Calon Tunggal Wali Kota Picu Pilkada Sunyi Banjarbaru

Antusiasme warga Kota Banjarbaru mencoblos berkurang akibat dinamika Pilkada Banjarbaru yang berujung pada pembatalan salah satu pasangan calon.

27 Nov 2024 18:15 WIB · Politik & Hukum

Oleh Jumarto Yulianus

BANJARBARU, KOMPAS — Antusiasme warga Kota Banjarbaru, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, untuk mencoblos pada Pilkada 2024 berkurang jika dibandingkan dengan perhelatan Pilkada 2020 ataupun Pilpres 2024. Hal itu tidak lepas dari dinamika Pilkada Banjarbaru yang berujung pada pembatalan salah satu pasangan calon.

Berdasarkan pantauan di TPS 028 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Rabu (27/11/2024), warga yang menggunakan hak pilihnya hanya sekitar 60 persen. Dari 588 orang yang terdaftar sebagai pemilih di TPS 028, yang datang mencoblos sebanyak 352 orang.

Nur Hayati (47), warga Banjarbaru, menuturkan, animo warga datang ke TPS pada pilkada kali ini tidak seperti sebelumnya. ”Pilkada kali ini sunyi sekali. Tidak ramai seperti pilkada sebelumnya dan pilpres yang barusan,” ujarnya.

Nur mengetahui betul suasana TPS di tempatnya mencoblos karena sejak pilkada 2020, garasi rumahnya selalu menjadi TPS. ”Sebelumnya, TPS kami selalu ramai. Yang tidak datang paling hanya sekitar 10 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar,” katanya.

Suasana pencoblosan di TPS 028 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (27/11/2024). Antusiasme warga Banjarbaru untuk mencoblos pada pilkada serentak 2024 berkurang karena warga disodorkan calon tunggal wali kota.

Nur menduga banyak warga enggan datang ke TPS kali ini karena pilkada Kota Banjarbaru hanya diikuti satu pasangan calon, yaitu pasangan Erna Lisa Halaby dan Wartono. Pasangan ini diusung 13 partai politik, yaitu PKB, Gerindra, PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, Partai Gelora, PKS, Partai Garuda, PAN, PBB, Partai Demokrat, PSI, dan Partai Perindo.

Pasangan Lisa-Wartono menjadi calon tunggal setelah KPU Kota Banjarbaru membatalkan pencalonan pasangan Muhammad Aditya Mufti Ariffin dan Said Abdullah melalui Surat Keputusan KPU Kota Banjarbaru Nomor 124 Tahun 2024 pada 31 Oktober 2024. Pasangan Aditya-Said sebelumnya diusung tiga partai politik, yaitu PPP, Partai Ummat, dan Partai Buruh.

”Ya, karena itulah. Hanya ada satu calon, jadi bikin orang malas memilih,” ujarnya.

Ahmad Adawi (36), warga Banjarbaru lainnya, juga tidak begitu bersemangat datang ke TPS kali ini. Namun, sebagai warga yang baik, ia memutuskan tetap datang dan tidak mau golput.

”Ya, siapa pun yang terpilih nanti diharapkan bisa membawa Banjarbaru menjadi lebih baik,” katanya.

Adawi sangat menyayangkan atas apa yang terjadi di Pilkada Banjarbaru kali ini. ”Pilkada Banjarbaru kali ini benar-benar hancur. Sangat disayangkan. Tidak heran kalau akhirnya banyak warga yang malas ikut memilih,” katanya seusai mencoblos di TPS 028 Kelurahan Landasan Ulin Utara.

Gambar pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Banjarbaru beserta pengumuman KPU Kota Banjarbaru mengenai pembatalan paslon nomor 2 di TPS 028 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (27/11/2024). Antusiasme warga Banjarbaru untuk mencoblos pada pilkada serentak 2024 berkurang karena warga disodorkan calon tunggal wali kota.

Dwi Putra Kurniawan (47), warga Banjarbaru lainnya, menyampaikan, antusiasme warga untuk mencoblos di TPS 014 Kelurahan Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, pada pilkada kali ini juga berkurang.

”Di TPS kami ada 300-an pemilih. Setelah waktu pencoblosan berakhir, masih ada 100 lebih surat suara yang tidak terpakai. Tingkat partisipasi pemilih kali ini sepertinya hanya sekitar 60 persen,” katanya.

Menurut Dwi, rendahnya tingkat partisipasi pemilih ini adalah bentuk boikot warga Banjarbaru terhadap keputusan penyelenggara pemilu yang mencoreng demokrasi di Banjarbaru.

Setelah KPU Banjarbaru membatalkan salah satu paslon atas rekomendasi Bawaslu Kalsel, KPU mengeluarkan Keputusan KPU Nomor 1774 Tahun 2024 yang menguntungkan paslon yang tidak dibatalkan.

”Pilkada kali ini adalah yang terburuk dalam sejarah demokrasi di Banjarbaru. Meski begitu, saya tetap mencoblos untuk menunjukkan bahwa demokrasi di Banjarbaru masih ada meskipun sudah sangat merosot,” katanya.

Menurut Dwi, warga Banjarbaru mau tidak mau harus menerima realitas yang terjadi, apa pun kondisinya. Namun, warga juga tidak diam. Warga akan mengawal pemerintahan mendatang. ”Sebagai warga, kami tidak ragu mengkritik. Jadi, pemerintah juga harus siap dikritik,” katanya.

Selain memilih wali kota dan wakil wali kota, warga Banjarbaru juga turut memilih gubernur dan wakil gubernur Kalsel. Pilgub Kalsel 2024 diikuti dua paslon, yaitu paslon nomor urut 1, Muhidin-Hasnuryadi Sulaiman, dan paslon nomor urut 2, Raudatul Jannah-Akhmad Rozanie Himawan Nugraha.


Kerabat Kerja

Penulis:

Jumarto Yulianus
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang