CATATAN URBAN

”Downgrade” dan Lanjutkan Hidupmu, Kawan

Di tengah tekanan ekonomi dan budaya pamer, hidup sederhana menjadi cara warga menata ulang prioritas dan memaknai kecukupan. "Downgrade" dan temukan kebebasanmu.

02 Okt 2026 13:00 WIB · Kolom

Kompas/Supriyanto

Oleh Neli Triana

”Baru saja menjual sepeda motor ber-CC besar, ganti molis simpel hemat.” ”Me-lego mobil satu-satunya untuk modal, tidak mengapa yang penting usaha halal.” ”Tunda kuliah, daripada nambah utang.” ”Jual lensa kamera, buat nutup sehari-hari. Ntar kerja sewa lensa dulu.”

Unggahan-unggahan serupa pada akhir-akhir ini mengakrabi warganet lewat media sosial ataupun aplikasi percakapan. Istilah downgrade turut tenar seiring berseliwerannya unggahan tentang realitas warga yang terasa dekat bagi banyak orang. Hal tersebut sekaligus menjadi katup pelepasan bagi mereka yang selama ini mungkin ingin mencurahkan pengalaman yang sama.

Meskipun baru disadari publik luas, fenomena yang ditunjukkan lewat unggahan personal tanpa polesan ini sebenarnya telah lama berlangsung. Media sosial berbasis teks, khususnya Threads, bisa dibilang menjadi ruang bagi fenomena ini kembali dikenali. Ini sekaligus menjadi wadah penyaluran bagi warganet yang bosan, lelah, dan muak dengan kanal lain yang dikuasai pemengaruh politik sampai selebritas atau yang menjadi ajang pamer segala sesuatu yang indah dan mewah.

Seorang pekerja kantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta, misalnya, memilih membagikan foto kotak plastik berisi menu masakan rumahannya yang biasa saja. Responsnya ternyata luar biasa antusias. Banyak akun menimpali bahwa praktik itu sangat umum dilakukan, sama seperti bersantap di warteg atau warung emperan murah meriah. Makan siang di restoran trendi jelas jarang dilakukan begitu banyak orang dan itu tidak mengapa.

Di utas lain, seorang pemuda menceritakan keputusannya meninggalkan kendaraan bermotor pribadi. Ia kini sedang menikmati menghafal rute dan jadwal transportasi publik. Cerita-cerita harian ini mengalir deras tanpa basa-basi atau bumbu dramatisasi. Tidak ada filter estetik warna pastel, absen pula narasi motivasi kosong ala pemengaruh berbayar atau berafiliasi dengan produk jualan tertentu.

Ilustrasi komsumsi sampah media sosial yang melemahkan fungsi otak

Utas-utas itu memotret kehidupan normal, sebuah realitas konkret tentang penurunan standar gaya hidup harian yang sebenarnya juga sebuah praktik umum di tengah masyarakat.

Namun, itu semua seperti tertutup setelah selama lebih dari satu dekade terakhir, ruang interaksi digital kita didominasi pameran pencapaian atau flexing tanpa henti. Berbagai platform berbasis foto dan video secara konsisten membentuk standar kesuksesan visual yang seringkali artifisial. Agenda liburan ke Eropa demi bermain salju, koleksi barang bermerek edisi terbatas, hingga rutinitas mengonsumsi kopi artisan dari biji pilihan menjadi semacam syarat tidak tertulis agar seseorang diterima dalam pergaulan kaum urban.

Akan tetapi, gelombang pengakuan di lini masa belakangan ini justru memperlihatkan perubahan cara pandang. Menjalani rutinitas yang biasa-biasa saja tiba-tiba mendapatkan panggung utama. Ruang maya perlahan menjadi tempat berbagi pengalaman yang selama ini kurang terlihat di tengah dominasi pameran pencapaian dan kemewahan.

Realitas sosial ini tidak terlahir begitu saja. Ini sepotong wajah situasi dan kondisi saat ini. Tekanan ekonomi membuat banyak orang harus menghitung ulang seluruh pos pengeluaran mereka. Biaya hidup, cicilan, kebutuhan pendidikan, hingga ketidakpastian pendapatan membuat mempertahankan gaya hidup masa lalu semakin sulit. Keputusan memangkas standar hidup pada akhirnya tidak selalu lahir dari pilihan gaya, tetapi bisa menjadi strategi untuk bertahan.

Tak malu lagi

Aspek paling menarik dari fenomena ini adalah berkurangnya rasa malu, yang justru digantikan pancaran kelegaan. Menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kecemasan demi mempertahankan citra sukses di mata orang lain ternyata dapat menguras energi mental. Ada semacam katarsis ketika seseorang akhirnya berani mengakui keterbatasan materialnya dan berhenti memaksakan diri mengikuti arus tren kekinian. Dan, mereka memperoleh dukungan!

Tekanan psikologis akibat interaksi digital ini antara lain dijelaskan dalam riset bertajuk ”Social Media Fatigue in Emerging Adulthood: Exploring the Role of Fear of Missing Out and Upward Appearance Comparison”. Penelitian Yolanda Jaya, Monique Elizabeth Sukamto, dan Made Ayudhyastiti Savita Putri (2025) terhadap 369 responden berusia 18-25 tahun di Indonesia itu menemukan bahwa ketakutan tertinggal dari pengalaman orang lain atau dikenal sebagai FOMO berperan dalam meningkatkan kelelahan bermedia sosial. Perbandingan penampilan fisik dengan orang yang dianggap lebih menarik juga menjadi salah satu faktor yang menjembatani hubungan tersebut.

Penelitian ini memang tidak secara khusus membahas fenomena downgrade. Namun, temuannya memberi gambaran tentang tekanan psikologis yang dapat muncul ketika seseorang terus-menerus terpapar kehidupan orang lain di ruang digital. Dalam konteks budaya pamer pencapaian, kecenderungan membandingkan diri dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa tidak pernah cukup. Unggahan tentang downgrade dapat dibaca sebagai salah satu bentuk pengakuan atas keinginan untuk mengambil jarak dari tuntutan tersebut.

Perubahan orientasi konsumsi juga dapat didekati melalui konsep voluntary simplicity atau kesederhanaan sukarela. Apollo Demirel dalam publikasi ”Voluntary Simplicity: An Exploration Through Text Analysis” (2022) menganalisis 5.336 unggahan dan komentar dari komunitas di Facebook yang memiliki ketertarikan pada gaya hidup sederhana. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana praktik membatasi konsumsi berkaitan dengan dimensi personal, perilaku, dan lingkungan sosial. Kesederhanaan dalam konteks ini merupakan pilihan sadar untuk mengurangi konsumsi berlebihan karena pertimbangan nilai dan keberlanjutan hidup.

Namun, ada perbedaan antara kesederhanaan yang dipilih secara sukarela dan penurunan standar hidup karena keterpaksaan ekonomi. Orang yang menjual kendaraan atau barang berharga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari belum tentu sedang menjalankan gaya hidup sederhana atas kehendaknya sendiri. Keduanya memang dapat menghasilkan perubahan pola konsumsi, tetapi berangkat dari situasi yang berbeda. Meski demikian, perjumpaan kedua pengalaman itu di ruang digital membuka percakapan tentang cara baru memaknai kecukupan.

Asah empati dan simpati

Respons sukacita warganet atas setiap unggahan yang dinilai mewakili mereka menjadikan kolom komentar sebagai ruang dukungan sosial digital. Setiap tanggapan yang menyatakan pengalaman serupa memberi pengakuan bahwa kesulitan memenuhi standar gaya hidup kota bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Kerentanan individu yang sengaja dibuka ini turut mengurangi perasaan terasing yang selama ini mungkin dialami warga metropolis.

Terbentuknya rasa sepenanggungan ini dapat menjadi penopang psikologis bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Orang-orang menemukan bahwa pengalaman mereka ternyata tidak berdiri sendiri. Di ruang maya ini, warganet menghadirkan kesempatan untuk saling memahami tanpa harus mengasihani.

Mengubah standar hidup tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Harga bahan kebutuhan pokok, biaya pendidikan, perumahan, dan ketidakpastian pekerjaan tetap membutuhkan penyelesaian yang lebih luas. Namun, keberanian mengakui keterbatasan dan tidak lagi memaksakan citra kehidupan yang serba berhasil merupakan langkah penting untuk menjaga kewarasan.

Mobilitas kelas sosial selalu diidentikkan bergerak menanjak semakin terbukti sebagai mitos belaka. Langkah berdamai dengan batas kapasitas diri agar tak sekadar mengejar mitos adalah keputusan paling logis sekaligus menyehatkan. Jika memang merasa tengah kepepet ekonomi, downgrade saja dan lanjutkan hidup. Rasa lega di dada dan pikiran membuka peluang bahagia bakal kembali mendekat. Peluklah erat kebahagiaanmu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto