Diskon Listrik Picu Deflasi pada Awal 2025

Sementara itu, anomali inflasi terjadi pada komoditas harga bergejolak dalam beberapa komoditas pangan.

03 Feb 2025 15:04 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Kebijakan diskon listrik dan tiket pesawat yang diterapkan pemerintah berkontribusi terhadap penurunan Indeks Harga Konsumen pada awal 2025. Diskon pada harga yang diatur pemerintah, sebagaimana diperhitungkan oleh Badan Pusat Statistik, membantu menekan inflasi di kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan mengalami deflasi 0,76 persen dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025. Secara tahunan, perubahan IHK pada Januari 2025 dibandingkan Januari 2024 sebesar 0,76 persen, terendah dalam 25 tahun terakhir.

Penyumbang deflasi bulanan terbesar, ujar Amalia, berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar -9,16 persen, dengan andil deflasi sebesar 1,44 persen. Ini paling banyak disumbang tarif listrik dengan tingkat deflasi sebesar 32,03 persen.

”Deflasi ini terjadi akibat diskon 50 persen bagi pelanggan sampai 2.200 VA (volt ampere) di Januari 2025,” kata Amalia dalam konferensi pers inflasi bulanan yang diselenggarakan secara hibrida, Senin (3/2/2025).

Amalia Adininggar Widyasanti, Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan

Ia menjelaskan, kebijakan diskon tarif listrik dicatat dalam penghitungan inflasi sesuai dengan panduan Consumer Price Index Manual yang diterapkan secara global. Meski pemerintah hanya memberlakukan diskon itu hingga akhir Februari 2025, kebijakan itu dapat diperhitungkan selama kualitas barang dan jasa yang diterima sama dan diskon bisa didapatkan oleh banyak orang.

Selain harga listrik, komoditas lain yang juga memberikan andil deflasi adalah tomat dengan deflasi 0,03 persen, ketimun, tarif kereta api, dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing 0,01 persen.

Adapun penyumbang inflasi bulanan di Januari 2025 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,94 persen dengan andil 0,56 persen. Tingkat inflasi kelompok ini merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir.

”Secara umum, setiap bulan Januari, pada tahun 2021-2024, tingkat inflasi kelompok ini lebih rendah dibandingkan bulan Desember. Namun, pada Januari 2025, inflasi kelompok ini lebih tinggi dari Desember 2024, dengan penyumbang inflasi cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng,” ungkap Amalia.

BPS mencatat, ketiga komoditas yang disebutkan sebagai penyumbang inflasi pada Januari 2025 masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,19 persen, 0,17 persen, dan 0,03 persen.

Selain itu, komoditas penyumbang inflasi lain adalah harga emas perhiasan dengan andil 0,36 persen. Tren ini dipengaruhi faktor harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 2.817,5 dollar AS per troy ounce pada Januari. Komoditas bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti pertamax, pertamax turbo, dexlite, dan pertamina dex, juga menyumbang inflasi karena adanya kenaikan harga.

Infografis Indeks Harga Konsumen Januari 2025.

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, berpendapat, adanya permintaan musiman pada kelompok pangan yang mengakibatkan inflasi dari Desember 2024 yang berlanjut hingga Januari 2025 menandakan potensi ekspansi ekonomi. ”Meskipun dampak deflasi dari diskon listrik cukup besar, inflasi diperkirakan akan tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1 persen,” ujarnya saat dihubungi hari ini.

Kebijakan diskon listrik yang berlanjut hingga bulan ini, lanjutnya, dapat mengungkit daya beli masyarakat pada kebutuhan primer lainnya. Ini pun menjadi momentum yang pas sebelum memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran yang umumnya mengakibatkan inflasi harga secara signifikan.

”Kita melihat pemerintah mau mendorong daya beli, tapi pada saat sama inflasinya juga tetap terkendali,” katanya.

Sementara itu, ia memperingatkan potensi inflasi pada produk impor. Hal ini mengukur pergerakan nilai tukar rupiah yang kian melemah, terlebih dalam momentum pengenaan tarif oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kanada (25 persen), Meksiko (25 persen), dan China (10 persen).

Kebijakan itu meningkatkan ketegangan perdagangan dan menyebabkan rupiah melemah hingga melampaui 16.400 per dollar AS hingga Senin (3/1/2025). ”Tekanan inflasi dapat meningkat karena biaya impor bahan pokok meningkat,” ujarnya.

Dalam situasi ini, Hosianna memprediksi Bank Indonesia (BI) tidak mungkin melakukan intervensi secara signifikan dengan fokus pada nilai tukar rupiah. BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam pertemuan 18-19 Februari, sejalan dengan sikap yang diharapkan oleh bank sentral AS, Federal Reserve.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta