Sistem pertahanan udara modern kini kerepotan menandingi kemampuan senjata serang baru, seperti ”drone”. Keunggulan ”drone” ialah lintasannya tak bisa diprediksi.
05 Jan 2025 14:25 WIB · Internasional
Permintaan maaf Presiden Rusia Vladimir Putin tidak cukup untuk membendung kemarahan Azerbaijan. Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menuding Moskwa menutupi insiden jatuhnya pesawat komersial Azerbaijan Airlines di Kota Aktau, Kazakhstan, Rabu (25/12/2024). Sebanyak 38 orang, termasuk empat awak pesawat, dari 67 orang dalam penerbangan J2-8243/AHY 8243 itu tewas.
Aliyev menyebut pesawat Embraer 190 itu rusak pada bagian luar pesawat saat terbang di atas wilayah Rusia, tepat ketika hendak mendarat di Kota Grozny. Saat itulah, tembakan dari darat diduga mengenai badan pesawat. Sejumlah pihak di Azerbaijan menduga artileri pertahanan udara Rusia, Pantsir-S, menembaknya.
Tak hanya itu, pesawat tidak bisa dikendalikan karena gangguan sistem elektronik. Dugaannya, perangkat pengacak sinyal (electromagnetc jammer) milik Rusia mengganggu sistem avionik dan elektronik pesawat karena pada saat yang bersamaan militer Rusia di Grozny tengah berjibaku menghadapi drone tempur Ukraina.
Aliyev menyatakan, berbagai teori dari Rusia tentang dugaan penyebab insiden sebagai upaya menutupi hal yang sebenarnya. Fakta di lapangan memperlihatkan badan pesawat penuh dengan lubang.
Peristiwa di Grozny itu hanya berselang tiga hari setelah peristiwa penembakan jet tempur F/A-18F Super Hornet milik Angkatan Laut AS oleh rekannya sendiri di Laut Merah. Jet tempur itu baru lepas landas dari kapal induk USS Harry S Truman dalam kapasitas sebagai pengisi bahan bakar (tanker) beberapa jet tempur untuk menggempur target kelompok Houthi di Yaman.
Dan Lamothe dari Washington Post, mengutip seorang pejabat militer yang mengetahui insiden tersebut dan tak mau diungkap namanya, menyebut rudal berasal dari USS Gettysburg, kapal perang yang menjadi bagian dari gugus tempur laut USS Harry S Truman. Rudal yang dipakai adalah jenis Standard Missile-2 (SM-2), senjata permukaan-ke-udara utama AL dan bagian integral dari Sistem Senjata AEGIS (AWS).
Laporan The Aviationist menyebut, pesawat yang tertembak tengah terbang sekitar 20 mil dari USS Truman. Tak hanya mengincar Super Hornet, rudal Gettysburg juga mengincar dua jet tempur lain yang juga terbang bersamanya. Beruntung kedua jet tempur lain bisa menghindar. Seperti dilansir BBC, saat itu jet tempur dan gugus tempur laut AL AS tengah berjibaku dengan rudal dan pesawat nirawak kelompok Houthi.
Dua kejadian yang mirip dengan apa yang dialami Azerbaijan Airlines adalah insiden penembakan pesawat penumpang Ukraina, Ukrainian International Airlines 752 (AUI752), pada Januari 2020 dan Malaysia Airlines MH-17, Juli 2014. Pesawat sipil Ukraina AUI752 dihantam rudal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat baru saja lepas landas dari Teheran.
Pesawat itu disangka rudal yang ditembakkan dari pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Sebanyak 176 penumpang tewas.
Adapun pesawat MH-17 terbang dari Amsterdam, Belanda, menuju ke Kuala Lumpur, Malaysia, jatuh di wilayah Donetsk, Ukraina timur. Penyelidikan Belanda pada tahun 2015 menyatakan pesawat itu jatuh karena tembakan rudal BUK buatan Rusia yang ditembakkan dari wilayah yang dikuasai pemberontak separatis. Keseluruhan 298 penumpang dan awak pesawat tewas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/06/20/f5aa4b41-df64-454d-8ea7-3b3f7b5d88a2_jpg.jpg)
Menilik beberapa insiden di atas dan juga konflik atau perang yang tengah terjadi saat ini, tantangan yang harus dihadapi sistem pertahanan udara sangat kompleks. Saat berhadapan dengan senjata serang baru yang lebih lincah dan gesit, seperti pesawat nirawak atau UAV atau drone, sistem pertahanan udara atau arhanud (artileri pertahanan udara) seperti kehilangan kedigdayaannya. Pada saat yang sama, sistem ini malah menimbulkan korban ikutan (collateral damage) yang seharusnya bisa dihindari.
Hal itu tampak jelas di perang Rusia-Ukraina. Meski kekuatan militernya tergolong kecil dibandingkan dengan Rusia, hingga tahun ketiga perang kedua negara, Ukraina mampu bertahan dan bahkan menandingi kedigdayaan militer Negeri Beruang Merah tersebut.
Saat berhadapan dengan senjata serang baru yang lebih lincah dan gesit, seperti pesawat nirawak atau UAV atau drone, sistem pertahanan udara seperti kehilangan kedigdayaannya.
Brigadir Jenderal Kirsten D Thompson, Komandan Pasukan Peringatan Dini dan Kontrol NATO, dalam artikelnya di laman Council of Foreign Relations, menulis, konflik kedua negara memperlihatkan inovasi teknologi drone atau pesawat nirawak bisa mengubah keseimbangan kekuatan khususnya, dalam pertahanan udara.
Sebagian besar analis sempat memperkirakan bahwa Rusia, dengan keunggulan kekuatan udaranya, bisa menguasai wilayah udara yang diperebutkan sejak awal konflik. Namun, Ukraina, dengan bantuan Barat, memanfaatkan pesawat nirawak untuk menembus pertahanan udara Rusia dan menyerang target-target berat.
Sesudah mendapatkan lawan seimbang, penggunaan UAV berukuran besar dikurangi dan beralih memanfaatkan teknologi sejenis dengan ukuran yang lebih kecil. Terbukti, menurut Thompson, benda mungil ini mengubah permainan.
Dari semula hanya digunakan oleh para pehobi, benda tersebut dapat dimanfaatkan untuk melancarkan serangan dengan presisi tinggi dan tidak mudah tertangkap oleh sistem pertahanan udara Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/06/32c2a4c3-99bf-4049-8183-fbf4c5fbbad7_jpg.jpg)
Begitu juga dengan drone Rusia. Selain mengecat drone mereka dengan warna hitam, Rusia memindahkan knalpot mesin pada beberapa drone dari posisi belakang ke posisi depan. Hal ini untuk membingungkan baterai anti-udara menggunakan alat bidik termal.
Hasilnya, dengan kecepatan mencapai 500 kilometer per jam, UAV Rusia mirip dengan rudal jelajah versi mini yang sulit untuk ditembak jatuh.
Keunggulan drone dibandingkan dengan rudal adalah lintasannya yang tidak bisa diprediksi, zig-zag, bukan seperti kurva matematis yang sangat mudah dibaca.
Teknologi drone atau UAV digunakan tidak hanya untuk menyerang target-target militer, tetapi juga infrastruktur sipil. Salah satu yang tercatat adalah serangan udara Rusia pada 29 Desember 2023 ke sejumlah bangunan utama di Kyiv, Ukraina, dan kota-kota besar lain. Sebanyak 33 warga sipil tewas dan 150 orang terluka dalam serangan, yang salah satunya menyasar rumah sakit bersalin.
Mikhail Podolyak, penasihat Presiden Ukraina, menyebut ada unsur genosida dalam serangan tersebut, terutama karena menyasar infrastruktur dan warga sipil. Lebih dari 100 rumah dan 45 gedung, termasuk apartemen, hancur akibatnya.
Mengenai serangan tersebut, seperti dikutip CNN dan Al Jazeera, 29 Desember 2023, Kementerian Pertahanan Rusia mengakui bahwa mereka melakukan 50 serangan kelompok dan satu serangan massal pada pekan tersebut (periode 23-29 Desember 2023) tanpa merujuk pada serangan ke sejumlah kota, 29 Desember itu.
”Dalam periode 23 hingga 29 Desember tahun ini, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia melakukan 50 serangan kelompok dan satu serangan massal dengan senjata presisi tinggi dan kendaraan udara tak berawak terhadap target militer di Ukraina,” kata Kemenhan Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/05/10d6aaba9e38409e4451359adc0de8b4-New_Year_s_Day_Russia_Ukraine_War_126459187.jpg)
Amos C Fox, mantan perwira militer AS berpangkat letnan kolonel yang kini menjadi fellow pada Inisiatif Keamanan Masa Depan Universitas Arizona, menulis pada laman Royal United Service Institute (RUSI) tentang dua contoh peristiwa yang kemudian disebutnya sebagai paradoks presisi (precision paradox) penggunaan senjata atau sistem persenjataan modern.
Yang pertama adalah penggunaan JDAM (joint direct attack munition) pada April 2003 untuk membunuh Ali Hassan al-Majid (sepupu mantan pemimpin Irak Saddam Hussein) dan Saddam Husein sendiri di Dora Farms, beberapa pekan sebelumnya. Fox menyebut, serangan itu akurat karena tepat pada sasaran, yakni pada lokasi yang menjadi target, meski sasaran masih hidup. Yang menjadi masalah adalah korban ikutannya mencapai 100 warga sipil.
Contoh lainnya adalah serangan drone AS pada Agustus 2021 di sebuah wilayah di Afghanistan. Menggunakan pesawat nirawak tempur baru dengan kemampuan pengindraan paling anyar, serangan itu mengenai mobil dan menewaskan para penumpangnya.
Menurut Fox, serangan tersebut akurat, tetapi tidak efektif karena menewaskan tujuh anak-anak. Mengutip jurnalis, Azmat Khan, ia menyebut serangan presisi itu menghasilkan efek yang salah dan menewaskan lebih banyak orang serta menciptakan kerusakan yang lebih besar.
”Presisi dapat berarti akurat atau tepat sasaran, tetapi tidak berarti efektif. Itulah sebagian dari apa yang hilang dalam diskusi tentang senjata presisi ini,” kata Fox dalam sebuah siniar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/29/4db790bb-7062-4bfb-b1cf-a1816c46ed55_jpg.jpg)
Insiden yang terjadi di atas Laut Merah bisa melengkapi contoh Fox. USS Gettysburg (CG-64), yang dilengkapi teknologi SPY-1 RADAR, MK 41 VLS dan AEGIS, tetap saja tidak mengenali jet tempur Super Hornet milik AL AS yang sejatinya bergerak berdekatan dan tengah menjalani operasi bersama. Jangkauan radar ini pun mendekati 325 kilometer.
Pertanyaan yang sama juga tertuju pada insiden yang menimpa pesawat sipil Azerbaijan Airlines dan MH-17. Insiden yang menimpa MH-17, misalnya, diduga karena tembakan artileri pertahanan udara BUK Rusia di Donetsk. Seperti dilansir BBC, perwira Angkatan Udara Ukraina Letnan Kolonel Sergey Leshchuk menyebut, sosok yang mengenali kawan dan lawan adalah operator radar akuisisi (TAR).
Untuk duduk di kursi operator pun tak mudah, selain harus memiliki jam terbang tinggi, juga harus menjalani pendidikan khusus dari universitas. Dengan tingkat akurasi 99 persen, Leshchuk menyebut, operator bukanlah sosok sembarangan.
Dalam pertahanan udara, radar mendeteksi pesawat, rudal, dan ancaman udara lainnya yang masuk. Radar memberikan peringatan dini dan informasi penargetan untuk sistem pertahanan antipesawat dan rudal. Selain itu, radar memainkan peran penting dalam akuisisi target dan pengendalian tembakan.
Radar menemukan dan melacak target, memandu rudal, dan memastikan akurasi dalam tembakan artileri untuk pertempuran udara-ke-udara dan permukaan-ke-udara. Dalam konteks ini, radar sebagai panduan amunisi berpemandu presisi memastikan agar amunisi mencapai target yang dituju secara akurat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/11/28/09456708-fe86-4cd7-9151-2f432ff7ff3a_jpg.jpg)
Saat terjadi peperangan elektronik (electronic warfare), radar bekerja untuk mendeteksi dan mengacaukan sistem radar dan komunikasi musuh, mengganggu operasi musuh dan melindungi pasukan kawan dari deteksi. Sistem radar angkatan laut sangat penting untuk pencarian permukaan, navigasi, dan penargetan. Sistem ini mendeteksi dan melacak kapal permukaan dan kapal selam, membantu dalam pengawasan maritim dan operasi tempur.
Setelah itu, keputusan untuk menembakkan atau meluncurkan rudal sebagai penangkal ada di tangan operator dan para pengambil keputusan di lapangan. Waktunya hampir dipastikan sangat singkat. Bukan menit, melainkan sepersekian detik.
Christopher J Markham dan Michael N Schmitt, pengajar US Naval War College, dikutip dari artikel mereka, ”Precision Air Warfare and the Law of Armed Conflict”, (Jurnal Studi Hukum Internasioal Vol 89 tahun 2013) mengingatkan bahwa apa pun kemampuan teknologinya, harus diingat bahwa presisi bergantung pada kemampuan menemukan dan mengidentifikasi target, menyerangnya secara akurat pada waktu yang tepat, dan menentukan apakah efek yang diinginkan telah tercapai atau serangan ulang diperlukan.
Pada saat yang sama, presisi juga bergantung pada kemampuan komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian atau C4ISR.
Perang memang melibatkan penghancuran, sebagian disengaja, sebagian tidak. Memaksimalkan penghancuran yang disengaja sambil meminimalkan penghancuran yang tidak disengaja adalah tujuan taktis sekaligus etis perang.
Penggunaan teknologi persenjataan presisi adalah untuk menyerang target, bukan bangunan atau orang-orang di sekitarnya.
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji