Dilema Tuchel dari Lini Tengah Timnas Inggris

Setelah hampir setahun melatih Inggris dan sembilan bulan jelang Piala Dunia, Tuchel terus mengotak-atik susunan lini tengah ”Tiga Singa”, termasuk di jeda kali ini.

05 Sep 2025 18:22 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

BIRMINGHAM, JUMAT — Sembilan bulan menjelang Piala Dunia 2026, Pelatih Tim Nasional Sepak Bola Inggris Thomas Tuchel masih belum menemukan komposisi terbaik di lini tengah. Pemanggilan 13 gelandang dalam tiga jeda internasional terakhir memperjelas kebimbangan di kubu tim ”Tiga Singa”.

Perjalanan Inggris di Grup K kualifikasi Piala Dunia segera berlanjut. Mereka terlebih dulu menjamu Andorra di Stadion Villa Park, Birmingham, Sabtu (6/9/2025) pukul 23.00 WIB. Setelah itu, Harry Kane dan rekan-rekan akan bertandang ke Serbia pada Rabu (10/9/2025) dini hari WIB.

Menghadapi jadwal itu, Tuchel kembali bereksperimen di lini tengah. Dia memanggil dua gelandang untuk pertama kali ke dalam skuadnya, yaitu Adam Wharton (Crystal Palace) dan Elliot Anderson (Nottingham Forest). ”Saatnya lebih banyak kompetisi. Waktunya untuk darah segar,” kata Tuchel.

Wharton, yang berusia 21 tahun, terpaksa mundur karena cedera. Posisinya digantikan gelandang AC Milan, Ruben Loftus-Cheek, mantan anak asuh Tuchel ketika di Chelsea. Loftus-Cheek, yang terakhir masuk timnas pada November 2018, menjadi gelandang ke-13 yang dipanggil timnas di era Tuchel.

”Saya sedang mengunjungi keluarga di Inggris, lalu dapat pesan, ’di mana kamu?’ Sudah sangat lama sejak saya di sini (timnas). Saya bermain untuk Thomas selama satu setengah musim. Kami melewati masa-masa indah. Senang bisa kembali dan bersatu kembali dengannya,” tutur Loftus-Cheek.

Kemunculan nama-nama baru di lini tengah tidak terlepas dari ketidakhadiran Cole Palmer dan Jude Bellingham yang masih cedera. Beberapa pemain yang sempat dipanggil, Curtis Jones dan Kobbie Mainoo, tidak dibawa karena minim menit bermain bersama klub mereka masing-masing.

Gelandang Chelsea Ruben Loftus-Cheek (kiri) menguasai bola saat dibayangi gelandang Tottenham Hotspurs Ryan Sessegnon dalam pekan kedua Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, London, Senin (15/8/2022) dini hari. Derbi London itu berakhir imbang 2-2.

Tuchel berkata, Wharton dan Anderson dibawa karena sangat berpotensi. Mereka juga berperan besar dalam keberhasilan klub masing-masing pada musim lalu. Anderson, 22 tahun, lebih spesial karena baru saja mengantar tim ”Tiga Singa Muda” berjaya di Piala Eropa U-21 2025, Juni lalu.

Jika dibandingkan Wharton, Loftus-Cheek yang sudah berusia 29 tahun memang terbatas dari sisi potensi. Meskipun begitu, saat bugar, dia selalu diandalkan Milan sejak musim 2023-2024. Loftus-Cheek layak dipanggil timnas, apalagi dengan chemistry yang sudah terbentuk bersama Tuchel.

Di sisi lain, ada kesamaan antara Anderson dan Loftus-Cheek. Mereka sama-sama bertipe gelandang serba bisa. Anderson bisa menjadi gelandang serang dan jangkar, sekaligus bermain di sisi sayap. Fleksibilitas itu serupa Loftus-Cheek yang sempat diandalkan sebagai bek sayap oleh Tuchel.

”Ketika datang ke Chelsea, dia (Tuchel) meminta saya bermain di posisi bek sayap. Saya tidak mau, tetapi tetap bermain di posisi itu pada akhirnya. Saya bermain di banyak posisi di bawah Tuchel. Sejak di Milan, saya terbiasa bermain lebih tinggi dan dekat dengan striker,” kata Loftus-Cheek yang siap diturunkan di mana pun.

Fleksibilitas itu akan membantu keleluasaan taktik sang pelatih. Permainan Inggris masih sangat kaku sejak dipimpin Tuchel pada Oktober lalu. Serangan mereka mudah dibaca lawan, seperti saat menang tipis 1-0 atas Andorra dalam laga kualifikasi terakhir pada Juni lalu.

Pada laga versus tim peringkat ke-174 dunia itu, Inggris mampu mendominasi penguasaan bola hingga 83 persen. Mereka juga mencatatkan 20 tembakan. Akan tetapi, mereka hanya mencetak satu gol lewat Kane pada menit ke-50. Penampilan monoton tersebut banyak mengundang kritik.

Pemain Newcastle United Elliot Anderson (kiri) terjatuh setelah berebut bola dengan dengan pemain Liverpool James Milner dalam pertandingan Liga Inggris antara Liverpool dan Newcastle United di Stadion Anfield, Liverpool, Kamis (1/9/2022). Liverpool akan menjalani laga derbi Merseyside ke kandang Everton di Stadion Goodison Park, Sabtu (3/9/2022) malam WIB. ***Newcastle's Elliot Anderson, left, falls as he battles for control of the ball with Liverpool's James Milner during the English Premier League soccer match between Liverpool and Newcastle United at Anfield stadium in Liverpool, England, England, Wednesday, Aug. 31, 2022. (AP Photo/Jon Super)

Dalam dua pertemuan sebelumnya versus Andorra, pada 2021, Inggris berhasil menang dengan total agregat 9-0. Ketika itu, Tiga Singa masih dilatih Gareth Southgate yang dikenal pragmatis. ”Kami harus meningkatkan banyak hal. Itu tujuan kami di dua laga kualifikasi ini,” ucap Tuchel.

Terakhir kali bertanding, pertengahan Juni lalu, Inggris menderita kekalahan 1-3 dari Senegal dalam laga uji coba di kandang sendiri. Tuchel bereksperimen menggunakan formasi 4-4-2, dari biasanya 4-2-3-1, dengan menampilkan duet gelandang Declan Rice dan Conor Gallagher.

Terlepas dari kehadiran nama-nama baru, para gelandang veteran juga masih dipercaya oleh Tuchel. Rice dan Jordan Henderson kembali dipanggil untuk ketiga kali beruntun oleh sang pelatih. Pemain sayap Arsenal Eberechi Eze turut dipanggil. Adapun Eze juga bisa bermain sebagai gelandang serang.

Wayne Ronney, mantan penyerang Inggris, berkata, Tuchel masih jauh dari potensi terbaik. Laga kualifikasi sejauh ini, yaitu melawan Latvia, Andorra, dan Albania, tidak bisa menjadi gambaran utuh kehebatan sang pelatih. ”Saya pikir dia adalah seorang pelatih yang hebat,” ujarnya kepada BBC Sport.

”Terkadang, Anda sudah tahu ketika tim akan menang. Itu akan membosankan. Ada 10 pemain bertahan lawan dan anda harus membongkar itu. Tuchel butuh pertandingan yang layak untuk menunjukkan kemampuannya. Saya pikir, dia akan baik-baik saja,” ucap Rooney. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra