Laga Spanyol versus Portugal mempertemukan banyak hal, mulai dari Yamal dan Ronaldo sampai tim yang paling dominan dan yang selalu mampu bangkit pada momen kritis.
07 Jun 2025 17:19 WIB · Olahraga
MUENCHEN, SABTU — Sangat sulit menandingi dominasi Spanyol, juara bertahan Liga Nasional Eropa yang selalu tampil begitu kolektif dan dinamis bersama bintang 17 tahun Lamine Yamal. Namun, Spanyol memperlihatkan sedikit celah untuk dieksploitasi Portugal yang selalu lambat panas bagai mesin diesel.
Duel para juara akan tersaji dalam final Liga Nasional musim 2024-2025 di Stadion Muenchen Football Arena, Jerman, Senin (9/6/2025) pukul 02.00 WIB. Juara edisi sebelumnya, Spanyol, ditantang Portugal yang merupakan pemenang edisi pertama. Mereka berkesempatan menjadi tim pertama dengan koleksi dua trofi di turnamen itu.
Spanyol masih sangat dominan. Bukan tanpa alasan, tim asuhan Pelatih Luis de la Fuente itu merajai dua turnamen Eropa dalam dua tahun terakhir, yaitu Liga Nasional dan Piala Eropa. Tim-tim besar, seperti Belanda dan Perancis, sudah merasakan sendiri kekuatan tidak terbendung Spanyol saat tereliminasi di babak gugur.
Tahun ini, tim ”Matador’ bertambah kuat seiring Yamal yang semakin dewasa. Kandidat kuat peraih Ballon d’Or selanjutnya itu menjadi pusat kreativitas sekaligus mesin gol tim. Dia sudah mencetak tiga gol dalam dua laga terakhir di tim nasional, termasuk menjadi otak di balik banyak gol yang dihasilkan Spanyol.
Yamal, suksesor Lionel Messi di Barcelona, menyambut partai puncak dengan antusias. Dia akan berhadapan dengan penyerang legendaris Portugal, Cristiano Ronaldo, yang merupakan rival abadi Messi. ”Ronaldo seorang legenda dan saya menghormatinya, tetapi tujuan saya hanya menang dan membawa trofi kembali ke Spanyol,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/7dff5d2eaef4098f13097822b6d504b0-APTOPIX_Spain_France_Nations_League_Soccer.jpg)
Menariknya, Spanyol bukan hanya Yamal. Sistem kolektif ala Fuente memegang peranan penting kesuksesan tim. Mereka bisa memunculkan bahaya dari segala sisi, tidak hanya dari sisi kanan yang ditempati Yamal. Terdapat ancaman penyerang sayap Nico Williams di sisi kiri dan kejutan dari gelandang Mikel Merino dan Pedri di tengah.
Kolektivitas itu membuat Spanyol begitu sulit dibendung selama babak gugur. Mereka sudah mencetak sepuluh gol dalam laga versus Perancis (semifinal) dan Belanda (dua laga perempat final). Seluruh gol itu dihasilkan oleh lima pemain, yaitu Yamal (3), Merino (2), Williams (2), Pedri (1) dan penyerang Mikel Oyarzabal (2).
Masalahnya, Spanyol juga membawa masalah yang belum terselesaikan ke final. Mereka sering kehilangan konsentrasi setelah unggul. Ketika menghadapi Perancis, Yamal dan rekan-rekan sempat kehilangan kontrol setelah unggul 5-1 sampai menit ke-79. Mereka tiba-tiba kecolongan tiga gol dan hanya menang tipis 5-4.
Hal serupa terjadi dalam dua laga kandang dan tandang versus Belanda. Spanyol selalu mampu unggul lebih dulu, tetapi tidak pernah bisa mempertahankan hingga peluit panjang. Puncaknya pada laga kedua, Spanyol kehilangan posisi unggul sebanyak tiga kali dan terpaksa menjalani babak adu penalti.
Merino berkata, problem itu harus segera diatasi sebelum bertemu Portugal. ”Kemasukan jumlah gol yang terlalu banyak itu tidak ideal. Kami harus memperbaiki kesalahan untuk menghadapi final. Portugal punya kualitas tim luar biasa, lihat saja skuad mereka. Banyak pemain dengan kualitas individu sangat baik,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/a68b98ed-4d07-48ab-bcde-72ee0c8825bc_jpg.jpg)
Portugal mulai dikenal sebagai tim ”mesin diesel” belakangan ini. Mereka berhasil menang atas Jerman di semifinal dan Denmark di perempat final berkat kebangkitan pada paruh kedua. Ronaldo dan rekan-rekan menciptakan tujuh gol dalam dua laga itu, sebanyak enam gol di antaranya diciptakan setelah menit ke-60.
Pelatih Kepala Portugal Roberto Martinez selalu mampu membuat pergantian pemain yang tepat. Di semifinal, saat tertinggal 0-1 pada turun minum, Portugal memasukkan Francisco Conceicao dan Vitinha dari bangku cadangan. Sepuluh menit setelah pergantian, mereka sudah berbalik unggul 2-1. Conceicao mencetak gol penyeimbang.
Di perempat final, skuad cadangan Portugal kembali memegang peran penting. Tiga gol terakhir yang membuat Portugal menang atas Denmark, pada pengujung waktu normal dan babak tambahan, dikontribusikan oleh pemain cadangan. Mereka adalah Trincao (2 gol), Goncalo Ramos (1 gol), dan Diogo Jota (1 asis).
Kemampuan Portugal untuk mengubah momentum setelah turun minum tidak terlepas dari kedalaman skuad yang sangat istimewa. Lihat saja lini tengah mereka ketika melawan Jerman. Saking penuh dengan bakat, dua gelandang bintang Paris Saint-Germain, Joao Neves dan Vitinha, sampai tersisih.
Neves ditampilkan sebagai bek sayap, sementara Vitinha memulai laga dari bangku cadangan. Padahal, duet tersebut baru saja mengorkestrasi salah satu penampilan paling dominan di sejarah final Liga Champions. Adapun trio gelandang Portugal diisi Bruno Fernandes, Bernardo Silva, dan Ruben Neves yang tidak kalah istimewa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/d2fb47c9-7dc0-4596-8d67-83bd752fe2bf_jpg.jpg)
”Jika pelatih mengganti satu atau dua pemain, saya pikir itu tidak akan terlalu berarti. Pemain yang masuk dari cadangan selalu bisa banyak membantu. Performa Chico (Conceicao), Vitinha, Jota bisa membuat perbedaan. Kami senang dengan skuad yang dimiliki saat ini,” kata Silva, sang gelandang kreatif Manchester City.
Selain Yamal versus Ronaldo, pertarungan individu sengit juga akan terjadi di lini tengah. Tiga gelandang PSG kemungkinan saling bertarung. Neves dan Vitinha akan berhadapan dengan Fabian Ruiz yang sempat diistirahatkan pada babak sebelumnya. Mereka adalah otak utama dalam kejayaan PSG musim ini. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra