Perhatian utama Zelenskyy kini tertuju pada pembicaraan Washington-Moskwa guna menghentikan perang Ukraina-Rusia. Ada kecenderungan Trump tak mau melibatkannya.
04 Feb 2025 08:10 WIB · Opini
Kabar penarikan tentara Korea Utara dari Kursk tidak serta-merta membawa angin segar bagi Ukraina. Kyiv menghadapi dilema pelik seiring pembicaraan AS-Rusia.
Kabar penarikan tentara Korut dari Kursk, Rusia, disampaikan juru bicara pasukan operasi khusus Ukraina, Kolonel Oleksandr Kindratenko, Jumat (31/1/2025). Pernyataan serupa telah dia sampaikan sepekan sebelumnya. Dalam tiga minggu terakhir, kata Kindratenko, pasukan Ukraina tidak lagi melihat keberadaan pasukan Korut di Kursk.
Kyiv meyakini, pasukan Korut itu mengalami kerugian besar setelah dikerahkan di medan pertempuran Kursk sejak Oktober 2024 untuk memperkuat Rusia. Apakah kabar ini, jika benar, menjadi angin segar bagi Ukraina dalam mempertahankan penguasaan atas 1.376 kilometer persegi wilayah Kursk?
Seperti diketahui, Ukraina melancarkan serangan kilat dan mengejutkan pada Agustus 2024 ke Kursk hingga menguasai sebagian wilayah Rusia tersebut. Sejak itu, Moskwa berupaya merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/01/f76922132e06e24f05a119bd69f2a728-Russia_Ukraine_126967227.jpg)
Pada Oktober lalu, seperti disebut Ukraina, Amerika Serikat, dan Korea Selatan, kubu Rusia dipasok lebih dari 11.000 tentara Korut sebagai implementasi kesepakatan pertahanan bersama (mutual defense) yang ditandatangani Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un di Pyongyang, Juni 2024. Keduanya sepakat, jika salah satu pihak diserang oleh kekuatan asing, pihak lain akan membantu.
Serangan dan penguasaan Ukraina atas wilayah Rusia di Kursk menjadi dasar pemberlakuan pakta pertahanan bersama itu. Setelah hampir tiga bulan, demikian kabar dari pejabat militer Ukraina dan Barat, tentara Korut itu ditarik dari Kursk. Moscow Times, mengutip pejabat Ukraina dan AS yang dilansir The New York Times, Kamis (30/1/2025), menyebut 4.000 tentara Korut tewas, terluka, hilang, atau tertawan.
Masalah besar bagi Zelenskyy, ada kecenderungan dia tidak dilibatkan dalam perundingan Washington-Moskwa.
Rusia ataupun Korut hingga kini tak pernah mengakui secara resmi keberadaan tentara Korut di palagan perang Ukraina-Rusia. Menyusul serangan balik yang dilancarkan Rusia, wilayah penguasaan Ukraina di Kursk pada awal Desember 2024 berkurang jadi 800 kilometer persegi (Kompas, 2/2/2025).
Namun, tampaknya bukan itu kekhawatiran utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat ini. Seperti disampaikannya dalam wawancara khusus dengan Associated Press, Sabtu (1/2/2025), perhatian utamanya kini tertuju pada pembicaraan Washington-Moskwa guna menghentikan perang Ukraina-Rusia. Presiden AS Donald Trump, setelah untuk sementara bisa menghentikan perang Hamas-Israel di Gaza, juga terpacu menghentikan perang di Ukraina sesuai janji kampanyenya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/a904799136f99fed0c70a08865d215bf-Russia_Ukraine_Talks_Outlook_126822390.jpg)
Masalah besar bagi Zelenskyy, ada kecenderungan dia tidak dilibatkan dalam perundingan Washington-Moskwa. Cara pandang Trump dan pendahulunya, Joe Biden, dalam perang Ukraina-Rusia sangat kontras. Trump mengakui isu keamanan soal perluasan keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)—disebut Moskwa sebagai pemicu awal serangan ke Ukraina, Februari 2022—yang diangkat Rusia.
Bukan itu saja, Gedung Putih era Trump juga mempertimbangkan narasi Moskwa yang mempersoalkan keabsahan Zelenskyy, karena masa jabatannya telah berakhir, sebagai presiden Ukraina. Ditambah wilayah negaranya telah berkurang seperlima karena direbut Rusia, posisi Zelenskyy dan Ukraina benar-benar pelik. Belum lagi situasi di medan pertempuran yang menyulitkan Ukraina.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Adi Prinantyo