Walau tidak pernah ikutan pesta mesum Epstein, pedofil itu mengatakan Trump tahu soal gadis-gadis belia yang dilacurkan.
13 Nov 2025 18:30 WIB · Internasional
AP/JOSE LUIS MAGANA
WASHINGTON DC, KAMIS — Setelah masyarakat Amerika Serikat menunggu lama, Kongres AS akhirnya mengeluarkan 23.000 halaman dokumen terkait Jeffrey Epstein. Di dalamnya nama Presiden AS Donald Trump dan Andrew dari Kerajaan Inggris disebut-sebut.
Dokumen dikeluarkan oleh Kongres AS di Washington DC, Rabu (12/11/2025) atau Kamis (13/11/2025) waktu Indonesia. Dokumen 23.000 halaman itu berisi perihal surat-menyurat Epstein. Sejatinya, itu bukan keseluruhan dokumen terkait skandal tersebut.
Jeffrey Epstein adalah pengusaha yang dulu berbasis di New York, AS. Ia meninggal di penjara pada 2019, dugaannya bunuh diri. Semasa hidup, Epstein juga seorang muncikari dan pedofil. Ia melacurkan gadis-gadis di bawah umur untuk klien yang merupakan orang kaya dan terkenal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/c92836ad-90e5-4542-8ae6-69a042695bf2_jpg.jpg)
Salah satu kliennya adalah Andrew, adik Raja Inggris Charles III. Andrew terbukti berhubungan seksual dengan Virginia Giuffre ketika perempuan itu masih berumur belasan.
Sebagai hukuman, Kerajaan Inggris mencopot Andrew dari semua gelar kebangsawanan dan militer. Baru-baru ini, gelar ”pangeran” dan ”yang mulia” Andrew juga dicopot. Adapun Giuffre meninggal akibat bunuh diri di umur 41 tahun beberapa bulan lalu karena depresi.
”Terbitnya dokumen Epstein sama sekali tidak membuktikan Presiden Trump terlibat dalam kasus ini. Justru, beliau jelas tidak melakukan kesalahan apa pun,” kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dalam jumpa pers harian.
Awalnya, dokumen mengenai kasus Epstein hampir tidak dirilis oleh Kongres. Pasalnya, jumlah anggota yang meminta dokumen dibuka tidak memenuhi batas minimal persyaratan.
Namun, Adelita Grijalva, anggota Kongres dari Partai Demokrat Negara Bagian Arizona, dilantik pada awal pekan ini. Ia langsung memasukkan namanya ke daftar pemohon pembukaan dokumen Epstein. Berkat itu, kuota terpenuhi dan Kongres pun membuka berkas tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/60c24371-6b8e-40f1-a235-7778e60e1a47_jpg.jpg)
Menurut rencana, Kongres bersidang pada Desember nanti. Mereka akan membahas jika semua berkas kasus Epstein dibuka ke masyarakat atau bagian-bagian tertentu saja.
Partai Demokrat terbelah. Sebagian mendukung pembukaan dan sebagian yang setia kepada Trump menentangnya. Sikap juga ditunjukkan Ketua DPR AS Mike Johnson. ”Buka-bukaan berkas ini modus pengalihan isu oleh Partai Demokrat. Mereka cuma mencari-cari kesalahan Presiden,” kata Johnson kepada CNN.
Sejak Epstein dipenjara pada 2019, Trump yang ketika itu masih menjalani masa jabatan pertama 2017-2021 berkali-kali menyangkal ia terlibat dengan Epstein. Ia berulang kali membantah mengetahui aktivitas perdagangan seks yang dilakukan Epstein.
”Saya cuma kenal Jeffrey sebagai sesama pengusaha di New York, itu saja,” kata Trump.
Namun, surel-surel Epstein berkata lain. Surel itu antara Epstein dan orang lain. Tidak ada surel antara Epstein dan Trump. Dalam surel, Epstein menulis bahwa Trump memang tidak pernah berkunjung ke pulau pribadi Epstein di Karibia.
Surat-suratan intens Epstein antara lain dengan Michael Wolff selama 2015-2016. Ketika itu, Wolff sedang menulis buku mengenai Trump.
Trump sendiri sedang berkampanye mengikuti pemilihan umum presiden AS. ”Donald tidak pernah ke pulau saya atau ikut-ikutan, tapi dia tahu persis tentang gadis-gadis itu,” tulis Epstein kepada Wolff.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/f1012663-a156-4d16-9cc0-4840fefab01f_jpg.jpg)
Surel itu mematahkan argumen Trump selama ini. Ia mengaku tidak tahu bahwa Epstein adalah seorang pedofil dan menjual gadis-gadis di bawah umur.
Dalam surat yang lain, Epstein dan Wolff berkomunikasi mengenai kemungkinan ”melatih” Trump sebelum ia melakukan debat calon presiden. Tujuannya agar jangan sampai Trump keceplosan bicara mengenai Epstein.
Ada pula surel Epstein dengan wartawan harian New York Times, Landon Thomas, pada Desember 2015. Ketika itu, Thomas mengontak Epstein guna meminta klarifikasi.
Pada 2002, Trump diwawancara oleh New York Times. ”Saya berteman dekat dengan Epstein. Orangnya baik. Sama seperti saya, dia menyukai perempuan-perempuan cantik. Bedanya, Jeffrey doyan yang sangat muda,” ujar Trump dalam wawancara itu.
Thomas melampirkan artikel yang dimaksud dan meminta tanggapan Epstein konteksnya adalah kampanye pilpres Trump. Pengusaha itu pun membahas surelnya.
”Pertama-tama, Anda teliti dulu deh keuangan perusahaan Trump. Kedua, saya punya foto Donald dengan gadis-gadis berbikini di dapur rumah saya. Mau lihat?” tulis Epstein.
Epstein tidak pernah mengirim foto yang dimaksud kepada Landon. Dalam surel lain, ia menulis, ”Donald itu centil sekali. Pernah ia melihat gadis-gadis muda berenang di kolam rumah saya, ia hampir menabrak pintu.”
Orang lain yang disebut dalam surel Epstein adalah Presiden AS 1993-2001 Bill Clinton. Publik mencurigai Clinton terlibat di dalam dunia hitam Epstein. Apalagi, Clinton ketika menjadi kepala negara pernah terbukti tidak setia kepada istrinya, Hillary.
”Kalau Clinton, saya cuma kenal dan bertemu di beberapa acara formal. Ia bukan teman dan tidak pernah ke tempat saya,” tulis Epstein dalam salah satu surelnya.
Berkas yang dibuka oleh Kongres AS itu juga ada yang berupa surel Andrew dari Inggris kepada Ghislaine Maxwell. Maxwell adalah pacar Epstein dan terlibat melacurkan gadis-gadis di bawah umur. Ia sedang menjalani hukuman penjara 20 tahun.
Andrew bersurat kepada Maxwell pada 2015. Ketika itu, Virginia Giuffre, penyintas kekerasan seksual oleh Epstein, Maxwell, dan Andrew, angkat bicara. Ia menuturkan tentang iming-iming Epstein dan Andrew supaya Giuffre yang masih berumur 17 tahun mau ditiduri Andrew.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/06/192cbfe2-c5ad-4ca6-b715-799a5ff8b47b_jpg.jpg)
”Bisakah kau menghentikan ini semua? Aku sudah tidak tahan,” tulis Andrew kepada Maxwell, mengacu kepada peristiwa saat ia dikejar-kejar oleh wartawan. Andrew sendiri kemudian mengakui perbuatannya dalam wawancara eksklusif dengan BBC.
”Partai Republik harus berani bertindak membela kebenaran, bukan membela penguasa,” kata Thomas Massie, anggota DPR AS dari Partai Republik, kepada CNN.
Ia salah satu dari kubu Republikan yang menggugat pertanggungjawaban Trump. Menurut Massie, pernyataan Trump tidak cukup. Kongres akan membahas pentingnya melakukan penyelidikan menyeluruh guna menguak kelindan skandal Epstein di politik Washington DC.
Berdasarkan jajak pendapat kantor berita AP dan NORC, kepopuleran Trump per awal November 2025 hanya 33 persen. Justru, kalangan pendukung Partai Republik banyak yang mengutarakan kekecewaan mendalam.
Mereka memprotes pemecatan besar-besaran karyawan federal tanpa pengumuman ataupun pesangon. Selain itu, kebuntuan anggaran atau shutdown yang berlangsung selama 49 hari membuat berbagai layanan jaminan sosial mandek. (AP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar