TIMUR TENGAH

Dilema Negara-negara Teluk dalam Segitiga Konflik AS-Israel dan Iran

Tetap pada posisi bertahan, salah. Membalas serangan Iran juga keliru. Negara-negara Teluk sedang dalam posisi dilematis. Sementara stok rudal pencegat menipis.

03 Mar 2026 16:45 WIB · Internasional

AP Photo/Altaf Qadri

Oleh Luki Aulia

Tak disangka, kini negara-negara Teluk berkalang dengan mimpi buruk yang selama ini tak terbayangkan akan benar-benar terjadi. Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, 28 Februari lalu, stabilitas dan keamanan kawasan Teluk diuji.

Selain ke Israel, serangan balasan Iran juga menyasar pangkalan militer dan kantor-kantor perwakilan AS di Teluk. Sejumlah kepentingan terkait AS terimbas, termasuk infrastruktur energi di kawasan itu.

Selain mengenai Kedutaan Besar AS di Kuwait dan Arab Saudi, drone-drone yang diduga milik Iran atau proksinya mengenai fasilitas minyak QatarEnergy dan Ras Tanura milik Aramco. Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab, pusat data Amazon AWS juga jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Terbaru kilang minyak di pelabuhan Oman pun tak luput dari hantaman drone bunuh diri.

Sudah ratusan rudal pencegat diluncurkan untuk menghadang rudal dan drone Iran. Dalam riuhnya pertarungan Iran melawan serangan AS-Israel, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Oman, harus bertahan dan perlu membela diri.

Missiles are seen in the skies over Doha on March 3, 2026. Qatar's military intercepted two ballistic missiles early in the morning of March 3, the country's defence ministry said in a statement, after AFP reporters heard loud explosions across Doha. (Photo by MAHMUD HAMS / AFP)

Meski terbuka pada peluang diplomasi, persis kondisi seperti inilah yang sejatinya tidak mereka inginkan. Perang di kawasan seperti yang saat ini terjadi merupakan momok besar, dan itulah alasan mereka berusaha keras mengupayakan diplomasi selama bertahun-tahun.

Terkait situasi terkini di Teluk, melalui tautan video, pada Minggu (1/3/2026), para menteri luar negeri GCC bertemu. Mereka mengkaji kerusakan akibat serangan dan membahas pemulihan stabilitas Teluk. GCC menyerukan agar serangan dihentikan sambil mengingatkan kawasan Teluk itu penting bagi stabilitas ekonomi dunia. Selama ini negara-negara Teluk mencitrakan diri sebagai oase stabilitas yang terisolasi dari krisis dan konflik negara-negara di Timur Tengah lainnya.

Akan tetapi, harian Al Jazeera menyebutkan negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit. Bila membalas Iran, mereka berisiko dianggap berperang bersama Israel. Sebaliknya, jika tetap pasif, mereka bisa habis diserang. Meski sepakat merespons agresi jika perlu, tetap saja ada yang meminta mereka menahan diri dan mengingatkan negara-negara Teluk tidak boleh ditarik ke dalam perang yang tidak diinginkan.

Ini perang AS dan Israel. Negara-negara Teluk hanya terjepit di tengah-tengah konflik tiga negara.

Jangan terseret

Mantan perdana menteri dan menteri luar negeri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber al-Thani, seperti dikutip Al Jazeera, memperingatkan GCC tidak boleh terseret ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran meskipun Teheran melanggar kedaulatan negara-negara Teluk dan merupakan penyerang.

”Ada kekuatan yang menginginkan negara-negara Dewan terlibat langsung dengan Iran. Jika terjadi bentrokan langsung antara negara-negara Teluk dan Iran, itu akan menguras sumber daya kedua pihak dan memberi kesempatan bagi banyak kekuatan untuk mengendalikan kita dengan dalih membantu kita keluar dari krisis,” ujarnya.

Workers clean debris from damage caused by an Iranian strike at the Fairmont hotel in Dubai on March 2, 2026. The United States hit hundreds of targets across Iran, and Israel expanded its bombing to Lebanon on March 2 as US President Donald Trump vowed to avenge the first US deaths in the war he launched to topple Tehran's ruling clerics. Iranian forces fired missiles and drones across the Middle East, killing people in Israel and the United Arab Emirates, in retaliation for the conflict that began Saturday with the death of Iran's supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei. (Photo by Fadel SENNA / AFP)

Pakar di King’s College London, Rob Geist Pinfold, berpendapat, jika negara-negara Teluk ikut berperang, reputasinya terancam. Selama ini negara-negara Teluk dipandang sebagai tempat perlindungan yang stabil dan dapat diprediksi untuk investasi dan pariwisata di wilayah yang bergejolak.

Kekhawatiran utama para pemimpin Teluk berpusat pada infrastruktur mereka yang paling rentan. Guru Besar Politik Timur Tengah di Universitas New York Abu Dhabi, Monica Marks, menganggap ancaman pada infrastruktur sosial dan energi sebagai skenario mimpi buruk yang sebenarnya. Apalagi jika sampai jaringan listrik, pabrik desalinasi air, dan infrastruktur energi rusak.

”Tanpa pendingin udara dan desalinasi air, negara-negara Teluk yang sangat panas dan kering kerontang pada dasarnya tidak layak huni. Tanpa infrastruktur energi, mereka tidak menguntungkan. Negara-negara Teluk akan mengambil langkah apa pun yang mereka anggap paling tidak membahayakan kepentingannya itu,” kata Marks.

Pinfold dan Marks memperkirakan negara-negara Teluk mungkin akan memilih untuk bertindak, tetapi dengan cara mereka sendiri. Mungkin mereka akan melakukannya melalui upaya bersama GCC seperti Peninsula Shield Force (PSF) ketimbang hanya membuka wilayah udara mereka untuk operasi AS dan Israel.

Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

PSF adalah pasukan gabungan yang dibentuk pada 1984 oleh GCC, yang kemudian berkembang menjadi Komando Militer Gabungan pada 2013. ”Mereka tidak ingin terlihat bekerja untuk Israel atau bekerja dengan Israel. Mereka ingin terlihat memimpin, bukan hanya mengikuti,” kata Pinfold.

Stok rudal pencegat menipis

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Senin (2/3/2026), mengatakan Iran tidak menyimpan dendam terhadap negara-negara Teluk dan tetap ingin menjalin hubungan baik dengan tetangga-tetangganya. Iran tidak punya pilihan karena tetangga-tetangganya itu mengizinkan militer AS beroperasi di wilayah mereka.

Ketika berkomunikasi dengan Menlu China Wang Yi, Araghchi mengatakan serangan Iran ke pangkalan militer AS di berbagai negara itu jangan dilihat sebagai serangan Iran terhadap negara-negara itu. Fokus Iran hanya AS.

Hanya saja, serangan rudal Iran itu tetap saja berisiko tinggi pada warga sipil. Bahkan, terbukti sudah ada rudal Iran yang nyasar ke lokasi lain. Untuk mencegat rudal Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) berusaha keras memperkuat pertahanan udaranya. Namun, mereka khawatir stoknya akan habis dalam waktu dekat.

Hingga Selasa (3/3/2026), UEA sudah mencegat sekitar 161 rudal balistik, 8 rudal jelajah, dan 645 pesawat nirawak. Kuwait mencegat 97 rudal balistik dan 283 pesawat nirawak. Bahrain mencegat 70 rudal dan 59 pesawat nirawak. Qatar menembak jatuh 7 rudal balistik, 5 pesawat nirawak, dan 2 pesawat tempur. Negara-negara Teluk selama ini bergantung pada sistem persenjataan MIM-104 Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Masalahnya, menurut harian Bloomberg News, stok rudal pencegat ini menipis dan mungkin hanya cukup sampai empat hari ke depan. Mengisi lagi stok rudal pencegat pun tidak gampang karena produksi THAAD dan Patriot saat ini lebih lambat ketimbang laju penggunaannya.

Infografik - Sistem Pertahanan Rudal Patriot

Qatar dan UEA berupaya membujuk Presiden AS Donald Trump untuk mencari jalan keluar dan mengakhiri perang secepatnya. Mereka juga meminta bantuan rudal tambahan, tetapi belum ada respons. Ahli di lembaga kajian Stimson Center, Kelly Grieco, di X mengatakan UEA sudah menghabiskan mayoritas stok rudal pencegat.

”Rudal pencegat THAAD dan Patriot mahal harganya dan butuh waktu bertahun-tahun untuk membuatnya,” tulisnya. Grieco memperkirakan UEA akan menghabiskan biaya antara 1,45 miliar dolar AS dan 2,28 miliar dolar AS untuk mencegat serangan Iran dalam dua hari saja.

Salah satu pintu yang diketuk adalah Roma. Pemerintah Italia menerima permintaan dari beberapa negara Teluk untuk mengirim sistem pertahanan udara dan sistem pencegat pesawat nirawak. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengatakan permintaan itu termasuk sistem SAMP/T, baterai Perancis-Italia yang dikenal sebagai MAMBA.

Alat ini dapat melacak puluhan target dan mencegat 10 target secara bersamaan. Ini satu-satunya sistem pertahanan buatan Eropa yang mampu mencegat rudal balistik. Italia sudah memasok sistem pertahanan itu ke Ukraina sehingga mungkin akan kesulitan untuk juga menyediakannya untuk negara-negara Teluk.

”Ini masalah yang sulit mengingat Italia selama ini memberikan sistem ini ke Ukraina. Sementara stok yang ada juga tak banyak. Stok yang ada disimpan untuk jaga-jaga jika ada kebutuhan di Eropa,” kata Crosetto. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar