RUU yang diloloskan DPR mengalokasikan anggaran sebesar 95 miliar dolar AS atau setara Rp 1.701 triliun untuk perang AS di Iran.
23 Jul 2026 15:30 WIB · Internasional
AFP/MANDEL NGAN
WASHINGTON, KAMIS — Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang anggaran untuk perang di Iran sebesar 95 miliar dolar AS atau setara Rp 1.701 triliun. Padahal, penolakan dalam negeri untuk melanjutkan perang menjelang pemilu sela terus bermunculan.
RUU tersebut diajukan oleh anggota DPR dari Partai Republik. Persetujuan RUU mendapat selisih suara tipis, yakni 216-214, di Capitol Hill, Washington, Rabu (22/7/2026) waktu setempat. Sebab, proposal itu mendapat keberatan dari beberapa Republikan sekaligus Partai Demokrat.
”Langkah ini menempatkan Partai Republik di Kongres pada jalur yang mewujudkan dua tujuan yang pada dasarnya sederhana dan penting, yaitu mengamankan pemilihan Amerika dan memperkuat Tanah Air kita,” ujar Ketua DPR Mike Johnson dari Partai Republik.
Kini, RUU tersebut melaju ke Senat. Nasib RUU tersebut itu untuk menjadi UU belum pasti. Namun, Partai Republik mengincar agar RUU bisa disahkan dengan mayoritas sederhana (simple majority) melalui prosedur anggaran khusus (budget reconciliation). Dengan demikian, Republikan tidak perlu memenuhi syarat 60 suara demi menghindari penolakan Demokrat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/23/602c1a88-2be9-42f6-b1cb-bd51d16928cf_jpg.jpg)
Jika Kongres menyetujui RUU itu, alokasi sebagian besar anggaran diberikan kepada Pentagon guna mendanai perang. Rinciannya, sebanyak 60 miliar dolar AS untuk angkatan bersenjata, 13 miliar dolar AS untuk badan intelijen dan keamanan nasional lainnya, serta 12 miliar dolar AS untuk bantuan petani yang terdampak perang dagang Presiden AS Donald Trump.
Selain itu, alokasi anggaran sebesar 10 miliar dolar AS untuk program-program terkait pemilu. Program ini bagian dari upaya Trump untuk memberlakukan pembatasan baru terhadap pemungutan suara secara nasional. Sejauh ini, RUU Melindungi Kelayakan Pemilih Amerika (SAVE America) yang mencakup reformasi pemilu yang lebih luas belum mendapat cukup dukungan.
Anggota DPR Rosa DeLau dari Demokrat mengecam RUU yang membuat Trump mampu melanjutkan perang di Iran. Padahal, situasi di dalam negeri sedang tidak menentu, termasuk peningkatan biaya hidup.
”Rakyat Amerika tidak menginginkan lebih banyak perang tanpa akhir, tanpa tujuan, mahal, dan mematikan di Timur Tengah. Mereka menginginkan harga kebutuhan pokok seperti makanan, perumahan, perawatan kesehatan, perawatan anak, dan bensin turun,” ujar DeLau.
Persetujuan ini terjadi setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeluh kepada senator dalam sidang bahwa Pentagon kekurangan uang, pekan ini. Padahal, Kongres mengalokasikan anggaran sebesar 150 miliar dolar AS, tahun lalu. Sejauh ini, Washington telah menghabiskan 37,5 miliar dolar AS untuk perang di Iran.
Kongres AS berada dalam kebuntuan terkait perang AS-Iran. Kongres tidak mampu menghentikan serangan militer di bawah pemerintah Trump, tetapi belum memberikan otorisasi resmi untuk penggunaan kekuatan militer AS.
Sejak 28 Februari 2026, perang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Melalui mediasi Pakistan, kesepakatan perdamaian sementara sudah tercapai, tetapi upaya untuk mencapai perdamaian permanen menemui hambatan besar. Kedua negara kembali saling serang, Juli ini.
Di tingkat senat, Pemimpin Mayoritas Senat John Thune dari Partai Republik belum bisa memastikan nasib RUU anggaran yang telah disetujui DPR itu. Beberapa senator Republikan juga terpecah karena sebagian mau memberi lebih banyak uang untuk perang dan sebagian menuntut agar alokasi anggaran diimbangi dengan pemotongan anggaran di tempat lain.
Thune memilih fokus untuk menghindari penutupan pemerintah lagi (shutdown), yaitu penghentian operasional pemerintah karena Kongres gagal menyepakati anggaran. ”Kita lihat saja nanti,” kata Thune pekan ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/23/780146f0-baf7-48b3-8fa8-9bdb8f283bb6_jpg.jpg)
Perpecahan dalam tubuh Partai Republik sudah terlihat pada Juni lalu. Sebanyak empat senator Republikan, termasuk Senator Maine Susan Collins dan Senator Bill Cassidy, mendukung pelolosan resolusi usulan Demokrat untuk menghentikan perang dengan Iran, Juni lalu.
Kongres AS akan menghadapi ujian berikutnya pekan ini. Pemimpin Fraksi Demokrat di Senat Chuck Schumer akan memaksa pemungutan suara untuk resolusi yang sama lagi untuk mengakhiri perang pada Kamis (23/7/2026) waktu setempat.
”Partai Republik di Senat harus memutuskan apakah mereka akhirnya akan membela para prajurit kita dan mengakhiri perang ini atau terus memberi Donald Trump cek kosong dan menanggung setiap konsekuensi mengerikan yang mengikutinya,” ujar Schumer dalam pernyataan pers.
Schummer melanjutkan, para senator dari Partai Republik harus menyetujui resolusi itu karena korban jiwa dan biaya terus meningkat. Di samping itu, Trump menolak untuk memberikan strategi yang kredibel, punya tujuan akhir, atau definisi kemenangan apa pun.
Menurut jajak pendapat AP-NORC terbaru, sebagian warga AS tak menyetujui perang Trump di Iran. Survei Washington Post/Ipsos, Juli ini, mendapati, hanya sedikit warga AS yang berpikir perang di Iran layak diperjuangkan. Harga bensin melonjak di atas 4 dolar AS per galon karena perang membuat lalu lintas Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global, tersendat.
Tidak hanya Teheran, pihak Washington pun mencatat kehilangan signifikan setelah perang kembali pecah. Jumlah total personel militer AS yang tewas selama perang telah menjadi 18 orang sementara 500 lebih orang terluka.
Penolakan perang tersebut terjadi menjelang perhelatan pemilihan umum paruh waktu di AS, November nanti. Apabila Trump dan Partai Republik terus mengambil langkah kontroversial, mereka terancam kehilangan suara mayoritas di Kongres.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/25/7833a226-e32e-4139-b408-c570f8c72faa_jpg.jpg)
Survei Washington Post/Ipsos menemukan, hanya sekitar dua pertiga dari Partai Republik yang menyetujui kebijakan Trump di Iran. Sekitar 6 dari 10 pendukung Republik berpikir bahwa perang tersebut layak diperjuangkan serta meyakini aksi militer dan negosiasi selanjutnya akan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Pendukung lainnya tidak yakin.
”Saya menjelaskan kepada para pemilih bahwa saya telah melihat data intelijen dan percaya bahwa perang itu perlu untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Tetapi kita perlu menyelesaikan target kita di Iran,” tutur Senator Republikan Mike Rounds yang akan mencalonkan diri ulang di South Dakota.
Rounds mengakui, ”sangat menantang” untuk menjelaskan kepada para pemilih di kampung halamannya. ”Ini rumit. Banyak hal yang kita ketahui, tetapi tidak dapat kita bicarakan karena itu dirahasiakan,” ujarnya.
Belum jelas apakah akan ada lebih banyak anggota Partai Republik yang secara terbuka mempertanyakan kebijakan Trump di Iran. Menentang perang Trump dapat menimbulkan biaya politik.
Trump murka atas resolusi yang Kongres AS keluarkan Juni lalu. Dia menyebut keempat Republikan pendukung resolusi sebagai ”pecundang”. Trump juga sempat bertengkar mulut dengan Cassidy dalam jamuan makan siang tertutup. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan