Segmen mobil LCGC masih mendominasi pasar, tetapi tren mobil hibrida dan listrik terus meningkat.
19 Feb 2025 14:35 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Segmen mobil hemat bahan bakar, ramah lingkungan, dan terjangkau (LCGC) masih mendominasi pasar otomotif nasional. Namun, tren peningkatan juga terlihat pada segmen mobil hibrida dan listrik. Insentif dari pemerintah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan penjualan mobil baru.
Meski demikian, pasar otomotif nasional masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait daya beli konsumen. Ekonom Josua Pardede menjelaskan bahwa rendahnya angka penjualan mobil tidak terlepas dari kondisi domestik, seperti menurunnya daya beli masyarakat terutama di kelas menengah serta kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan. Selain itu, faktor global seperti tingginya suku bunga juga turut memengaruhi daya beli konsumen.
Padahal, kata Josua, segmen terbesar industri otomotif nasional adalah masyarakat kelas menengah yang menyasar mobil dengan harga sekitar Rp 200 juta–400 juta serta segmen low-cost green car (LCGC) di bawah Rp 200 juta.
“Kondisi daya beli masyarakat kelas menengah ada kecenderungan menurun. Downtrading (tren menurun) terjadi karena kekhawatiran kehilangan pekerjaan, sehingga masyarakat atau konsumen akhirnya tidak membeli atau memilih mobil dengan harga lebih murah di pasar mobil bekas,” kata Josua, dalam Dialog Industri Otomotif Nasional, Selasa (18/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/a085d94b77432fbd206c7147a271353c-IMG_20250218_190848.jpg)
Acara itu diselenggarakan oleh Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS), di JIEXpo, Kemayoran, Jakarta. Dialog ini bagian dari agenda Indonesia International Motor Show (IIMS).
Data menunjukkan bahwa penjualan mobil pada 2024 memang turun, yaitu sekitar 865.000 unit. Namun, untuk penjualan mobil bekas diperkirakan mencapai sekitar 3 juta.
Sejumlah kondisi itu, kata Josua, menjadi tantangan untuk meningkatkan penjualan mobil di Indonesia yang rata-rata dari 2010-2024 masih terjebak di angka 1 juta unit.
Tantangan tidak hanya terjadi pada peningkatan penjualan mobil LCGC, tetapi juga pada mobil hybrid electric vehicle (HEV) dan battery electric vehicle (BEV). Untuk sejumlah merek, harga segmen HEV dan BEV masih tergolong tinggi, terutama dengan adanya kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12 persen serta opsen kendaraan bermotor.
Meski begitu, kategori mobil hibrida dan listrik menunjukkan tren positif pada 2024 dengan peningkatan penjualan. Pada mobil hibrida dari 52.434 unit pada 2023 meningkat sebanyak 56.684 unit pada 2024. Sementara mobil listrik 17.062 unit pada 2023 meningkatkan signifikan menjadi 43.336 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/6c7e39d8-b113-4778-87c7-a50e911734dc_jpg.jpg)
PPN 12 persen dan opsen memang menjadi tantangan dalam meningkatkan penjualan mobil. Namun, insentif dari pemerintah menimbulkan optimisme dan memberikan angin segar bagi produsen mobil, terutama di segmen hibrida dan listrik.
Insentif untuk mobil hibrida berupa diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) 3 persen. Sedangkan, untuk mobil listrik PPnBM DTP sebesar 10 persen.
Head of Government and Public Relationship PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan menyambut positif kebijakan insentif itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/779db5a5-c25d-47e5-9eed-4589a57e2ffc_jpg.jpg)
Terkait upaya pengembangan segmen mobil listrik harga murah agar semakin dilirik, Luther melanjutkan, BYD dan seluruh brand harus meningkatkan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ini menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai pihak untuk mewujudkan pasar yang ideal.
”Sehingga, harga mobil listrik bisa ditekan, yang ujungnya akan membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan kendaraan ramah lingkungan,” katanya.
Head of Public Relationship PT Toyota Astra Motor, Philardi Sobari mengatakan, meski secara umum ada peningkatan pada segmen mobil hibrida dan listrik, pihaknya tetap akan menjaga segmen mobil LCGC karena merupakan pasar terbesar di Indonesia.
Ke depan, dengan perkembangan industri otomotif dan upaya mencapai net zero emission, Toyota berkomitmen menghadirkan kendaraan elektrifikasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/4d697e34-129c-40e0-9473-c85579aebbee_jpg.jpg)
Pihaknya pun optimis pada 2025 penjualan mobil akan membaik dibandingkan 2024, karena dukungan pemerintah dalam memberikan insentif.
Josua menambahkan, jika ingin meningkatkan penjualan mobil, pemerintah perlu memberikan stimulus lanjutan untuk industri otomotif nasional pada tahun berikutnya.
“Kalau tidak didukung akan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan karena industri otomotif merupakan industri padat karya,” kata Josua.
Selain itu, untuk meningkatkan daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi harus tumbuh lebih dari 5 persen. Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong kuat investasi untuk menstimulasi pendapatan masyarakat hingga penyerapan tenaga kerja.
“Target pendapatan per kapita bisa mencapai 12.000 dollar AS supaya menjadi negara maju. Kita saat ini masih berkutat di 5.000 dollar AS per tahun ,” kata Josua.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Muhammad Fajar Marta