BI memperkirakan kredit akan tumbuh dalam rentang 8-12 persen pada 2026, sedikit lebih tinggi dibanding 8-11 pada 2025, lalu berlanjut menjadi 9-13 persen pada 2027.
29 Nov 2025 17:15 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
JAKARTA, KOMPAS – Pertumbuhan kredit industri perbankan pada tahun 2026 diperkirakan relatif lebih baik ketimbang tahun ini. Meski demikian, faktor daya beli masyarakat, penurunan biaya dana, serta risiko kualitas kredit akan sangat menentukan prospek penyaluran kredit tahun depan.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan, pertumbuhan kredit akan berada dalam rentang 8-12 persen pada 2026 atau sedikit lebih tinggi dibanding 8-11 persen pada 2025. Selanjutnya, kredit diproyeksikan masih akan tumbuh menjadi 9-13 persen pada 2027.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan berpendapat, pertumbuhan kredit pada 2026 memang akan lebih baik dibanding 2025. Namun, pertumbuhan itu terancam hanya berkisar pada satu digit selama daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
”Target pertumbuhan sampai 12 persen dengan asumsi adanya dorongan dari pelonggaran makroprudensial. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar biaya dana bank jauh lebih efisien sehingga berdampak pada penurunan bunga kredit,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (29/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/13/0f5e8e79-4c2b-4719-94a4-0f1c14c93d2c_jpg.jpg)
BI mencatat, pertumbuhan kredit hingga Oktober 2025 ialah 7,36 persen secara tahunan atau melambat dibanding September 2025 yang mencapai 7,7 persen. Perlambatan ini dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta suku bunga kredit yang masih relatif tinggi.
Maka dari itu, menurut Trioksa, dibutuhkan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat, terutama dari sisi lapangan pekerjaan. Selain itu, peningkatan investasi baru dan daya saing produk dalam negeri juga dapat mendorong industri melakukan ekspansi.
”Namun, ada beberapa risiko yang perlu diantisipasi, yakni risiko likuiditas bank dan masih mahalnya biaya dana bank. Selain itu, ada juga risiko kredit bila penyaluran hanya mengejar target tanpa memperhatikan kualitas kredit,” ujarnya.
Sebenarnya, yang paling krusial selain pertumbuhan adalah menjaga kualitas aset sekarang, terutama kalau kita bicara kualitas aset di segmen ”consumer” dan ”micro-SME” (UMKM).
Sebaliknya, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro memperkirakan, pertumbuhan kredit industri perbankan pada 2026 cenderung akan berada di level batas atas satu digit atau 9-10 persen.
Menurut dia, permintaan kredit ke depan akan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi nasional. Salah satu tantangan yang harus diperhatikan dan diperbaiki untuk memacu pertumbuhan kredit ialah kualitas aset, terutama di segmen bawah.
”Sebenarnya, yang paling krusial selain pertumbuhan adalah menjaga kualitas aset sekarang, terutama kalau kita bicara kualitas aset di segmen consumer dan micro-SME (UMKM),” katanya saat ditemui seusai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, di Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/d594a71c8172e8f247745cd21443294b-20251128ron01.jpg)
Berdasarkan segmentasi pasarnya, kinerja kredit korporasi dan komersial saat ini masih relatif lebih baik. Namun, kredit konsumer dan UMKM tengah mengalami tantangan, terutama dari sisi kualitas asetnya alias kredit macet (NPL) yang cenderung meningkat.
Mengutip data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI), NPL kredit UMKM per September 2025 tercatat sebesar 4,45 persen, naik dibandingkan September 2024 yang masih sebesar 4 persen. Adapun usaha menengah masih mencatatkan NPL tertinggi sebesar 5,43 persen.
”Kalau kita bisa menjaga dan mendorong purchasing power masyarakat di segmen bawah, itu (kualitas kredit) harusnya bisa revamp (diperbaiki) lagi. Paling tidak, kualitas asetnya jadi relatif lebih baik,” ujar Andry.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia, Batara Sianturi mengatakan, target pertumbuhan kredit 8-12 persen pada 2026 masih memungkinkan dicapai. Ini sejalan dengan prospek penurunan suku bunga acuan, baik dari global maupun domestik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/69a977743ed4d325b84e615bc5470c5b-20250916_H10_KID_Penyaluran_Kredit_UMKM_mumed.jpg)
Menurut dia, kebijakan suku bunga acuan BI yang cenderung mengarah pada penurunan dapat menciptakan situasi ekonomi yang lebih kondusif. Di sisi lain, penurunan suku bunga juga diharapkan dapat mendorong sisi permintaan kredit.
”Kita mengharapkan ini (penurunan suku bunga acuan) akan memberikan insentif dan juga menstimulasi demand side dari permintaan kredit,” kata Batara seusai PTBI 2025.
Penurunan suku bunga acuan tersebut juga diyakini tertransmisi dengan baik oleh perbankan. Salah satu faktor pendorongnya ialah kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang akan digelontorkan oleh BI.
Per Desember 2025 mendatang, BI akan mengucurkan KLM sebesar Rp 423 triliun, terutama bagi bank-bank penyalur kredit ke berbagai sektor prioritas pemerintah. Selain itu, insentif juga dikucurkan bagi bank yang cepat menurunkan suku bunganya sejalan dengan suku bunga acuan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/083629c48f1ecae010460b31a5f1201f-20251128ron06.jpg)
Dalam acara PTBI 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, kebijakan moneter tetap diarahkan pada keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Dengan terjaganya inflasi, BI pun akan mencermati ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan.
”Kebijakan makroprudensial yang longgar diperkuat tahun 2026 untuk mendorong kredit perbankan lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Selain memberikan insentif KLM sebesar Rp 423 triliun, BI turut menggelontorkan insentif likuiditas bagi bank-bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga. BI juga akan berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mengatasi special rate di perbankan.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase