Distribusi Bantuan Makanan di Gaza Terus Mengorbankan Nyawa

Warga Palestina terus menjadi korban dalam proses distribusi makanan di Jalur Gaza. Mulai diperdengarkan seruan agar gencatan senjata Israel-Iran diperluas ke Gaza.

25 Jun 2025 14:19 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

DEIR AL-BALAH, JALUR GAZA, RABU — Sementara konflik Israel-Iran memasuki fase gencatan senjata, pendistribusian bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza terus memakan korban jiwa. Terbaru, dalam pendistribusian bantuan pada Selasa (24/6/2025), 44 warga Palestina tewas.

Kematian warga sipil yang sedang berusaha mengakses bantuan ini terus terjadi sejak Badan Bantuan Kemanusiaan Gaza (GHF) mulai mendistribusikan bantuan pada 26 Mei 2025. Selain GHF, Israel menutup seluruh akses bagi lembaga bantuan kemanusiaan. GHF dikelola oleh Israel dan Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, sejak pecah konflik Israel-Hamas 7 Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 56.077 orang. Banyak di antara korban ini anak-anak dan perempuan.

Laporan The Associated Press (AP), Rabu (25/6/2025), menyebutkan, pada Selasa dini hari waktu setempat, warga Palestina di Gaza selatan dan tengah sedang menunggu bantuan kemanusiaan yang didistribusikan GHF.

Pos distribusi GHF berada di zona militer Israel. Proses distribusi makanan dilakukan pukul 10.00 dan ditutup setelah pembagian makanan dianggap selesai. Dua saksi mata menuturkan, pasukan Israel mulai menembaki saat ribuan warga Palestina berkumpul di daerah Shakoush, beberapa ratus meter dari lokasi distribusi.

Menurut saksi mata dan pihak rumah sakit yang menerima para korban, sedikitnya 44 orang tewas dalam penembakan terpisah itu. Jumlah korban tewas itu juga dikonformasi oleh Zaher al-Waheidi, Kepala Departemen Catatan Kementerian Kesehatan Gaza.

Ayman Abu Joda mengatakan, dirinya melihat tembakan gencar dari tank-tank Israel dan banyak orang jatuh tertembak. Joda membantu mengevakuasi tiga orang yang terluka, satu terkena di dada dan dua di kaki.

”Tragedi yang sama terjadi setiap hari. Kami mencari makanan dan pasukan melepaskan tembakan dan membunuh banyak orang,” kata Joda.

EDITORS NOTE: Graphic content / TOPSHOT - A Palestinian woman looks on as people injured in Israeli fire at a food aid distribution point set up by the privately-run Gaza Humanitarian Foundation (GHF) on the Salaheddin road, receive care at Al-Awda hospital in the Nuseirat refugee camp in the central Gaza Strip on June 24, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Di Gaza tengah, tiga saksi mata mengatakan kepada AP bahwa pasukan Israel melepaskan tembakan saat orang-orang maju ke arah timur menuju truk bantuan di selatan Wadi Gaza. ”(Penembakan) itu adalah pembantaian,” kata Ahmed Halawa, seorang saksi mata.

Halawa mengatakan, tank dan pesawat nirawak menembaki orang-orang. ”Bahkan saat kami melarikan diri. Banyak orang yang mati syahid atau terluka,” kata Halawa.

Rumah Sakit Al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat menerima para korban. Rumah sakit itu mengonfirmasi 25 kematian dan mengatakan 146 lainnya terluka. Rumah sakit juga menjelaskan, 62 orang di antaranya dalam kondisi kritis dan dipindahkan ke rumah sakit lain.

Di kota pusat Deir al-Balah, Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs menginformasikan telah menerima enam jenazah dari insiden yang sama.

Militer Israel mengatakan sedang meninjau insiden di dekat koridor Netzarim, jalan yang memisahkan Gaza utara dan selatan, tersebut.

Di kota paling selatan Gaza, Rafah, para saksi juga mengatakan pasukan Israel melepaskan tembakan saat massa mencoba mencapai lokasi distribusi makanan yang dikelola GHF. RS Nasser dan Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, setidaknya 19 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka.

Pasukan Israel dalam beberapa pekan terakhir berulang kali melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga yang menunggu pendistribusian makanan. Penembakan di sekitar lokasi distribusi itu telah menewaskan ratusan orang.

Militer Israel berdalih, mereka melepaskan tembakan peringatan ke orang-orang yang, menurut mereka, mendekati pasukan Israel dengan cara yang mencurigakan.

Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan serangan Israel selama 21 bulan di Jalur Gaza sudah menewaskan 56.077 orang. Perang ini dipicu oleh serangan mendadak Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera 251 orang lainnya. Banyak sandera telah dibebaskan melalui gencatan senjata atau perjanjian lainnya.

Dari total jumlah korban tewas, sebanyak 5.759 korban tercatat tewas sejak Israel mulai meningkatkan serangan pada 18 Maret 2025 hingga Selasa kemarin. Gencatan senjata terakhir yang rapuh antara Israel dan Hamas berakhir pada awal Maret 2025.

EDITORS NOTE: Graphic content / Palestinians walk back, carrying parcels collected from a food aid distribution point set up by the privately-run Gaza Humanitarian Foundation (GHF) on the Salaheddin road, at the Nuseirat refugee camp in the central Gaza Strip on June 24, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Israel menutup akses bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak 2 Maret 2025. Pada 18 Maret 2025 Israel mengebom berbagai penjuru Gaza. Sedikitnya 400 warga Palestina tewas dan 500 lainnya terluka.

Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ) menyebut serangan itu praktis mengakhiri proses gencatan senjata. Pemerintahan Israel di bawah Benjamin Netanyahu dituding membawa ketidakpastian pada masa depan perdamaian.

Pada 25 April 2025, Program Pangan PBB menyatakan stok pangan di Jalur Gaza sudah habis. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin buruk, ditambah lagi dengan blokade total oleh Israel.

Pada pertengahan Mei 2025, Israel membolehkan sejumlah kecil truk bantuan kemanusiaan memasuki Jalur Gaza. Sejak 27 Mei 2025, AS dan Israel mengendalikan langsung proses pembagian bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza melalui GHF.

AS dan Israel mengambil alih peran PBB. Lembaga dunia itu secara tradisional, sejak beberapa dekade lalu, adalah pihak pengendali bantuan kemanusian di Jalur Gaza. 

Merujuk pada kompas.id 30 Mei 2025, keputusan AS-Israel mengambil ambil alih peran PBB dilatari motif politik dan keamanan. AS dan Israel sering menuduh mekanisme pembagian bantuan kemanusian di Jalur Gaza selama ini masih penuh celah yang sering dimanfaatkan oleh Hamas untuk mendapatkan kue bantuan kemanusian itu bagi anggota dan pasukannya.

Celah itu diduga menjadi alasan mengapa Hamas masih bisa bertahan dan pantang menyerah meskipun sudah digempur habis-habisan hampir dua tahun perang Gaza.

Utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mendirikan Lembaga Kemanusian Gaza atau Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di Swiss. GHF yang bermarkas di Geneva telah tercatat di Swiss sejak Februari 2025. Selain itu kemudian didirikan lagi lembaga bantuan kemnausian kedua bernama Safe Reach Solution (SRS).

Kedua lembaga tersebut yang saat ini membagikan dan menyalurkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. Dalam operasinya, GHF dan SRS dikawal oleh pasukan Marinir AS dan pejabat CIA. Dalam radius 300 meter, GHF dan SRS diawasi pasukan Israel.

EDITORS NOTE: Graphic content / Palestinians walk back, carrying parcels collected from a food aid distribution point set up by the privately-run Gaza Humanitarian Foundation (GHF) on the Salaheddin road, at the Nuseirat refugee camp in the central Gaza Strip on June 24, 2025. (Photo by Eyad BABA / AFP)

30 juta dollar AS

Saat kekerasan dan kekacauan melanda titik-titik distribusi makanan di Jalur Gaza, pemerintahan Trump menyetujui untuk mengalokasikan anggaran senilai 30 juta dollar AS. Menurut seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim, penganggaran bantuan itu merupakan penganggaran pertama yang disetujui Pemerintah AS.

Awalnya, GHF mengajukan permohonan permintaan pendanaan kepada USAID atau Badan Pembangunan Internasional AS. Namun, lembaga itu sudah dibubarkan Trump. Permintaan anggaran kemudian diserap oleh Departemen Luar Negeri AS.

”Keputusan untuk mendanai GHF secara langsung dibuat untuk menyediakan bantuan kemanusiaan yang efektif dan mudah diakses oleh masyarakat Gaza,” kata pejabat itu.

Terkait kekerasan yang timbul saat pendistribusian makanan, GHF membantah laporan AP tentang pembunuhan. GHF bahkan menyatakan sudah mendistribusikan 44 juta makanan kepada warga Palestina.

Palestinians ride on a cart hitched to a car along the shore of Al-Zawaideh, Gaza Strip, on Tuesday, June 24, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Gencatan senjata

Di tengah kekerasan yang terus terjadi di Gaza, pada Selasa, Forum Sandera dan Keluarga Hilang menyerukan agar gencatan senjata antara Israel dan Iran diperluas hingga ke Jalur Gaza.

”Mereka yang dapat mencapai gencatan senjata dengan Iran juga dapat mengakhiri perang di Gaza,” kata kelompok tersebut seperti dilaporkan CNN.

Kelompok tersebut saat ini juga mengadvokasi pengembalian para sandera yang ditawan Hamas. Menurut Pemerintah Israel, 50 sandera masih ditawan di Jalur Gaza, dengan 20 di antaranya diyakini masih hidup.

”Mampu menyelesaikan operasi yang menentukan terhadap Iran tanpa memanfaatkan keberhasilan untuk membawa pulang semua sandera akan menjadi kegagalan besar,” kata forum itu, seraya menambahkan bahwa sekarang ada ”jendela kesempatan yang kritis”.

Sementara itu, pemimpin oposisi Israel Yair Lapid dalam unggahan di X menulis, ”Dan sekarang Gaza. Inilah saatnya untuk menutup front itu juga. Untuk membawa pulang para sandera, untuk mengakhiri perang. Israel perlu mulai membangun kembali.”

Qatar selaku mediator utama dalam gencatan senjata dan pembicaraan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas, pada hari Selasa, mengatakan, mereka berharap perundingan soal itu dapat dilanjutkan dalam dua hari ke depan. Menurut Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani, perundingan ”sedang berlangsung”.

Ia menambahkan bahwa Qatar dan Mesir sedang berhubungan dengan Israel dan Hamas untuk mencoba menemukan jalan tengah mengenai usulan gencatan senjata terbaru yang disusun AS di atas meja.

Usulan tersebut menyerukan pembebasan 10 sandera Israel dan jenazah 18 warga Israel lainnya yang ditawan dalam serangan 7 Oktober 2023 sebagai bagian dari gencatan senjata selama 60 hari. Awal bulan ini, Hamas mengatakan tidak menolak usulan tersebut, tetapi meminta jaminan yang lebih kuat menjelang akhir perang.

Pada hari Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada wartawan, ”Tidak diragukan lagi bahwa pencapaian utama kami di Iran juga berkontribusi pada tujuan kami di Gaza.” (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji