Jepang memukul balik Belanda di pengujung laga dengan cara yang tidak diduga-duga. Dua kali Belanda unggul lebih dulu, dua kali pula Jepang mampu bangkit.
15 Jun 2026 07:10 WIB · Olahraga
AP Photo/Sam Hodde
ARLINGTON, SENIN — Jepang mampu menghindari kekalahan dari Belanda berkat gol pada menit-menit akhir pertandingan. Spirit ”Samurai Biru” untuk membalikkan keadaan tidak perlu diragukan. Namun, cara mereka menyelamatkan laga dengan gol sundulan yang jadi pertanyaan.
Tiga poin yang sudah dalam genggaman Belanda terlepas dalam laga pembuka Grup F di Stadion AT&T, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Senin (15/6/2026) WIB. Jepang mengejutkan lewat gol pemain pengganti Daichi Kamada dari situasi bola mati pada menit ke-89. Laga pun berakhir imbang 2-2.
”Kami berkata sebelum laga setidaknya bisa mengambil satu poin dari laga ini. Kami kesulitan, tetapi bisa menunjukkan apa yang sudah dipersiapkan. Melawan tim kuat seperti Belanda, Anda bisa dengan mudah tertinggal 2-0 atau 3-0 setelah kemasukan lebih dulu. Kami melawan balik,” kata Kamada.
Gol sundulan Kamada terasa absurd sebab Belanda selalu menunjukkan superioritas dalam duel udara sejak sepak mula. Belanda berkali-kali mengancam gawang lawan dengan sundulan dari situasi bola mati, salah satunya bahkan berbuah gol pembuka keunggulan lewat bek Virgil van Dijk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/0db12d241f1441a856e1a655e32bd9fd-Netherlands_v_Japan__Group_F_FIFA_World_Cup_2026.jpg)
Wajar jika ”Si Oranye” lebih unggul dalam duel bola atas. Mereka memiliki pemain-pemain berpostur menjulang, contohnya Van Dijk dengan tinggi nyaris 2 meter. Mirisnya, Van Dijk pula yang menjadi saksi gol sundulan lawan setelah bola dari tendangan sudut melewatinya begitu saja.
Keberuntungan? Pasti ada. Kebetulan? Jelas bukan. Jepang memang dikenal dengan permainan cepat dari kaki ke kaki. Meski begitu, tim asuhan Pelatih Hajime Moriyasu itu juga sangat berbahaya dalam bola atas. Peluru mematikan tersebut sudah dibuktikan selama kualifikasi zona Asia.
Samurai Biru, menurut data Opta, menghasilkan jumlah 12 gol lewat sundulan. Itu merupakan yang terbanyak selama kualifikasi, bahkan melampaui Australia (8) yang punya banyak pemain tinggi. Rerata, Jepang mencetak empat gol sundulan dalam lima pertandingan.
Hampir separuhnya dicetak oleh penyerang klub Belanda, NEC Nijmegen, Koki Ogawa (5). Bukan kebetulan, Ogawa pula yang berperan penting dalam gol balasan di laga tadi. Gol berawal dari sundulan pemain setinggi 184 sentimeter itu lalu mengenai kepala Kamada dan sedikit berubah arah.
Moriyasu sengaja memasukkan Ogawa, menggantikan penyerang mungil Takefusa Kubo. Sang pelatih berencana menghujani pertahanan lawan dengan umpan silang. Rencana itu terlihat tidak realistis, tetapi Jepang terlihat lebih berbahaya setelah Ogawa masuk. ”Para pemain mengeksekusi apa yang telah direncanakan,” kata Moriyasu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/4e49e894217ed923c90a7ad2a11128e8-wires_photo_2026_06_15T063719.536.jpg)
Kami bertahan dengan baik. Hanya saja kami bertahan terlalu dalam pada pengujung laga.
Jepang memang kalah dari postur. Hanya Ogawa yang mungkin masih bisa bersaing. Namun, mereka tidak bertumpu dengan itu, tetapi pergerakan tanpa bola dan akurasi umpan. Dalam situasi gol kedua Jepang, misalnya, umpan Junya Ito dari tendangan sudut seolah mencari kepala Ogawa.
Belanda pun kehilangan posisi unggul untuk kedua kali dalam satu laga. Padahal, Pelatih Ronald Koeman sudah menambah jumlah bek dengan memasukkan Nathan Ake. Mereka mengubah formasi dari 4-3-3 ke 5-3-2 pada sepuluh menit terakhir waktu normal, tetapi itu tidak berbuah manis.
Van Dijk mengatakan, semestinya mereka bisa lebih baik ketika unggul. ”Kami bertahan dengan baik. Hanya saja kami bertahan terlalu dalam pada pengujung laga. Tentu mengecewakan karena mereka, tim lawan, tidak banyak membuat peluang, apalagi kemasukan dari bola mati,” ujarnya.
Keputusan pergantian pemain Koeman kini dipertanyakan. Dia menukar tiga pemain sekaligus hanya beberapa menit setelah berbalik unggul di paruh kedua lewat aksi individu Crysencio Summerville. Salah satu yang ditarik adalah sang pencetak gol. Padahal, Summerville sedang berapi-api.
Koeman lebih ingin mempertahankan keunggulan walaupun sedang memegang momentum. Setelah Belanda kembali unggul 2-1 pada menit ke-64, mereka terus mengepung Jepang di separuh lapangan lawan. Momentum itu berbalik seiring dengan perubahan formasi tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/6221b7c3b7bb603116cd6f65894c3625-Japan_Netherlands_WCup_Soccer.jpg)
Spirit pantang menyerah skuad Jepang sudah terlihat sejak awal paruh kedua. Mereka tidak frustrasi walaupun serangan sisi sayap yang merupakan senjata utama bisa dibatasi oleh Van Dijk dan rekan-rekan. Mereka terus mencoba sampai akhirnya muncul momen magis Keito Nakamura dari sisi sayap.
Menurut Moriyasu, timnya sebenarnya layak menang dengan spirit tersebut. ”Saya kecewa kami gagal menang, terlebih karena kami ketinggalan dua kali. Namun, para pemain enggan menyerah dan bertarung hebat sebagai satu tim. Kami mendapatkan hasil ini berkat kerja sama kolektif,” katanya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan