus tumbuh sebagaimana perkiraan hasil evaluasi RBB (rencana bisnis bank) yang menunjukkan tidak adanya revisi signifikan dari bank,” katanya dalam keterangan tertulis.
Secara keseluruhan, OJK menetapkan target pertumbuhan kredit pada 2025 sebesar 9-11 persen. Meski terdapat evaluasi dan revisi target dari beberapa bank dalam RBB-nya, OJK meyakini target tersebut masih dapat tercapai.
Beberapa faktor lain yang akan mendorong pertumbuhan kredit hingga akhir 2025 antara lain transmisi kebijakan moneter dan tren penurunan suku bunga pinjaman. Ada pula faktor percepatan belanja pemerintah/investasi swasta dan dorongan kebutuhan belanja musiman rumah tangga menjelang akhir 2025 dan awal 2026.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan