Beredarnya Deschamps sebagai calon kuat pengganti Alvaro Arbeloa menandakan beberapa hal. Kebutuhan mencari pemadam krisis membenamkan Real pada identitas lamanya.
13 Apr 2026 12:40 WIB · Olahraga
AP
Bukan hal yang mengejutkan saat nama Didier Deschamps muncul sebagai salah satu calon kuat pengganti Alvaro Arbeloa. Pelatih timnas Perancis itu punya kepiawaian sebagai pemadam krisis. Di sisi lain, penunjukannya mencerminkan watak Real sebagai tim yang selalu berkompromi terhadap pemain bintang.
Kesempatan bagi Arbeloa mempertahankan kursinya sebagai pelatih Real semakin menipis menyusul Barcelona yang hampir pasti menjuarai Liga Spanyol. Selain kehilangan trofi liga, Real sudah lebih dulu tersingkir dari Piala Raja Spanyol. Di Liga Champions Eropa pun, peluang Real melaju ke semifinal kian berat setelah takluk 1-2 oleh Bayern Muenchen di kandang sendiri.
Mengakhiri musim tanpa trofi bukanlah kebiasaan umum bagi klub sebesar Real. Oleh karena itulah manajemen Real dikabarkan mulai menyisir calon-calon pengganti Arbeloa. Nama Juergen Klopp, mantan pelatih Liverpool, telah lebih dulu mengemuka beberapa bulan lalu. Terbaru, Deschamps juga dikabarkan masuk radar manajemen Real.
”Real Madrid telah mulai mengincar target pelatih menjelang musim panas, dengan Juergen Klopp dan Mauricio Pochettino berada di urutan teratas daftar saat ini. Namun, masih jauh dari kepastian bahwa mereka akan tersedia. Itulah sebabnya, para petinggi klub mengalihkan perhatian mereka kepada seseorang yang kemungkinan besar akan bersedia,” demikian laporan dari Football Espana, Senin (13/4/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/21/9d0cfc70-2666-49bb-857e-9fcd1a9c1b7f.jpg)
Kontrak Deschamps bersama timnas Perancis akan habis pada Juli mendatang. Laporan dari RMC Sport menyebut Deschamps berniat mencari tantangan baru selepas tidak lagi melatih Perancis. Pelatih berusia 57 tahun itu dianggap cocok menangani Real yang secara kebetulan dihuni banyak pemain Perancis, seperti Kylian Mbappe, Eduardo Camavinga, Aurelien Tchouemani, dan Ferland Mendy.
Deschamps masuk radar lantaran Real membutuhkan seseorang yang mampu mengendalikan ruang ganti yang egosentris. Namun, penunjukannya juga akan membawa risiko signifikan mengingat ia belum melatih di level klub sejak 2012.
Di samping memiliki karakter yang mampu meredam ego para pemain di ruang ganti, Deschamps dikenal punya reputasi yang lebih mentereng. Ia, secara alami, adalah pelatih yang lebih cenderung mengelola bakat dan meredakan krisis alih-alih sebagai ahli taktik revolusioner sebagaimana Pep Guardiola atau Roberto De Zerbi.
Ia mengambil alih kepemimpinan timnas Perancis selama periode yang menantang setelah masa-masa yang tidak konsisten di bawah Raymond Domenech dan Laurent Blanc. Tangan dinginnya berhasil mengembalikan tim ”Ayam Jantan” ke jajaran elite dunia.
Di level klub, Deschamps juga memiliki rekam jejak yang mengesankan. Ia memainkan peran kunci dalam kembalinya Juventus ke Serie A setelah degradasi akibat skandal Calciopoli. Deschamps pernah memenangi Ligue 1 bersama Olympique Marseille dan membawa Monaco ke final Liga Champions pada 2004 dengan mengalahkan Real Madrid dalam perjalanan menuju final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/e9d6c6ac-f3ec-47f5-81cf-81c8224d772c.jpg)
Karakternya yang penuh kompromi dan tahu cara mengendalikan ego pemain menjadikannya pilihan ideal bagi Real. Para pemain dengan nama besar cenderung lebih dilayani di Real. Xabi Alonso sudah membuktikannya dengan berakhir dipecat setelah berusaha menginternalisasi cara bermain yang meminta Vinicius Junior serta Mbappe untuk lebih banyak berlari dalam membantu pertahanan.
Di sisi lain, jika Deschamps pada akhirnya menggantikan Arbeloa, ini menandakan kehendak petinggi Real dalam mempertahankan status quo. Penunjukan Deschamps berarti Real mengulangi pola lama yang memberi kekuasaan besar kepada pemain.
Pola tersebut memang terbukti berhasil memberikan prestasi sebagaimana dipersembahkan Carlo Ancelotti saat memenangi Liga Champions dan Liga Spanyol pada 2024. Kelemahannya, pola atau model lama Real ini umumnya berlangsung singkat. Model ini tidak cocok digunakan untuk membangun tim dengan dominasi yang berkelanjutan seperti Manchester City bersama Guardiola.
Beredarnya nama Klopp sebagai pelatih masa depan Real mewujudkan harapan akan terbangunnya kebiasaan baru di Real. Klopp, seperti Alonso, bisa dikatakan sebagai pelatih dengan proyek jangka panjang. Mereka piawai dalam membangun sistem yang hasilnya tentu tidak akan bisa diraih dalam waktu singkat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/26/b84d2486-e441-4e8c-8483-1a9cce3bed4c_jpg.jpg)
Keputusan Real mempertahankan model lama, yang lebih mengutamakan kenyamanan pemain, sangat wajar mengingat mereka pernah mencoba dengan Alonso yang mengutamakan sistem dan akhirnya gagal total.
Akhir musim ini adalah waktu yang sangat krusial bagi Real dalam mengambil keputusan. Saat itu, Real akan berada pada persimpangan jalan, antara tetap mempertahankan identitas lama sebagai tim yang memfasilitasi keinginan pemain atau justru melakukan perubahan revolusioner dengan mendatangkan pelatih yang mengedepankan sistem tanpa ada pemain yang mendapat perlakuan khusus.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti