RD Kongo lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kali dalam sejarah. Mereka memberikan alasan bagi para warga untuk berpesta, berlari sejenak dari derita.
28 Jun 2026 11:45 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP
ATLANTA, SABTU — Dua puluh dua menit terakhir laga versus Uzbekistan akan dikenang selamanya dalam sejarah Republik Demokratik Kongo. Wakil Afrika itu bangkit dari ”kegelapan” untuk lolos pertama kali ke fase gugur Piala Dunia. Pada saat bersamaan, Korea Selatan harus pulang dengan memori buruk.
Kongo masih tertinggal 0-1 dari Uzbekistan setelah laga terakhir Grup K itu berlangsung lebih dari satu jam di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Minggu (28/6/2026) WIB. Situasi mereka terpojok ketika itu karena menempati posisi juru kunci dengan hanya satu poin.
Yoanne Wissa dan rekan-rekan enggan menyerah. Setelah mengepung lawan terus-terusan, tembok kokoh Uzbekistan yang dipimpin bek Manchester City, Abdukodir Khusanov, akhirnya runtuh juga. Momentum laga berbalik setelah pelanggaran Khusanov di kotak penalti.
Kami harus menikmati ini karena perjalanan kami sungguh berat. Kami harus bangga mengenakan seragam ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/13f5978ef2ba6fd9c6a058e32d34eced-Congo_DR_v_Uzbekistan__Group_K_FIFA_World_Cup_2026_2_.jpg)
Wissa, pemain terbaik tim, mengeksekusi sendiri penalti tersebut. Dia berhasil membuat kedudukan kembali seimbang. Semangat dan kepercayaan diri skuad Kongo naik berkali-kali lipat setelah itu. Mereka menutup laga dengan kemenangan 3-1 lewat tambahan gol dari Fiston Mayele dan Wissa.
”Kami harus memberi selamat kepada para pemain. Merekalah yang bermain luar biasa. Kami adalah tim yang tahu bagaimana merespons ketika kemasukan, kami terus berjuang dengan tekad. Kami benar-benar bahagia untuk seluruh rakyat Kongo,” kata Pelatih Kongo Sebastien Desabre.
Itu merupakan kemenangan pertama Kongo di Piala Dunia. Mereka meraihnya dalam keikutsertaan kedua seusai gagal mendapat satu poin pun dalam debut di edisi Jerman Barat 1974. Tim asuhan Desabre kini sukses mengoleksi empat poin dan lolos untuk pertama kali ke fase gugur.
”Macan Tutul”, julukan Kongo, menyingkirkan Korsel (3 poin) dalam perebutan delapan besar peringkat ketiga terbaik. Mereka sangat layak lolos sebab telah menunjukkan kualitas dan kematangan sejak awal turnamen. Salah satu poin mereka dihasilkan dengan menahan imbang tim unggulan Portugal.
Fimbu, tarian perayaan khas dari Kongo, pun kembali tersaji di Stadion Mercedes-Benz seusai peluit panjang. Tarian yang seperti gerakan mencambuk itu diperagakan para pemain di depan pendukung sendiri. Tradisi tersebut melambangkan kemenangan dalam pertempuran.
Wissa berkata, kebersamaan adalah kekuatan terbesar mereka. Tidak ada individu yang lebih menonjol walaupun beberapa di antara mereka berstatus pemain Liga Inggris. ”Kami harus menikmati ini karena perjalanan kami sungguh berat. Kami harus bangga mengenakan seragam ini,” ujar pemain Newcastle United itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/34f2937cb5e66a94d5025d3f1c18fd64-Congo_DR_v_Uzbekistan__Group_K_FIFA_World_Cup_2026_1_.jpg)
Bagi negara miskin seperti Kongo, sepak bola berarti lebih dari sekadar olahraga. Itu merupakan alasan kebahagiaan utama dan alat pemersatu warga. Hanya dari 90 menit pertarungan di lapangan, mereka bisa melupakan sejenak persoalan eksploitasi ekonomi dan sosial-politik.
Ikon terbesar Kongo di Piala Dunia kali ini bukanlah para pemain, melainkan sosok penggemar bernama Lumumba Vea. Pria yang dikenal sebagai ”patung hidup” itu selalu melakukan aksi teatrikal di tribune. Aksinya sempat heboh dalam pertandingan Kongo versus Kolombia.
Lumumba membuat gestur menutup mulut. Lalu, tangan lainnya menirukan gerakan menodongkan pistol ke kepala. Dia sedang berupaya menyuarakan keresahan terhadap krisis kemanusiaan dan kekerasan yang terus berlanjut di Kongo Timur. Wilayah itu tenggelam dalam konflik selama puluhan tahun.
Keresahan itu sudah pernah disuarakan skuad Kongo sebelumnya. Wissa dan rekan-rekan juga membuat gestur serupa saat lagu kebangsaan dimainkan dalam laga semifinal Piala Afrika 2023. Semua itu memperlihatkan sepak bola telah melampaui permainan. Kemenangan pun menjadi lebih berarti dan patut dirayakan.
Kongo sudah dinanti tim raksasa Inggris di babak 32 besar. Meskipun berstatus kuda hitam, mereka tidak perlu takut dengan performa yang ditunjukkan selama babak grup. Apalagi, mereka diperkuat pemain seperti Wissa dan Aaron Wan-Bissaka yang sudah terbiasa dengan atmosfer sepak bola Inggris.
Di laga lain Grup K, Kolombia berhasil menahan imbang Portugal dalam laga tanpa gol. Hasil itu membuat Kolombia keluar sebagai juara grup dengan tujuh poin. Portugal harus puas berada di peringkat kedua dengan lima poin. Adapun Uzbekistan tereliminasi langsung dalam debut mereka.
(AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar