Diplomasi pujian adalah memberikan hadiah atau semacam penghormatan untuk mendapatkan rasa hormat, dukungan, dan dukungan dari orang yang disasar.
25 Jul 2025 08:00 WIB · Internasional
Dulu aktris Amerika Serikat, Mae West, pernah berkata: pujian akan membawa Anda ke mana saja. Para pemimpin dunia tampaknya mengamini ungkapan ini. Apalagi ketika mereka harus berurusan dengan Presiden AS Donald Trump yang susah ditebak.
Pada 14 Juli 2025, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte berterima kasih ketika Trump mengumumkan perubahan haluan kebijakan luar negeri AS. Kali ini, Trump setuju menjual persenjataan senilai miliaran dollar AS untuk Ukraina. Eropa yang akan membayar.
Tidak hanya itu, Trump mengeluarkan ultimatum kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Rusia harus berdamai dengan Ukraina dalam 50 hari. Jika tidak, sanksi berat menanti Moskwa dan mitra dagangnya. Ultimatum ini adalah angin segar bagi Kyiv tentu saja.
Beberapa minggu lalu, Rutte juga tampak berseri-seri ketika Trump menyatakan dukungan penuh terhadap aliansi tersebut. Dukungan itu merupakan sinyal positif mengingat Trump berulang kali menunjukkan ketidaksukaan kepada NATO.
”Apa hubungannya pujian dengan hal itu? Ternyata, hampir semuanya,” kata Tom Nagorski, editor dan kontributor senior di The Cipher Brief, kepada Time edisi Jumat (18/7/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/53b42cde-ec64-48ff-a307-c050574ffd36_jpg.jpg)
Sejak menjabat sebagai pemimpin NATO pada Oktober 2024, Rutte pelan-pelan mengambil hati Trump. Dia memuji kebijakan luar negeri Trump. Setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran guna membantu Israel pada Juni 2025, ia mengirim pesan kepada Trump.
”Bapak Presiden Donald yang terhormat. Selamat dan terima kasih atas tindakan tegas Anda di Iran, sungguh luar biasa, dan sesuatu yang tak seorang pun berani lakukan. Itu membuat kita semua lebih aman,” tulis Rutte.
Dalam pesan panjang itu, Rutte juga menyatakan berhasil mendulang janji para anggota NATO untuk mengalokasikan anggaran sebesar 5 persen untuk pertahanan. Dia pun memenangi kepercayaan Trump menjelang Konferensi Tingkat Tinggi NATO 2025 di Belanda.
Trump langsung merilis pesan itu kepada publik di media sosial. Bisa terlihat pesan Rutte mirip dengan gaya penulisan Trump, yakni penuh huruf besar beserta tanda seru. Selain itu, dia menggunakan kata-kata khas Trump, seperti ”sukses besar” dan ”kemenangan Anda”.
Diplomasi penuh sanjungan bukanlah barang baru. Sam Edwards, profesor sejarah politik modern di Universitas Loughborough, Inggris, menjelaskan, cara kerja diplomasi pujian adalah memberikan hadiah atau semacam penghormatan untuk mendapatkan rasa hormat, dukungan, dan dukungan dari orang yang disasar.
Rutte juga bukan orang pertama yang memuji-muji Trump, politisi Republikan yang suka dengan gestur-gestur ”wah”. Sekutu dan musuh pun menghujaninya dengan pujian.
Koran El Pais mencatat, Pakistan dan Israel menyanjung Trump dengan nominasi Hadiah Nobel Perdamaian. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengirim pengawalan F-16 saat Trump berkunjung. Qatar menghadiahkan Trump pesawat mewah senilai 400 juta dollar AS.
Presiden Finlandia Alexander Stubb pergi ke Florida hanya untuk bermain golf dengannya. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer membawa surat pribadi Raja Charles III berisi undangan ke Inggris. Baru-baru ini, Presiden Dewan Eropa António Costa memberi Trump jersei Cristiano Ronaldo beserta tanda tangan. Putin juga pernah memuji Trump.
Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan telah melakukannya sejak awal Trump menjabat. Macro membuat Trump terkesan dengan parade militer Hari Bastille saat kunjungan kenegaraan pertamanya tahun 2017.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/04/99c6e519-6e47-4e7b-93dc-bbbe935f2057_jpg.jpg)
Yolanda Spies, Direktur Program Studi Diplomatik Universitas Oxford, mengatakan, sanjungan telah lama tertanam dalam seni diplomasi. Akan tetapi, Trump membentuk ulang gaya diplomasi tersebut.
”Salah satu prinsip utama profesi diplomasi adalah melakukan semua kerja keras di balik layar, di mana tidak ada yang mengawasi. Sekarang, Anda harus sangat berhati-hati, karena apa pun yang Anda kirimkan kepadanya akan dipublikasikan. Ini berarti sebuah langkah baru dalam permainan tersebut,” kata Spies kepada The New York Times.
Pertanyaannya adalah: di mana batas antara diplomasi pujian dan sikap merendahkan diri?
”Bagaimana mendekati pemerintahan AS ini benar-benar membingungkan para pemimpin Eropa dan negara-negara lain. Hal ini semakin rumit karena Presiden Trump tampaknya memandang dunia melalui sudut pandang kepribadian dan interaksi personal,” kata Ian Lesser, mantan diplomat AS dan analis Marshall Fund.
Pemimpin dunia yang kurang berbakat dalam menyanjung Trump terancam dipermalukan. Belajarlah dari pengalaman Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Seluruh dunia menyaksikan dia bertengkar dengan Trump di Gedung Putih.
Namun, namanya Trump, diplomasi penuh pujian juga tidak selalu berhasil. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa berusaha merayu Trump dengan golf untuk mengatasi tuduhan genosida terhadap petani kulit putih di negaranya. Upayanya gagal.
Dalam beberapa kasus, Trump bahkan menunjukkan rasa hormat terhadap orang yang berani menentangnya, seperti China, Korea Utara, dan Rusia. Comfort Ero, Presiden International Crisis Group (ICG), mencatat, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan PM Kanada Mark Carney sukses bersikap tegas tanpa memancing amarah Trump.
”Seni diplomasi membutuhkan pemahaman tentang siapa yang berada di pihak lawan dan juga membutuhkan keterampilan yang berbeda, mengetahui cara menggabungkan sanjungan dengan sikap tegas, tergantung pada negosiasi. Dan itu juga membutuhkan pemahaman tentang psikologi, karakter, dan cara berpikir orang tersebut,” kata Ero.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/04/23/b12d944a-ae6e-4833-81af-58ce02b01afa.jpg)
Ahli politik Brasil, Oliver Stuenkel, menyarankan untuk berhati-hati menggunakan taktik diplomasi sanjungan. Strategi semacam ini mungkin bisa menghindari krisis yang tak terduga, tetapi tidak akan menghasilkan kepercayaan atau prediktabilitas dalam jangka menengah.
”Ini adalah diplomasi yang rapuh, bergantung pada suasana hati seseorang daripada kesepakatan kelembagaan yang langgeng. Semua orang tahu satu hal, baik itu orang menyanjung maupun yang tidak menyanjung, adalah bahwa suasana hati Trump berubah lebih cepat daripada cuaca,” kata Stuenkel.
Pendulum kebijakan luar negeri Trump mungkin akan berubah dalam waktu dekat. Setidaknya, untuk saat ini, NATO dan Ukraina sedang memetik hasil dari diplomasi itu.
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari