Setelah Kedutaan Besar AS di Kuwait, Kedutaan Besar AS di Arab Saudi menjadi target serangan di tengah eskalasi pembalasan Iran terhadap AS-Israel.
03 Mar 2026 13:35 WIB · Internasional
AP Photo/Efrem Lukatsky
Catatan Editor:
Berita ini terus diperbarui dari versi awalnya, berdasarkan laporan perkembangan di lapangan.
_______
DUBAI, SELASA — Iran menyerang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, dengan pesawat nirawak (drone), Selasa (3/3/2026) dini hari waktu setempat. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebutkan, serangan dua pesawat nirawak itu menyebabkan ”kebakaran terbatas” dan kerusakan kecil di kantor tersebut.
Ini kedutaan besar AS kedua di negara-negara Arab Teluk yang diserang di tengah pembalasan Iran terhadap perang yang dilancarkan AS dan Israel. Pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait juga terbakar saat Iran melancarkan serangan balasan dengan menyasar fasilitas-fasilitas AS dan Israel.
Akibat serangan pesawat nirawak tersebut, hari Selasa ini Washington menutup kantor kedutaannya di Arab Saudi. Adapun Kedutaan Besar AS di Kuwait telah ditutup hingga waktu yang tidak ditetapkan, dan seluruh layanan konsuler dibatalkan.
Washington juga memerintahkan sebagian staf diplomatiknya untuk meninggalkan Qatar, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Jordania. Departemen Luar Negeri AS pun telah mengeluarkan imbauan kepada warga AS untuk meninggalkan negara-negara Timur Tengah terkait faktor keamanan.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi tidak menjelaskan secara detail serangan drone Iran ke Kedutaan Besar AS di Riyadh. Kepada kantor berita AFP, dua saksi mata mengungkapkan, mereka melihat kobaran api di sekitar kantor kedutaan besar AS.
Kejadian awalnya, terlihat asap mengepul di gedung kedutaan besar AS dan terdengar ledakan di kawasan diplomatik, lokasi kantor-kantor kedutaan negara asing di Riyadh. Sumber yang dekat dengan militer Arab Saudi yang tak mau disebut identitasnya kepada AFP mengungkapkan, pertahanan udara Arab Saudi menangkis empat drone yang menyasar kawasan diplomatik itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/a2c1bca43bf3589920d1202dc36df52a-Saudi_Arabia_Iran_136598568.jpg)
Tak lama setelah insiden tersebut, Kedutaan AS mengeluarkan peringatan dan instruksi untuk berlindung bagi warganya di Jeddah, Riyadh, dan Dhahran. Kedutaan AS juga membatasi kunjungan yang tidak penting ke instalasi-instalasi negaranya di kawasan Timur Tengah.
Serangan drone Iran di Arab Saudi itu terjadi bersamaan dengan gelombang serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke negara-negara Arab Teluk. Seorang diplomat di Kuwait yang tak mau disebut namanya mengatakan, pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait City diserang oleh sejumlah drone.
Di Abu Dhabi, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengungkapkan, mereka tengah menangani serangan rudal-rudal balistik dari Iran. Di Doha, melalui pernyataan tertulis, Kementerian Pertahanan Qatar menyebutkan menangkis dua rudal balistik pada Selasa dini hari.
Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab dilaporkan, pusat data Amazon AWS jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Dampak serangan itu, layanan Amazon dari pusat data di kedua negara itu terganggu.
Jika pangkalan yang berlokasi di negara Anda digunakan melawan kami dan AS melancarkan serangan dengan mengandalkan kekuatan itu, kami akan menyerang pangkalan itu. (Ali Larijani)
Iran menegaskan, sasaran pembalasan adalah seluruh aset AS di sejumlah negara Timur Tengah. Pembalasan Iran untuk memastikan AS-Eropa berpikir ulang membantu Israel menyerang Iran di masa depan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Brigadir Jenderal (Purn) Ali Larijani menyatakan, Iran tak menyerang tetangganya di kawasan. Iran menyerang aset-aset AS di kawasan.
”Jika pangkalan yang berlokasi di negara Anda digunakan melawan kami dan AS melancarkan serangan dengan mengandalkan kekuatan itu, kami akan menyerang pangkalan itu,” tulisnya di media sosial, Senin (Kompas.id, 2/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/02/1e5ee1e8-1d56-48d1-994d-9ee5228e34aa.jpg)
Iran memperluas serangan balasan itu, terutama setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel pada Minggu (1/3/2026). Eskalasi serangan balasan Iran ini terjadi bersamaan dengan terus intensifnya gempuran AS dan Israel ke Iran.
Iran dilaporkan juga menyerang fasilitas-fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi serta sejumlah kapal di Selat Hormuz. ”Selat Hormuz ditutup,” tegas Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, Penasihat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). “Jangan datang ke kawasan ini lagi”.
Departemen Luar Negeri AS mengimbau warga AS untuk meninggalkan negara-negara Timur Tengah terkait isu keselamatan. Trump menyebutkan, serangan ke Iran diperkirakan akan berlangsung hingga empat pekan atau ”bisa juga lebih lama”.
Militer AS mengonfirmasi, enam anggota tentara AS tewas. Menurut seorang pejabat AS, mereka berasal dari satu unit logistik di Kuwait. Di tempat lain, tiga orang dilaporkan tewas di UEA serta masing-masing satu orang di Kuwait dan Bahrain.
IRGC, Selasa (3/3/2026), mengatakan, angkatan lautnya telah menghancurkan gedung komando utama dan markas pangkalan AS di Bahrain melalui gelombang ke-14 ”Operasi Janji Kebenaran 4”. Melalui pernyataan tertulis, IRGC menyebutkan, mereka melancarkan serangan drone dan rudal dalam skala besar di pangkalan AS di area Sheikh Isa, Selasa dini hari, dengan 20 drone dan tiga rudal.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum mengeluarkan tanggapan atas pernyataan IRGC tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/28/041c5ab45d6f7d5b6b4394c16234686a-TOPSHOT_BAHRAIN_IRAN_ISRAEL_US_CONFLICT_136526590.jpg)
Masyarakat Bulan Sabit Iran mengatakan, serangan AS dan Israel telah menewaskan sedikitnya 555 orang. Di Israel, beberapa lokasi juga dihantam rudal-rudal Iran dan menyebabkan sedikitnya 11 orang tewas.
Di Lebanon, serangan Israel sebagai pembalasan atas serangan Hizbullah menyebabkan puluhan orang tewas.
”Eskalasi militer akan memaksa banyak keluarga mengungsi dari rumah-rumah mereka dan bakal sangat memukul warga sipil,” kata Amy Pope, Direktur Jenderal Organisasi Migrasi Internasional (IOM), Selasa.
Ia meminta komunitas internasional untuk mendesak diadakannya deeskalasi. ”Jutaan orang sudah menjadi pengungsi di kawasan tersebut,” ujar Pope.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti