Dingin dan Jengkel Direndam Banjir Bandung

Banjir dengan tingi 1-2 meter semakin mudah terjadi di Kabupaten Bandung. Sampah dan sedimentasi datang bersama air Sungai Citarum yang meluap.

09 Mar 2025 20:39 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Banjir merendam lebih dari 8.000 rumah warga Kabupaten Bandung di awal bulan ini. Berbagai program hingga infrastruktur sudah dibangun, tapi banjir masih saja datang bersama sampah dan sedimentasi.

Mutia Ulfa (26) menunjukan jari-jari kakinya yang keriput. Sudah dua hari terakhir dia hidup berteman banjir setinggi 1-1,5 meter.

”Jari saya sudah seperti nenek-nenek,” kata Mutia kedinginan, Minggu (9/3/2025).

Akan tetapi, salah seorang tetangganya yang berusia lanjut alias lansia segera menimpali keluhan itu. ”Lalu kalau jari kamu seperti nenek-nenek, jari saya ini kayak apa?” ujarnya sembari menunjuk jarinya yang memang keriput karena usia, bukan banjir.

Mendengar celotehan itu, gelak tawa pun pecah. Mutia yang tadinya lesu tertawa paling keras. Suasana yang awalnya muram di lantai 2 Masjid Baitul Ikhsan RW 006 Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, itu pun mendadak ceria.

Sebagian warga RW 006, Desa Citereup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bertahan di lantai dua rumah, Minggu (9/3/2025). Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke mesjid terdekat karena ketinggian air di beberapa titik mencapai 2 meter.

Sejak Jumat lalu, lantai 2 masjid itu menjadi harapan setidaknya 70 warga RW 006 saat banjir datang. Ruang kelas untuk tempat pengajian anak diubah menjadi kamar tidur. Di sana, tua dan muda berbagi tempat menghindar dari banjir.

Yamto Sukamto, Ketua RT 002 RW 006 Desa Citeureup, mengatakan, daerahnya sangat rawan banjir. Sungai Cigede hanya berjarak sekitar 100 meter. Tidak jauh, mengalir juga Sungai Cikapundung, Sungai Cisangkuy, dan Sungai Citarum. Selain sampah, sungai-sungai itu membawa sedimentasi dari Kota Bandung dan daerah lain di Kabupaten Bandung.

”Karena banyak sampah dan lumpur, sekarang setiap musim hujan sungai-sungai itu mudah meluap. Dulu, banjir seperti ini datang lima tahun sekali. Setelah 2020, banjir hingga 2 meter datang setiap musim hujan,” ujar Yamto.

Ribuan rumah

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, total ada 11 desa di Kecamatan Dayeuhkolot, Margahayu, Baleendah, dan Bojongsoang yang terendam banjir.

Sebanyak 8.043 rumah terendam mengganggu hidup 34.826 penghuninya. Sebanyak 653 orang memilih mengungsi akibat akses jalan menuju rumahnya tertutup banjir hingga 1,5-2 meter.

Namun, sebagian besar bertahan di rumah berlantai dua. Konsekuensinya, mereka bolak-balik menerjang banjir untuk tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

Warga mengayuh perahu yang dibuat dari busa styrofoam di Kampung Bojongasih, Desa Bojongasri, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/3/2025). Banjir kali ini merendam 8.043 rumah.

Salah satu warga yang bertahan di rumahnya adalah Neneng (55), warga Bojongasih, Desa Bojongasri, Kecamatan Bojongsoang. Siang itu, meski enggan, dia harus kembali menembus banjir. Ditemani anaknya, dia hendak membeli bahan makanan untuk buka puasa.

Tampang Neneng cemberut selama perjalanan menembus banjir sekitar 1 meter. Baju dan celana panjangnya basah kuyup. Hujan gerimis membasahi kerudungnya.

”Bu, ini Si Papah minta kolak,” kata anaknya mengulang permintaan ayahnya pada Neneng.

Mendengar permintaan suaminya, Neneng kesal. Dia menggerutu. Kolak memang khas untuk buka puasa. Namun, tidak mudah mencarinya di tengah banjir.

”Macam-macam. Kalau mau kolak, air banjir ini juga coklat,” ucap Neneng menganalogikan warna coklat sama dengan air banjir.

”Jangan marah-marah, Bu, nanti batal puasa,” kata anaknya.

Akan tetapi, Neneng sepertinya masih kesal. Dia masih saja menggerutu, tapi tidak jelas lagi apa yang dia ucapkan.

Kekesalan Neneng seperti mewakili kejengkelan warga Bojongasih lainnya yang selalu menjadi korban banjir.

Kondisi jalanan di Kampung Bojongasih, Desa Bojongasri, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/3/2025). Akibat banjir, aktivitas warga harus menggunakan perahu kayu, perahu karet, hingga perahu styrofoam.

Iwan (35), salah seorang warga Bojongasih, juga curhat saat menumpang perahu kayu untuk pulang ke rumah. Dia baru saja dari warung untuk membeli beberapa bungkus mi, 10 kilogram beras, dan seliter minyak goreng.

Iwan mengatakan masih memikirkan bagaimana membersihkan rumahnya dari banjir dan lumpur. Saat ini, rumahnya terendam banjir setinggi 50 cm. Dia dan keluarganya mesti mengungsi ke lantai 2.

”Hari ini malah mungkin air akan naik lebih tinggi. Ini sudah hujan lagi. Bingung harus bagaimana lagi,” ujar Iwan, mengusap wajahnya dari tetesan air hujan yang mulai turun.

Meski mendapat penghasilan tambahan sekitar Rp 50.000 per hari dari pekerjaan sampingan menjadi tukang ojek perahu, Aep (25), warga Bojongasih, juga kesal. Keluarganya kini bertahan hidup di lantai 2 rumahnya. Sungai Citarum yang meluap hanya berjarak 100 meter dari rumahnya.

”Besok juga tidak tahu apakah masuk kerja atau tidak. Kepikiran orang di rumah. Air setinggi 2 m sudah memenuhi lantai 1 rumah saya. Tapi, kalau bolos kerja lagi, bisa-bisa jadi penganggur. Tidak tahu sampai kapan mau begini terus,” kata Aep yang bekerja di perusahaan logistik di Kota Bandung, sekitar 20 kilometer dari Bojongasih.

Masih banjir

Wajar apabila rasa kesal memuncak. Banjir Bandung menjadi ironi yang tidak kunjung tuntas. Sejauh ini, sudah banyak uang digelontorkan. Sudah banyak infrastruktur mitigasi banjir dibangun di Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Namun, banjir masih saja datang.

Salah satunya adalah kolam retensi di kawasan Andir di Kecamatan Baleendah, berjarak sekitar 4 kilometer dari Bojongsoang. Kolam retensi Andir diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 5 Maret 2023.

Kolam seluas 3,4 hektar itu mampu menampung sebayak 160.000 meter kubik air dan dilengkapi tiga pompa berkapasitas 500 liter per detik.

Sejumlah siswa melepas bibir ikan di Kolam Retensi Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (5/3/2023).

Sebelumnya, ada kolam retensi Cieunteung, juga di Kecamatan Baleendah, yang rampung dibangun pada 2018. Kolam itu diproyeksikan menjadi salah satu bagian sistem penanggulangan banjir di hulu Citarum. Volume tampungan kolam retensi 189.661,82 meter kubik dengan luas genangan 47.501,625 meter persegi.

Selain itu, ada Terowongan Nanjung yang diresmikan Presiden Jokowi tahun 2020. Infrastruktur ini terdiri atas dua terowongan air, masing-masing sepanjang 230 meter dengan diameter 8 meter.

Terowongan bisa meningkatkan kapasitas debit Citarum di kawasan itu, dari 570 meter kubik per detik menjadi 700 meter kubik per detik. Harapannya, terowongan ini bisa membuat lama genangan di sekitar Bandung selatan berkurang.

Satuan Tugas Citarum Harum Sektor 22 menanam pohon di perkebunan sayur di Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/12/2019). Penanaman pohon di kawasan Bandung utara itu diharapkan dapat mengembalikan fungsinya sebagai daerah resapan air.

Bukan hanya infrastruktur, beragam program pemerintah pusat juga sudah berjalan. Program mutakhirnya adalah Citarum Harum. Dimulai pada 2018, program ini akan usai bulan ini.

Namun, sejauh ini, banjir belum berhenti. Sebagian warga bahkan mengeluh kini lebih susah.

Akan tetapi, apabila melihat masih banyak sampah mengambang di sungai hingga air coklat membawa lumpur, solusinya bukan lagi infrastruktur atau program berdana besar. Bisa jadi solusinya hanya dengan tidak membuang sampah sembarangan hingga tidak lagi mudah memberi izin alih fungsi lahan secara serampangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti