Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan agar AS dan Rusia tidak meminggirkan negaranya dalam perundingan damai untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia.
02 Feb 2025 20:36 WIB · Internasional
KYIV, MINGGU — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa perundingan untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia akan sangat berbahaya jika tidak mengikutsertakan negaranya. Dia mendorong pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump agar mendesak Rusia ke meja perundingan dengan ancaman sanksi lebih berat yang menyasar energi, sistem keuangan, dan perbankan Moskwa.
Pada saat bersamaan, lanjut Zelenskyy, Gedung Putih diharapkan terus memberikan dukungan berkelanjutan kepada militer dan perjuangan Ukraina melawan Rusia. Bukan sebaliknya, meminggirkan Ukraina dan bahkan dirinya dalam perundingan damai dengan Rusia. Pada 24 Februari 2025, invasi Rusia ke Ukraina memasuki tahun keempat.
Pernyataan Zelenskyy tersebut menanggapi komentar Trump, Jumat (31/1/2025), yang menyatakan bahwa sejumlah pejabat Gedung Putih dan Rusia mulai menggelar pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
”Mereka mungkin memiliki hubungan antara mereka sendiri, tetapi berbicara tentang Ukraina tanpa kami, berbahaya bagi semua orang,” kata Zelenskyy, Sabtu (1/2/2025). Peringatan ini disampaikan Zelenskyy dalam wawancara khusus dengan kantor berita The Associated Press (AP), Sabtu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/0a1e27821c45ddeb97c636baa4797b89-The_AP_Interview_Zelenskyy_127198258.jpg)
Peringatan Zelenskyy muncul setelah dalam sepekan terakhir mencuat isu kemungkinan perundingan damai itu terjadi hanya antara Gedung Putih dan Kremlin. Intensitas komunikasi Washington-Moskwa dalam beberapa hari terakhir ini cenderung meminggirkan Ukraina. Proses pembicaraannya juga mencoba menihilkan keberadaan Zelenskyy.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pernyataan, Selasa (28/1/2025), mengatakan, dirinya tidak mau berbicara langsung dengan Zelenskyy dalam proses negosiasi. Jika Zelenskyy berkeras untuk terlibat dalam proses negosiasi, Putin akan mengirimkan pejabat lain. Di mata Putin, Zelenksyy bukan lagi pemimpin sah Ukraina karena masa jabatannya telah berakhir selama darurat militer.
”Jika ada keinginan untuk berunding dan menemukan kompromi, biarkan siapa pun memimpin perundingan di sana. Tentu saja, kami akan berjuang untuk sesuatu yang cocok bagi kami, sesuatu yang sesuai dengan kepentingan kami,” kata Putin.
Seorang sumber di kalangan Pemerintah Ukraina mengatakan, Putin menggunakan isu pemilu sebagai alasan untuk mengganggu negosiasi di masa mendatang. Putin dianggap berupaya menjebak Ukraina.
”(Dia) sedang membuat jebakan, mengklaim bahwa jika Ukraina tidak menyelenggarakan pemilu, dia (Putin) nantinya dapat mengabaikan perjanjian apa pun,” kata sumber tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/ae0404f840723c05bc8305b2aaf1e6a7-Russia_Putin_127138536.jpg)
Wacana tidak sahnya pemerintahan Zelenskyy saat ini dipertimbangkan oleh Gedung Putih. Utusan Khusus Trump untuk Ukraina dan Rusia, Keith Kellogg, mengatakan, pemilihan presiden dan parlemen Ukraina yang selama masa perang telah ditunda perlu segera dilaksanakan.
”Sebagian besar negara demokrasi menyelenggarakan pemilihan umum di masa perang. Saya pikir penting bagi mereka (Ukraina) untuk melakukannya,” kata Kellogg.
Masa jabatan Zelenskyy seharusnya berakhir pada tahun 2024. Akan tetapi, berdasarkan dekrit darurat militer tahun 2022, hal itu tidak bisa dilaksanakan.
Beberapa mantan pejabat pemerintahan senior AS era Presiden Joe Biden mengatakan, Gedung Putih pernah mengangkat isu penyelenggaraan pemilu ini tahun 2023 dan 2024. Sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih, kata dua mantan pejabat senior tersebut, telah memberi tahu rekan mereka di kalangan pejabat Ukraina bahwa pemilu sangat penting untuk menegakkan demokrasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/a904799136f99fed0c70a08865d215bf-Russia_Ukraine_Talks_Outlook_126822390.jpg)
Akan tetapi, hal itu ditolak oleh sejumlah pejabat di Kyiv. Mereka beralasan penyelenggaraan pemilihan umum untuk mengganti presiden dan parlemen akan mengakibatkan perpecahan di Ukraina. Perpecahan itu tidak hanya akan terjadi di masyarakat, tetapi juga di kalangan pengambil keputusan.
Selain itu, Pemerintah Ukraina mengkhawatirkan potensi meluasnya pengaruh Kremlin saat pemilu berlangsung.
Kekhawatiran Zelenskyy cukup beralasan, terutama setelah Trump mengaku dirinya bisa memahami posisi Rusia yang menentang perluasaan keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Rencana NATO memasukkan Ukraina sebagai anggotanya sudah ditolak Rusia sejak lama.
Sebaliknya, Trump menyebut bahwa sekutu AS di NATO dan Presiden Joe Biden menutup mata terhadap penolakan Rusia. ”Kemudian Rusia mendapati seseorang (NATO) tepat di depan pintu mereka. Saya dapat memahami perasaan mereka tentang itu,” kata Trump.
Tak hanya itu, kunjungan Kellogg ke Ukraina pun ditunda karena ”alasan hukum”. Penundaan itu juga diikuti pembekuan bantuan asing secara mendadak yang efektif menyebabkan terhentinya sejumlah proyek organisasi Ukraina.
Zelenskyy memperingatkan intensitas komunikasi AS-Rusia jangan sampai membuat Kremlin mengambil alih kendali perundingan untuk mengakhiri perang. Jika hal itu terjadi, Ukraina menjadi pihak yang paling dirugikan.
Menurut Zelenskyy, perundingan perdamaian idealnya juga melibatkan negara-negara Eropa Barat anggota Uni Eropa dan NATO. ”Sejujurnya, suara Uni Eropa juga harus ada di sana. Saya pikir itu akan adil, efektif,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/28/641a9646-7988-4f52-a0f3-7047bf0edae0.png)
Zelenskyy bersikukuh, keanggotaan Ukraina di NATO adalah pilihan yang masuk akal bagi semua pihak, termasuk Trump yang akan diuntungkan secara geopolitik. ”Ini akan memberi pesan bahwa bukan Rusia yang memutuskan siapa yang harus masuk NATO dan siapa yang tidak, tetapi AS. Saya pikir, hal itu akan menjadi kemenangan besar bagi Trump,” kata Zelenskyy.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, seperti dikutip laman Ukrinform, menyebut, militer negara tersebut terlibat 110 kali kontak bersenjata dengan militer Rusia di sejumlah wilayah. Angkatan Bersenjata Ukraina menyebut militer Rusia melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah, di antaranya Zapadne, Bilytske, Ulakly, Rozlyv, Vremivka, dan Novopil.
Serangan rudal Rusia ke Poltava, Sabtu (1/2/2025), menghancurkan sebuah blok apartemen. Jumlah korban tewas yang hingga saat ini berhasil diidentifikasi oleh Dinas Darurat Ukraina (SES) adalah 14 orang, termasuk dua anak-anak. Puluhan korban terluka berhasil diselamatkan.
”Sebuah blok apartemen dari lantai 1 hingga 5 hancur dan terjadi kebakaran. Bangunan-bangunan di dekatnya dan 12 mobil juga rusak. Operasi penyelamatan masih berlangsung,” sebut SES dalam laporannya.
Dilansir laman media Ukraina, Kyiv Independent, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung hingga Minggu (2/2/2025) pagi. Wali Kota Poltava, Kateryna Yamshcykova, mengatakan, ratusan anggota staf pemerintah dilibatkan dalam pencarian dan penyelamatan korban. Sebagian mereka diperkirakan masih berada di bawah reruntuhan bangunan apartemen tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/9bdb5a3a94d50b4980f9f1a2cd28f575-000_36WX4PG.jpg)
Kantor Kepresidenan Andriy Yermak menyebutkan, Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke beberapa wilayah semalam, menghantam bangunan tempat tinggal di Odesa, Kharkiv, dan Zaporizhzhia. ”Serangan terhadap bangunan tempat tinggal, warga sipil, taktik khas tentara Rusia,” tulisnya di Telegram.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan, Rusia meluncurkan 42 rudal berbagai jenis dan 123 pesawat nirawak serang dan pengalih jenis Shahed terhadap Ukraina dalam semalam. Sebanyak 56 unit pesawat nirawak ditembak jatuh, sementara 61 unit hilang di wilayah udara.
Presiden Zelenskyy mendesak mitra-mitra Ukraina untuk memperkuat pertahanan udara negara itu. ”Kami berupaya menarik lebih banyak sumber daya dan mitra untuk memperkuat perisai udara Ukraina. Perlindungan adalah prioritas mutlak. Masih banyak yang perlu dilakukan, tetapi setiap mitra kami di dunia yang membantu kami dalam hal ini adalah penyelamat,” kata Zelenskyy.
Poltava, yang terletak di Ukraina tengah, adalah tempat tinggal sekitar 300.000 penduduk. Kota ini berjarak sekitar 333 kilometer timur Kyiv dan sekitar 120 kilometer dari perbatasan dengan Rusia. Kota dan wilayah sekitarnya merupakan target rutin serangan pesawat nirawak dan rudal Rusia.
Serangan terbesar menewaskan sedikitnya 51 orang, melukai lebih dari 270 orang di Institut Komunikasi Militer Poltava pada 3 September 2024.
(AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul Hadi