PROYEKSI EKONOMI

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2026 Diproyeksi Masih di Atas 5 Persen

Kendati masih tumbuh di atas 5 persen, tekanan inflasi berbasis biaya berpotensi meningkat seiring kenaikan harga energi dan bahan baku global.

04 Mei 2026 17:58 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 diproyeksi masih akan berada di atas 5 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang menguat, percepatan belanja pemerintah, serta investasi yang bergerak sejak awal tahun. Akan tetapi, momentum ini berpotensi melandai pada triwulan berikutnya seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan biaya produksi.

Saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (4/5/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 akan berada di angka sekitar 5,5 persen. Ia optimistis capaian pertumbuhan pada tiga bulan pertama tahun ini diperkirakan tetap solid di tengah ketidakpastian global.

”Triwulan pertama nanti kita lihat. Namun, seperti beberapa kali kami sampaikan, (pertumbuhan diperkirakan) lebih besar atau sama dengan 5,5 persen,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin.

Sesuai jadwal, data resmi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 baru akan dirilis Badan Pusat Statistik pada Selasa (5/5/2026).

Dalam konferensi pers di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, pekan lalu, Airlangga memperkirakan, ada sejumlah faktor yang bakal menjadi penopang utama kinerja ekonomi awal tahun. Beberapa di antaranya adalah konsumsi rumah tangga yang meningkat selama Ramadhan dan Idul Fitri, penyaluran tunjangan hari raya, serta akselerasi belanja pemerintah dan stimulus fiskal. 

Memasuki triwulan II-2026, pemerintah juga menyiapkan sejumlah penopang tambahan, seperti penyaluran gaji ke-13 pada Juni dan penguatan program perlindungan sosial. Selain konsumsi rumah tangga, pemerintah menilai investasi juga akan menjadi penggerak penting pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

Infografik riset Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Provinsi di Jawa dan Bali.

Target realisasi investasi tahun ini pun dipatok mencapai Rp 2.041,3 triliun. ”Pertumbuhan investasi dengan target lebih dari Rp 2.000 triliun bukan angka kecil. Ini pengungkit perekonomian kita karena kita ingin mencapai target pertumbuhan minimal 5,4 persen di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” kata Airlangga.

Pemerintah juga mendorong percepatan realisasi investasi melalui Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, termasuk melalui upaya penyelesaian hambatan berusaha (debottlenecking).

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 lebih kurang 5,4 persen secara tahunan. Menurut dia, momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang seluruhnya jatuh pada triwulan I menjadi pendorong utama konsumsi.

”Belanja masyarakat untuk makanan, minuman, pakaian, transportasi, hingga akomodasi meningkat signifikan. Indikator seperti indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel juga menguat,” ujarnya.

Infografik Perbandingan Konsentrasi Belanja Kementerian/Lembaga pada Pemerintahan SBY, Jokowi, dan Prabowo Subianto

Belanja pemerintah

Selain konsumsi masyarakat, belanja pemerintah dan investasi juga menopang pertumbuhan. Pemerintah mulai mempercepat pencairan belanja sosial dan infrastruktur setelah tertahan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, investasi didorong oleh proyek infrastruktur, hilirisasi industri, serta belanja modal BUMN.

Meski demikian, Josua mengingatkan adanya risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor barang modal serta menahan minat investasi asing.

Proyeksi yang lebih moderat disampaikan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 berada di kisaran 5,25-5,35 persen. 

Dalam laporan bertajuk ”Brief Report: Quarterly Economic Review Q1-2026” yang dirilis CORE Indonesia pada 29 April 2026, pertumbuhan itu utamanya ditopang oleh prospek pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta pembentukan modal tetap bruto dan belanja pemerintah pusat.

Namun, CORE Indonesia mengingatkan, tekanan inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) berpotensi meningkat seiring kenaikan harga energi dan bahan baku global. Ini termasuk lonjakan harga plastik akibat mahalnya nafta serta kenaikan harga elpiji nonsubsidi.

Dari sisi fiskal, akselerasi belanja negara pada awal tahun menopang pertumbuhan meski menghasilkan risiko pelebaran defisit. Hingga triwulan I-2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau 21,2 persen dari target APBN, tumbuh 31,4 persen secara tahunan. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp 574,9 triliun atau meningkat 10,5 persen.

Infografik Belanja dan Pendapatan Negara 2025-2026

Percepatan belanja tersebut mendorong defisit APBN melebar menjadi Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto pada awal tahun. Namun, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai strategi percepatan realisasi belanja di awal tahun (front-loading) diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.

”Dulu, triwulan IV itu adalah (periode) pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan,” kata Juda, pekan lalu.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Padang, Syafruddin Karimi menilai, pola belanja pemerintah yang kali ini lebih merata sepanjang tahun dapat memperkuat dorongan fiskal terhadap ekonomi.

”Dengan belanja yang mulai digelontorkan sejak awal tahun, aktivitas ekonomi bisa bergerak lebih cepat dan tidak menumpuk di akhir tahun,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kombinasi konsumsi masyarakat yang kuat, percepatan belanja pemerintah, dan investasi yang mulai bergeliat menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid pada triwulan I-2026 meskipun tekanan global masih tinggi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti