Beragam cara dilakukan suporter dari sejumlah negara mendukung tim kesayangannya. Dari diam, berteriak, hingga menerapkan konsep kehidupan di dalam stadion.
17 Jun 2026 20:30 WIB · Olahraga
AP
Setelah melewati rintangan kesulitan dana hingga ancaman penyakit menular, Lumumba Vea disebut bakal hadir mendukung DR Kongo di Piala Dunia 2026. Mungkin absen di laga pembuka melawan Portugal di Stadion Houston, Amerika Serikat, Kamis (18/6/2026), tapi dia akan kembali mematung memberi semangat di dua laga lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lumumba Vea menjadi figur pendukung setiap timnas DR Kongo tampil. Dalam bahasa Lingala, bahasa setempat, artinya Lumumba hidup.
Lumumba adalah salah satu pelopor kemerdekaan Afrika. Pada 1960, ia menjadi perdana menteri pertama Kongo. Salah satu sosok yang diidolakan Presiden pertama Indonesia, Sukarno, ini wafat setahun kemudian.
Tokoh di balik sosok itu adalah Michel Kuka Mboladinga. Bekas tukang roti itu merias diri seperti Lumumba. Sudah mirip secara fisik, dia melengkapi penampilannya dengan gaya La Sape, gaya necis ala Kongo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/2fe11cc034d7f05a847c1f51bd8fcf8e-Morocco_Africa_Cup_of_Nations_Soccer.jpg)
Seperti Lumumba, Mboladinga biasanya memakai jas dan dasi kupu-kupu. Biasanya memakai topi kulit macan tutul dan berkacamata bingkai tebal.
Akan tetapi, sebagai suporter, dia tidak bernyanyi. Dia juga tidak bertepuk tangan. Tidak ada perayaan saat tim mencetak gol. Lumumba Vea juga tidak menyesali diri ketika tim kebobolan.
Dia hanya diam mematung. Tangan kanan mengangkat ke atas. Tatapannya tajam. Tidak ada ekspresi berlebihan dari mukanya. Dia benar-benar menirukan patung Patrice Lumumba di Kinshasa, ibu kota DR Kongo.
”Saya berdiri diam karena saya percaya hal itu akan memberikan kekuatan emosional untuk tim,” kata Mboladinga kepada Wall Street Journal. ”Lumumba telah mengorbankan hidupnya untuk negara kami. Yang saya lakukan hanya hal kecil.”
Setelah namanya viral seusai mendukung DR Kongo di AFCON 2025 dan babak kualifikasi, ia dengan cepat menjadi kesayangan.
![CORRECTION / Democratic Republic of Congo's supporter Michel Kuka Mboladinga, pays tribute to Democratic Republic of Congo's late prime minister Patrice Lumumba, by remaining motionless before the Africa Cup of Nations (CAN) round of 16 football match between Algeria and Democratic Republic of Congo at the Prince Moulay El Hassan Stadium in Rabat on January 6, 2026. (Photo by Gabriel BOUYS / AFP) / The erroneous mention[s] appearing in the metadata of this photo by Gabriel BOUYS has been modified in AFP systems in the following manner: [Mboladinga] instead of [Mbolandinga]. Please immediately remove the erroneous mention[s] from all your online services and delete it (them) from your servers. If you have been authorized by AFP to distribute it (them) to third parties, please ensure that the same actions are carried out by them. Failure to promptly comply with these instructions will entail liability on your part for any continued or post notification usage. Therefore we thank you very much for all your attention and prompt action. We are sorry for the inconvenience this notification may cause and remain at your disposal for any further information you may require.](https://assetd.kompas.id/mZeyMowT148EahCbKqXUbhvMhUw=/1024x683/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/4d2b4263b2086372df4937a6a8844284-wires_photo_2.jpg)
Presiden Asosiasi Sepak Bola Kongo Veron Mosengo-Omba mengatakan, Mboladinga adalah simbol nasional bagi ketangguhan dan kebanggaan. Para pemain sangat menyayanginya dan oleh karena itu, Lumamba Vea wajib ikut serta ke Amerika Serikat.
Mengutip Foot Africa, kapten RD Kongo, Chancel Mbemba, juga menyampaikan permintaan ini kepada Presiden Félix Tshisekedi ketika tim merayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026 di Kinshasa.
Mbemba merasa kehadiran Lumumba Vea di Piala Dunia akan membuat para pemain semakin bersemangat. Karena ketika melihatnya, mereka menyadari bahwa mereka tidak bermain untuk diri sendiri, tetapi seluruh bangsa.
Akan tetapi, bukan hal yang mudah mewujudkan hal itu. Biaya dari Kinhasa ke AS tidak murah. Namun, ada yang lebih pelik dari sekadar persoalan biaya. RD Kongo sedang didera wabah ebola merujuk keterangan WHO (Kompas.id, 16 Juni 2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/513a8af7bbd8e74244f4a6a3135445ae-AFCON_Congo_Fan_2.jpg)
Hal itu juga yang membuat izin bagi warga RD Kongo menjadi sangat ketat. Bahkan, rombongan timnas DR Kongo harus menjalani karantina selama 21 hari di Belgia sebelum bisa berlaga di Piala Dunia.
Dikutip dari Goal, beruntung Presiden Félix Tshisekedi mendengar keinginan timnas. Tshisekedi yang kabarnya pernah memberi Mboladinga sebuah mobil, lewat dukungannya untuk timnas, lantas menanggung biaya hingga beragam syarat lainnya.
Meski bakal absen saat melawan Cristiano Ronaldo cs, Lumumba Vea bakal hadir saat laga melawan Kolombia dan Uzbekistan.
Kontras dengan Lumamba Vea yang mematung, seorang pendukung asal Curaçao sangat aktif mendukung timnya di Piala Dunia. Namanya Brenton Balentien warga Willemstad, ibu kota Curacao.
Sosoknya tidak sulit dicari. Jika Anda melihat seorang pria botak, berjanggut, dan berotot dengan kepala dan wajah dicat biru untuk pertandingan Curacao, kemungkinan besar dia adalah Balentien. Di seluruh pulau Cuaraco, ia dikenal sebagai ”Wajah Biru”.
Dia adalah penggemar sepak bola sejati yang memperhatikan bagaimana para penggemar di Brasil, Kolombia, dan tempat lain mengenakan wig dan kostum yang rumit selama laga berlangsung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/7c26470ae2499d87026a276d318d18a4-Germany_v_Curacao__Group_E_FIFA_World_Cup_2026_3.jpg)
”Curacao adalah pulau yang sangat pasif. Kami menonton pertandingan dan bertepuk tangan, tentu saja, tetapi kami bukan tipe penggemar yang keluar dan berteriak selama 90 menit penuh. Dan saya berkata, tidak, kita harus mengubah itu.”
Jadi, pada 2015, dia memulainya seorang diri. Balantien yang mengecat sendiri wajahnya sebelum setiap pertandingan. Perlahan, namanya dikenal seiring Curacao berprestasi. Dari menyanyi sendirian di stadion yang sering sepi penonton, kini ia punya banyak teman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/846634b59554e518d6ef21cbbfb9c3aa-APTOPIX_Curacao_Germany_WCup_Soccer.jpg)
Dari seorang bartender, ia kini menjadi pemengaruh di media sosial. Ia bahkan telah menjadi pembicara motivasi. ”Kami melakukannya untuk pulau ini,” kata Balentien dikutip New York Times, ”agar dunia tahu siapa kami.”
Apabila Curacao punya Balantien dan DR Kongo memiliki Lumamba Vea, Jepang memiliki kekuatan kolektivitas. Tidak ada tokoh sentral, mereka melakukannya bersama-sama mengharumkan nama Jepang. Caranya, membersihkan stadion setiap Jepang seusai bermain.
Tradisi suporter Jepang membersihkan stadion setelah pertandingan telah menjadi sorotan dunia sejak Piala Dunia 1998 di Perancis. Aksi ini berlanjut di setiap edisi, termasuk di Rusia 2018 dan Qatar 2022.
Dari Gelora Bung Karno saat laga kualifikasi Piala Dunia melawan Indonesia pada 10 Juni 2025 hingga di Arlington pada 14 Juni 2026 pascalaga Jepang melawan Belanda di putaran final pesta bola ini, mereka melakukan hal yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/15/ff9f7466-aad5-419d-bf43-411ac8b4f6c7.jpg)
Dilansir Associated Press, perilaku ini berakar dari proses sosialisasi sejak usia sekolah dasar di Jepang. Siswa terbiasa membersihkan kelas dan lingkungan sekolah sendiri karena tidak banyak petugas kebersihan di sekolah.
Seorang perwakilan suporter Jepang, Toshi Yoshizawa, menyebut dibesarkan dengan ajaran bahwa mereka harus meninggalkan suatu tempat lebih bersih daripada saat mereka tiba.
”Ini salah satu tradisi bangsa kami,” katanya saat bersih-bersih seusai Piala Dunia U-20 di Chile, Oktober 2025 lalu.
Dalam penjelasannya, ilmuwan politik Universitas Sophia, Koichi Nakano, mengatakan, perilaku suporter Jepang mencerminkan kebiasaan masa kecil dalam menikmati olahraga dan kehidupan sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/27/102dacdc-23d8-48a2-b5cb-0080ce8286ca.jpg)
Budaya ini juga terkait dengan konsep Jepang ”meiwaku”, yaitu menghindari tindakan yang mengganggu orang lain. Dari perspektif ini, meninggalkan sampah di stadion dianggap mengganggu publik dan lingkungan bersama.
Sosiolog Barbara Holthus dari German Institute for Japanese Studies menjelaskan, masyarakat Jepang dibentuk nilai-nilai kolektivitas. ”Orang Jepang belajar sejak dini bahwa Anda tidak ingin merepotkan orang lain,” katanya.
Ungkapan Jepang yang sering dikaitkan dengan praktik ini adalah ”Tatsu tori ato wo nigosazu”. Secara harfiah hal itu diartikan sebagai ”burung tidak meninggalkan jejak kotor”, yang bermakna ”kembalikan seperti semula”. Dari Karibia hingga hingga Pasifik, pendukung sepak bola punya acara masing-masing mendukung negaranya. Sendiri atau bersama mereka adalah nyawa bagi tim yang berlaga. (REUTERS)
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul