Sepekan hilang, Bilqis diculik di Makassar dan ditemukan di hutan Jambi. Beragam kejadian mewarnai kisah kepulangannya.
12 Nov 2025 06:15 WIB · Kriminalitas
DOKUMENTASI POLRESTABES MAKASSAR
Pesan Kepala Polda Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Djuhandani Rahardjo hanya satu ketika anggotanya hendak berangkat ke Jambi mencari Bilqis (4,5), anak yang hilang diculik di Makassar.
”Jangan pulang tanpa membawa korban dalam keadaan selamat,” begitu kata Djuhandani pada tim yang ditugaskan mencari Bilqis, Selasa (4/11/2025).
Bagi tim yang berangkat ke Jambi, pesan itu tentu menjadi tantangan sekaligus pelecut semangat. Keluarga yang menaruh harap serta riuh media arus utama hingga media sosial yang mengabarkan kasus ini membuat tim mesti bergerak cepat.
Hasilnya, dalam waktu sepekan, Bilqis ditemukan. Dia lalu dibawa pulang ke Makassar. Ada drama panjang dan negosiasi alot yang harus dilalui tim sebelum membawa korban dan menangkap empat pelakunya.
Saat mendengar penculikan Bilqis, Minggu (2/11/2025), Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Panakkukang Inspektur Satu Nasrullah tersentak. Bilqis, anak pertama pasangan Dwinurmas dan Fifi Syahrir itu, seolah hilang tanpa jejak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/10/ef13084c69f4d73da0db59292f0f4d13-IMG_6908.jpeg)
Nasrullah yang akrab disapa Ulla bergerak cepat. Bersama tim Jatanras Polrestabes Makassar, mereka lantas memeriksa rekaman kamera pemantau di sekitar Taman Pakui, Panakkukang, Kota Makassar.
Taman Pakui adalah lokasi korban terakhir diketahui orangtua. Dari sana, polisi tahu, penculiknya adalah Sri Yuliana.
Yuliana lantas dicari. Dia ditangkap di salah satu rumah di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. Saat ditangkap, Yuliana mengatakan sudah menjual Bilqis seharga Rp 3 juta kepada seseorang bernama Nadia Hutri. Namun, dia mengaku tidak tahu keberadaan Nadia saat itu.
”Pelaku menawarkan Bilqis di media sosial dan langsung ditanggapi Nadia. Setelah itu, mereka bertransaksi dan bertemu di Bandara Hasanuddin,” kata Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Makassar Ajun Komisaris Besar Devi Sujana.
Dimulai dari titik ini, polisi mulai mencium perencanaan panjang yang dilakukan para pelaku. Pertama, hanya dua hari setelah Bilqis hilang, Yuliana sudah sepakat menjual Bilqis kepada Nadia.
Tidak lama di bandara, Nadia langsung kabur ke Jambi. Untuk membawa Bilqis, ia sudah membeli tiket atas nama Kiki. Pembelian tiket dilakukan melalui aplikasi penjualan.
Di Jambi, Nadia juga ternyata sudah punya pembeli, yaitu Mariana dan Adit Prayitno. Mereka menyepakati harga penjualan Bilqis sebesar Rp 30 juta. Setelah itu, Nadia pulang ke Sukoharjo, lalu ditangkap polisi di sana.
”Dari penelusuran tiket, kami sempat ke Sukoharjo, tapi langsung terbang ke Jambi karena Bilqis sudah dijual di sana,” kata Devi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/11/92582c246781a2035d324a79e96039a4-IMG_6910.jpeg)
Apesnya, setelah Mariana dan Adit ditangkap, tidak ada Bilqis bersama keduanya. Inspektur Dua Supriadi Gaffar, Kepala Sub Unit II Jatanras Polrestabes Makassar, yang ikut dalam tim, mengatakan, Bilqis sudah dijual ke Begendang, warga Komunitas Orang Rimba yang berdiam di Mentawak, Merangin. Lewat perantara bernama Lina, Bilqis dijual Rp 80 juta kepada Begendang.
”Dari Jambi, kami menempuh perjalanan darat sekitar 12 jam ke Merangin. Di sana, kami menemukan Bilqis,” kata Supriadi.
Akan tetapi, tantangan tidak rampung begitu saja. Di Merangin, polisi tak serta-merta bisa mengambil Bilqis. Bagendang tidak ingin melepas Bilqis begitu saja.
Begendang beralasan, anak itu tak dia culik, tetapi diserahkan orangtuanya untuk diadopsi. Dia berpegang pada sepucuk surat bermaterai Rp 10.000 yang ditandatangani seseorang yang mengaku orangtua Bilqis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/25/dc778b43-a314-4295-9b6b-69a8f13f0cb4.jpg)
Begendang juga bersikeras Bilqis sudah dekat dengan istrinya. Istrinya pun sangat menyayangi Bilqis dan sudah menganggap anak sendiri.
”Kami meminta bantuan Polres Merangin dan dinas sosial setempat untuk membantu bernegosiasi kepada pelaku yang menguasai Bilqis. Kami juga bertemu sejumlah tumenggung (kepala adat) untuk membantu berkomunikasi agar Bilqis bisa diserahkan,” kata Supriadi.
Dalam negosiasi itu, tim berusaha meyakinkan bahwa anak tersebut adalah korban penculikan. ”Kami bilang, kalau anak itu ada orangtuanya. Kami juga beri pengertian bagaimana jika itu terjadi kepada mereka,” tambah Supriadi.
Namun, lagi-lagi itu bukan perkara mudah. Pertemuan pertama pada Jumat (7/11/2025) pagi tidak membuahkan hasil. Pertemuan pada Jumat malam dan Sabtu (8/11/2025) pagi juga nihil hasil.
Selama pertemuan, Begendang tidak hadir. Negosiasi dilakukan melalui perantara tokoh adat. Hasil pertemuan yang tak membuahkan hasil tak membuat semangat tim surut.
Akhirnya. pada pertemuan Sabtu malam, mereka setuju melepaskan Bilqis. Pertemuan ini tak hanya alot. tetapi juga dipenuhi ketegangan. Polisi menyebut, dalam pertemuan yang dilakukan di kawasan hutan dan perkebunan, mereka diawasi anggota suku adat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/4889c0aa599eaaffd3f5067f597c6ac0-524a1b2e_9167_4448_9d0b_6bb13b7e594f.jpeg)
Penyerahan Bilqis lantas dilakukan melalui perantara dengan lokasi yang ditentukan. Namun, bahkan saat Bilqis diserahkan, petugas masih saja mengalami kesulitan.
”Bilqis sempat menangis dan meronta, tidak mau kami ambil. Dia seperti sudah sangat dekat dengan orang yang memegangnya. Kami sampai harus melakukan panggilan video dan meminta orangtuanya berbicara dengan Bilqis. Cukup lama Bilqis akhirnya mengingat orangtuanya,” kata Supriadi.
Tak membuang waktu, begitu Bilqis mengingat orangtuanya, petugas langsung membawanya. Malam itu juga mereka membawanya ke Jambi dan keesokan harinya, Minggu (9/11/2025), terbang ke Makassar.
Kabar ini menjadi ujung penantian panjang Dwinurmas dan Fifi Syahrir. Sepekan lamanya Bilqis dalam penguasaan penculik, menjadi waktu terpanjang bagi pasangan ini. Saat ditemukan, ia bahagia sekaligus menyesal membawa Bilqis ke Taman Pakui. Karena itulah awal petaka dan beragam kesulitan yang menimpa anaknya.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto