Dosa Kolektif Dunia terhadap Gaza

Lokasi-lokasi penyaluran bantuan di Gaza kini menjadi ladang pembantaian warga Palestina. Dunia memikul dosa kolektif atas ketidakmampuan menindak kekejaman Israel.

23 Jul 2025 05:38 WIB · Tajuk Rencana

Oleh REDAKSI

Dunia tak berdaya melihat kekejaman terus berlangsung di Gaza. Kegagalan menghentikannya menjadi dosa kolektif dunia, termasuk jika hal serupa kelak berulang.

Kabar kekejaman Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza terus bergulir tiada henti. Bahkan, skala kekejamannya semakin brutal dan tidak bisa diterima nalar sehat. Bagaimana mungkin bisa terjadi, warga dalam kondisi kelaparan dan mengantre bantuan kemanusiaan ditembaki hingga tewas.

Kekejaman terbaru dilaporkan Program Pangan Dunia PBB (WFP), badan PBB yang menangani bantuan pangan di seluruh dunia. Pada Minggu (20/7/2025), demikian laporan WFP, kumpulan warga Gaza saat mendekati truk-truk WFP pengangkut bantuan pangan ditembaki tank Israel, penembak runduk, dan senjata tempur lain.

Lokasi-lokasi penyaluran bantuan di Gaza kini menjadi ladang pembantaian warga Palestina. Sejak akhir Mei 2025, penyaluran bantuan di Gaza diambil alih lembaga bentukan Israel-Amerika Serikat, Gaza Humanitarian Foundation.

Anak-anak dan warga Palestina menanti pembagian bantuan makanan di sebuah dapur lembaga amal di area Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Selasa (22/7/2025).

Menurut estimasi Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Jauh (UNRWA), lebih dari 1.000 warga Gaza dilaporkan tewas saat berupaya memperoleh bantuan pangan sejak akhir Mei lalu. PBB pada 15 Juli mencatat sedikitnya 875 orang tewas di lokasi-lokasi GHF.

Quote

Ini seperti dosa kolektif dunia yang tak mampu bertindak menghentikan kekejaman di Gaza. Raja Belgia Philippe pun menyatakan situasi di Gaza ”memalukan bagi kemanusiaan”.

Situasi di Gaza saat ini, mengutip Amnesty International, memperlihatkan cara Israel mengeksploitasi kelaparan warga Palestina sebagai senjata dan penghancuran kehidupan warga Gaza di tengah genosida yang terjadi. Omer Bartov, profesor studi Holocaust dan genosida berkewarganegaraan AS-Israel, dalam artikel di The New York Times, Selasa (15/7/2025), menyebut Israel melakukan genosida bangsa Palestina.

Pengingkaran atas genosida di Gaza, tulis Bartov, tak hanya menimbulkan kerusakan bagi warga Gaza, tetapi juga menghancurkan sistem hukum internasional yang dibangun setelah horor Holocaust untuk mencegah terulangnya malapetaka kemanusiaan itu. Ironisnya, dunia tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa melihat kekejaman itu di depan mata.

Ini seperti dosa kolektif dunia yang tak mampu bertindak menghentikan kekejaman di Gaza. Raja Belgia Philippe pun menyatakan situasi di Gaza ”memalukan bagi kemanusiaan”. Sebanyak 28 negara, termasuk sahabat-sahabat Israel, seperti Jerman, Perancis, Inggris, dan Kanada, menyebut pelanggaran HAM di Gaza sudah makin keterlaluan (Kompas.id, 22/7/2025).

Kita tidak ingin kecaman-kecaman itu hanya retorika kosong. Seperti diserukan lembaga The Lemkin Institute for Genocide Prevention, para pemimpin dunia harus bertindak nyata menghentikan kekejaman ini. Genosida di Gaza tak bisa dibiarkan berlanjut, sementara dunia hanya jadi penonton. Kita tak bisa lagi menunggu. Sejarah mencatat semua ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Andreas Maryoto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto