Akibat penurunan IHSG sebesar 9 persen di pembukaan perdagangan sesi pertama, BEI langsung menerapkan ”trading halt” selama 30 menit.
08 Apr 2025 11:43 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang kembali dibuka pada Selasa (8/4/2025), seusai libur panjang Lebaran, langsung jeblok hingga 9 persen ke level 5.912. Faktor kebijakan tarif Trump yang mendunia masih menjadi pemberat IHSG. Namun, analis memperkirakan IHSG hari ini resisten di kisaran level 6.000.
IHSG yang dibuka pada pukul 09.00 WIB anjlok 598,56 poin atau 9,12 persen dari level 6.510,62 menjadi 5.912,06. Mengutip aplikasi Ajaib, saham yang merosot paling besar sekitar 15 persen adalah saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk, PT Adhi Karya Persero Tbk, PT Essa Industries Indonesia Tbk, dan PT DCI Indonesia Tbk.
Saham perbankan besar juga tidak terhindar dari penurunan harga, seperti PT Bank Central Asia Tbk yang turun sebesar 12,94 persen, PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk anjlok 14,57 persen, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk turun 13,21 persen, PT Bank Mandiri Persero Tbk turun 13,46 persen, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk 12,39 persen.
Akibat penurunan IHSG sebesar 9 persen di pembukaan perdagangan sesi pertama, Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung menerapkan penghentian perdagangan sementara atau trading halt selama 30 menit. Penghentian perdagangan langsung berlaku meskipun otoritas bursa telah merelaksasi persentase batas terendah penghentian perdagangan sementara dari 5 persen menjadi 8 persen.
”Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09.30 waktu JATS (Jakarta Automated Trading System) tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8 persen,” demikian keterangan resmi dari BEI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/d1443fbd037975caa75a17a6aa55738a-20250408_091207.jpg)
Setelah 30 menit dihentikan, IHSG sedikit naik ke level 6.023 pada 11.00 WIB sehingga koreksi IHSG menjadi sekitar 7 persen. Pergerakan ini sesuai analisis Tim Phintraco Sekuritas yang menargetkan level support atau target penurunan IHSG di kisaran 5.600-5.800 dan target kenaikan di 6.400-6.700.
Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, dalam keterangan tertulis, menambahkan, pergerakan IHSG memiliki support kuat di area 5.800 yang menjadi batas psikologis dan teknikal penting, sementara level atas atau resisten terdekat berada di level 6.000.
”Setelah trading halt, biasanya kepanikan sedikit mereda dan pelaku pasar mulai rasional sehingga potensi technical rebound bisa terjadi,” ujarnya.
Pergerakan positif IHSG, menurut dia, juga disebabkan rencana Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan terkait posisi Indonesia terhadap kebijakan tarif Trump pada Selasa siang ini. Agenda itu dapat menjadi katalis positif jika disampaikan dengan tegas dan menenangkan pasar.
Sementara itu, imbuh Hendra, penurunan IHSG lebih disebabkan oleh sentimen eksternal dan reaksi emosional pasar. Untuk investor jangka panjang, ini justru menjadi momen penting untuk mencermati peluang akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat yang terdampak berlebihan.
”Sementara bagi trader (pedagang) jangka pendek, perlu tetap mencermati volatilitas dan menunggu konfirmasi teknikal sebelum kembali masuk pasar. Perhatian ke arah kebijakan fiskal dan diplomatik Pemerintah Indonesia dalam menyikapi gejolak global akan menjadi kunci arah pasar dalam beberapa hari ke depan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/27/541e87d7-6f71-4428-9b44-53033a5d3092_png.png)
Faktor utama yang memicu aksi jual saham besar-besaran oleh investor, menurut Hendra, masih terkait pengumuman kebijakan tarif dagang baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menaikkan tarif terhadap sejumlah produk dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meskipun secara proporsi ekspor ke AS hanya sekitar 9,9 persen dari total ekspor Indonesia, Hendra menilai, pasar meresponsnya secara berlebihan karena sentimen ini menyiratkan ketegangan dagang global yang kembali meningkat, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia, serta gangguan rantai pasok.
”Ketiadaan reaksi cepat dari Pemerintah RI sebelum pasar dibuka juga membuat pelaku pasar kehilangan kepercayaan, dan ini diperburuk oleh faktor teknikal, seperti margin call dan forced sell, terutama pada saham-saham unggulan yang selama ini menopang indeks,” ujarnya.
Meski demikian, di balik tekanan ini terdapat sejumlah peluang dan sisi positif yang patut diperhatikan. Tekanan perang dagang menyebabkan harga minyak dunia turun hingga 21 persen, yang justru menguntungkan Indonesia sebagai negara importir migas karena dapat menghemat devisa hingga 4 miliar dollar AS.
Selain itu, imbal hasil obligasi AS yang turun mendorong arus modal ke negara berkembang, membuka peluang bagi pasar obligasi Indonesia untuk menguat. Dollar AS yang melemah juga memberikan ruang stabilisasi bagi nilai tukar rupiah, yang saat ini ada di kisaran Rp 16.800 per dollar AS, setelah sempat melampaui Rp 17.000 per dollar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/08/9532fcb9-4170-409f-81d2-99a81b5f1ccc_jpg.jpg)
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam keterangannya menilai, kebijakan tarif Trump memperburuk ketidakpastian global. Tindakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan global melalui penurunan volume perdagangan internasional dan peningkatan tekanan biaya di berbagai sektor. ”Sentimen pasar kemungkinan tetap rentan dalam jangka pendek, seiring respons balasan dari negara-negara mitra dagang utama meningkatkan risiko konflik berkepanjangan,” ujarnya.
Indonesia yang termasuk salah satu negara yang terdampak dengan pengenaan tarif atas ekspor ke AS berisiko menekan kinerja ekspor nasional, terutama untuk produk-produk manufaktur (tekstil, alas kaki, dan elektronik) yang memiliki eksposur tinggi ke pasar AS. ”Tekanan terhadap ekspor dapat memperburuk defisit transaksi berjalan dan menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah,” ucap Andry.
Secara keseluruhan, ketidakpastian global dan meningkatnya risiko diperkirakan mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik. Mandiri, kata Andry, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.610 per dollar AS hingga Rp 16.840 per dollar AS. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 7,1 persen-7,3 persen dalam jangka pendek.
Bursa saham di luar negeri juga masih fluktuatif. Indeks pasar saham di Asia bergerak bervariasi pada pembukaan perdagangan pagi hari ini. Indeks Hang Seng menguat sebesar 2,38 persen ke level 20.299, indeks Nikkei menguat sebesar 6,54 persen ke level 33.174, sedangkan Indeks Taiwan TAIEX melemah 2,9 persen ke 18.862.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/13f1643d-0633-44b4-bcbe-d160fc3f113b_png.png)
Kondisi darurat di pasar saham sejauh ini dimitigasi BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengubah aturan trading halt dan batas minimum penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB). Perubahan ini dilakukan dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Penyesuaian kebijakan terkait penghentian sementara pelaksanaan perdagangan efek dilakukan ketika terjadi penurunan sangat tajam atas IHSG dalam satu hari bursa hingga lebih dari 8 persen. Hal ini diubah dari batasan awal sebelumnya sebesar 5 persen. Penghentian perdagangan sementara dilakukan selama 30 menit.
Apabila IHSG mengalami penurunan lanjutan hingga lebih dari 15 persen, trading halt selama 30 menit dapat kembali dilakukan. Hal ini mengoreksi batasan sebelumnya yang sebesar 10 persen. Selanjutnya, bursa berhak membekukan perdagangan apabila IHSG menurun hingga lebih dari 20 persen, dengan ketentuan dilakukan sampai akhir sesi perdagangan atau lebih dari satu sesi perdagangan setelah mendapat persetujuan atau perintah OJK.
Terkait dengan penyesuaian batasan persentase ARB, disesuaikan menjadi 15 persen dari 35 persen pada saham di papan utama, lalu persentase sama untuk saham di papan pengembangan yang sebelumnya 25 persen, dan perubahan ARB menjadi 15 persen dari 20 persen untuk saham papan ekonomi baru.
Penyesuaian batasan persentase ARB juga diterapkan pada efek di produk exchange-traded fund (ETF) serta Dana Investasi Real Estat (DIRE) untuk seluruh rentang harga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/fc0125f6-56ef-4da6-8f8b-7adf7380c8aa_jpg.jpg)
Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa, mengatakan, kebijakan ini diubah untuk menanggapi kondisi darurat di pasar saham global beberapa pekan terakhir. Menurut catatannya, bursa dan indeks saham di banyak negara menurun 5-11 persen sejak pekan terakhir di Maret 2025.
Kemudian, Iman menuturkan, BEI melakukan mini survei kepada pelaku pasar selama libur Lebaran. ”Penyesuaian ini diberlakukan untuk memberi ruang likuiditas bagi pelaku pasar dan investor agar memberi waktu untuk merespons informasi yang ada di market,” tuturnya.
Untuk jangka menengah dan panjang, BEI juga menyarankan tiga fasilitas yang bisa dimanfaatkan pelaku pasar untuk memitigasi pelemahan bursa. Pertama, diversifikasi produk investasi di bursa, termasuk structure warrant, single stock futures, dan ETF emas.
”Kedua, beberapa instrumen likuiditas, seperti liquidity provider, juga sedang kami tinjau, ini kami sedang lakukan juga. Terus terang kami sedang melihat bagaimana rencana dalam diskusi dengan OJK,” katanya.
Terakhir, lanjut Iman, bursa juga memperhatikan produk eksisting dan aksi penawaran saham perdana atau IPO yang akan ditingkatkan dengan produk berkualitas dan ukuran aset yang cukup besar.
”Tahun ini, kita kedatangan perusahaan lighthouse, yaitu perusahaan yang market cap-nya di atas Rp 3 triliun. Makin banyak perusahaan jenis ini bagus bagi investor yang bakal memiliki alternatif investasi. Misalnya, ketika market-nya turun, mereka bisa membeli produk-produk derivatif sehingga pasar kita lebih bergairah,” pungkasnya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .