Pertumbuhan yang tinggi pada triwulan I-2026 terbantu oleh efek ”low-base” atau basis pertumbuhan ekonomi yang rendah pada periode yang sama tahun lalu.
05 Mei 2026 13:05 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Di tengah tekanan ekonomi global, perekonomian Indonesia pada tiga bulan pertama tahun 2026 masih mencatat pertumbuhan 5,61 persen atau tertinggi dalam 14 triwulan. Konsumsi rumah tangga yang meningkat selama Ramadhan dan Lebaran menopang pertumbuhan ekonomi selama periode penuh gejolak awal tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 adalah 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year. Laju pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2025 yang sebesar 5,39 persen dan triwulan I-2025 yang sebesar 4,87 persen.
Ini juga merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 14 triwulan terakhir. Sebelumnya, ekonomi Indonesia pernah tumbuh 5,72 persen pada triwulan III tahun 2022.
Pertumbuhan 5,61 persen lebih tinggi dibandingkan proyeksi konsensus ekonom. Mengutip hasil survei Bloomberg terhadap 32 ekonom, pertumbuhan ekonomi RI pada triwulan I-2026 awalnya diperkirakan tumbuh 5,3 persen secara tahunan atau sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Dalam konferensi pers secara hibrida di Jakarta, Selasa (5/5/2026), Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, ada beberapa peristiwa domestik pada triwulan I-2026 yang membantu menopang pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/07/33cf4a629064d7f0a879bef64321b222-20260407TOK2.jpg)
Salah satunya, konsumsi dan mobilitas masyarakat yang meningkat selama momen libur nasional dan hari besar keagamaan. Seperti diketahui, tahun ini, seluruh rangkaian Ramadhan dan Idul Fitri jatuh pada triwulan I. Ini berbeda dari sebelumnya, di mana Ramadhan biasanya jatuh pada triwulan I, sementara Idul Fitri pada triwulan II.
Sejumlah kebijakan pemerintah yang digelontorkan selama triwulan I-2026 juga menopang pertumbuhan, antara lain pemberian paket stimulus untuk mendorong konsumsi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri. Dari sisi moneter, Bank Indonesia juga menahan kebijakan suku bunga acuannya di level 4,75 persen sebagai upaya mendorong pertumbuhan.
Pertumbuhan yang tinggi pada triwulan I-2026 terbantu oleh efek ’low-base’ atau basis pertumbuhan ekonomi yang rendah pada periode yang sama tahun lalu.
Secara lebih rinci, tutur Amalia, lima lapangan usaha yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan adalah industri pengolahan (5,04 persen), perdagangan (6,26 persen), pertanian (4,97 persen), dan konstruksi (5,49 persen). Pertambangan terkontraksi 2,14 persen meski turut berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Industri pengolahan, yang paling banyak berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman, misalnya, tumbuh didukung oleh peningkatan permintaan produk mamin selama Ramadhan dan Idul Fitri.
”Sementara, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk baterai dan komponen barang elektronik,” kata Amalia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/18/01751449a999e1cba31d70b6380544fa-1001383711.jpg)
Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yaitu 13,14 persen. ”Ini tumbuh didorong oleh peningkatan kinerja penyediaan makan-minum seiring perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen libur nasional,” tuturnya.
Sektor berikutnya yang tumbuh tinggi adalah jasa lainnya dengan pertumbuhan 9,91 persen. Sektor ini tumbuh didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.
Sementara, sektor ketiga yang tumbuh tinggi adalah transportasi dan pergudangan dengan pertumbuhan 8,04 persen, terdorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama awal tahun seiring dengan momen libur nasional dan hari raya.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi yang tumbuh 5,96 persen, ekspor yang tumbuh 0,90 persen, dan konsumsi pemerintah yang pertumbuhannya melonjak hingga 21,81 persen.
”Konsumsi rumah tangga tumbuh menguat didorong momen hari besar keagamaan dan peningkatan mobilitas masyarakat,” kata Amalia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/f3890e65fe85763d7d46eda210b61192-20250403PRI13HR.jpg)
Konsumsi rumah tangga terpantau tumbuh tinggi pada kelompok restoran dan hotel, yaitu 7,38 persen, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama liburan. Konsumsi juga tumbuh tinggi pada konsumsi transportasi dan komunikasi, yakni 6,91 persen, didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat.
Adapun PMTB tumbuh positif didorong oleh investasi pemerintah, seperti program prioritas nasional dan investasi swasta. Sementara, konsumsi pemerintah tumbuh karena didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai.
”Salah satunya melalui realisasi pembayaran gaji ke-14 (THR), belanja barang dan jasa, terutama belanja barang yang diserahkan ke masyarakat berupa program MBG,” kata Amalia.
Meski angka pertumbuhan ekonomi melebihi prediksi, faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi lebih kurang sesuai dengan yang diperkirakan kalangan ekonom.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro awalnya memperkirakan ekonomi akan tumbuh 5,47 persen pada triwulan I-2026. Faktor utama yang dinilai menopang pertumbuhan adalah permintaan domestik yang lebih kuat akibat momen Ramadhan dan Idul Fitri, meningkatnya belanja pemerintah, serta investasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/28/642b83600714a695a405347be06cd2df-20260428TOK7.jpg)
Namun, ia menggarisbawahi, angka pertumbuhan yang tinggi pada triwulan I-2026 juga terbantu oleh efek low-base atau basis pertumbuhan ekonomi yang rendah pada periode yang sama tahun lalu. Seperti diketahui, pada triwulan I-2025, ekonomi hanya tumbuh 4,87 persen secara tahunan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang seluruhnya jatuh pada triwulan I menjadi pendorong utama konsumsi.
”Belanja masyarakat untuk makanan, minuman, pakaian, transportasi, hingga akomodasi meningkat signifikan. Indikator seperti indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel juga menguat,” katanya.
Penulis:
Agnes TheodoraEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan