KUWAIT CITY, SENIN — Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait terbakar di tengah gelombang serangan pembalasan Iran ke Kuwait dan sejumlah negara lain. Iran menegaskan, sasaran pembalasan adalah seluruh aset AS di berbagai negara Timur Tengah. Pembalasan Iran untuk memastikan AS-Eropa berpikir ulang untuk membantu Israel menyerang Iran di masa depan.
Kantor berita AFP, Senin (2/3/2026), melaporkan asap hitam membubung dari gedung kedutaan. Gedung itu berada dalam kawasan kedutaan berbagai negara.
Kedubes AS di Kuwait telah menyiarkan imbauan agar tidak ada yang mendatangi kedutaan. ”Ada ancaman serangan terus-menerus dari rudal dan pesawat nirawak ke Kuwait. Jangan ke kedutaan. Para pegawai kedutaan sedang di tempat perlindungan,” demikian peringatan itu.
Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab dilaporkan, pusat data Amazon AWS jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Dampak serangan itu, layanan Amazon dari pusat data di kedua negara itu terganggu.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Brigadir Jenderal (Purn) Ali Larijana menyatakan, Iran tak menyerang tetangganya di kawasan. Iran menyerang aset-aset AS di kawasan.
”Jika pangkalan yang berlokasi di negara Anda digunakan melawan kami dan AS melancarkan serangan dengan mengandalkan kekuatan itu, kami akan menyerang pangkalan itu,” tulisnya di media sosial.
Ia menyebut, pangkalan-pangkalan itu tak bisa disebut sebagai wilayah negara para tetangga Iran. Semua itu wilayah AS.
Ia merujuk pada sebaran pangkalan dan aneka aset di negara-negara Timur Tengah. Sebagian aset itu menempel pada pelabuhan dan bandara sipil.
Diaspora Iran di AS, Trita Parsi, mengatakan ada alasan kuat Iran menyerang pangkalan AS-Eropa di kawasan. Kini, Teheran tak mencari gencatan senjata atau menerima upaya komunikasi dari Presiden AS Donald Trump.
”Mereka (Iran) percaya bahwa sudah salah kala setuju gencatan senjata pada Juni, yang memungkinkan AS-Israel membangun ulang perbekalan dan memobilisasi untuk perang baru. Kalau mereka (Iran) setuju gencatan senjata sekarang, mereka akan diserang beberapa bulan lagi,” kata Wakil Presiden Quincy Institute di Washington DC itu.
Oleh karena itu, fokus Iran sekarang adalah membuat AS menanggung harga sebesar-besarnya. Dengan demikian, AS akan berpikir ulang untuk terus berperang dengan Iran.
Memang, Iran tetap menyerang Israel, dengan skala berbeda dibandingkan Juni lalu. ”Iran tak masalah dengan kerugian yang mungkin sedikit di Israel asalkan AS menjauh dari perang. Jadi, fokusnya beralih ke AS,” ujarnya.
Dengan alasan itu, Iran menyerang berbagai pangkalan AS di kawasan. Iran kini tak merasa punya batasan lagi setelah AS-Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran.
Teheran, lanjutnya, tak mau terus dianggap lemah atau tak mau menghadapi AS secara langsung. ”Teheran melakukan segala hal untuk membalikkan pandangan itu walau harus menanggung harga mahal,” katanya.
Bukan cuma AS, Iran juga menyerang pangkalan negara Eropa di kawasan. Tujuannya sama: agar Eropa berpikir ulang untuk berperang terus dengan Iran.
Sejak mulai membalas serangan AS-Israel, rudal dan pesawat nirawak Iran menyasar berbagai negara di Timur Tengah. Pada Senin, rudal dan pesawat Iran, antara lain, menyasar kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi.
Marah besar
Serangan dilancarkan setelah ada laporan Arab Saudi mendesak negara-negara kawasan untuk sekuatnya tidak bereaksi pada serangan Iran. Peneliti Gulf International Forum, Abdulaziz Alghashian, menyebut Arab Saudi marah besar dengan serangan AS-Israel.
Riyadh pun mati-matian tidak terseret dalam masalah itu. Meski demikian, Arab Saudi tak akan banyak bicara di muka umum. Riyadh akan bekerja dalam senyap untuk meredakan keadaan.
Serangan itu terbukti memicu konflik di kawasan. Tidak ada negara Timur Tengah yang selamat dari gempuran rudal AS-Israel-Iran. Kalau tak terkena rudal Iran, negara-negara di kawasan dihajar Israel.
Sumber di Arab Saudi mengatakan, meski sudah mencemaskan, kawasan khawatir ada yang lebih besar. ”Ketakutan terbesar kami adalah eskalasi ini dijadikan Iran untuk melepaskan (kekuatan) jaringan proksi mereka,” kata sumber itu kepada Middle East Eye.
Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) sampai menelepon Presiden UEA Mohammed bin Zayed (MBZ). Padahal, mereka dilaporkan sedang perang dingin.
Telepon MBS ke MBZ menggambarkan kegentingan situasi sehingga mereka mengesampingkan perbedaan untuk mengurus hal lain yang dianggap lebih penting.
MBS juga menelepon petinggi Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Ia juga mengutus para diplomat Arab Saudi untuk berkomunikasi dengan mitra di kawasan.
Intinya, negara kawasan akhirnya sepakat bahwa pembalasan Iran relatif lebih rendah dari kecemasan kawasan. Negara-negara di kawasan harus sekuatnya menahan diri bereaksi atau bertindak langsung pada serangan pembalasan Iran itu. Sebab, dikhawatirkan Iran semakin mengamuk.
Pengamat pertahanan di Riyadh, Hesham Alghannam, menekankan penting bagi Arab Saudi untuk menegaskan posisinya dalam perkembangan kini. Jika Riyadh bisa menyakinkan tidak akan ikut menggempur Teheran, maka Houthi tidak akan menyerang Arab Saudi.
”Kalau mereka (Houthi) melihat Riyadh menjaga jarak dari barisan anti-Iran, mereka (Houthi) akan menahan diri juga,” katanya. (AP/AFP)
KUWAIT CITY, SENIN — Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait terbakar di tengah gelombang serangan pembalasan Iran ke Kuwait dan sejumlah negara lain. Iran menegaskan, sasaran pembalasan adalah seluruh aset AS di berbagai negara Timur Tengah. Pembalasan Iran untuk memastikan AS-Eropa berpikir ulang untuk membantu Israel menyerang Iran di masa depan.
Kantor berita AFP, Senin (2/3/2026), melaporkan asap hitam membubung dari gedung kedutaan. Gedung itu berada dalam kawasan kedutaan berbagai negara.
Serial Artikel
Arab Saudi sampai Kuwait Terimbas Pembalasan Iran
Suara ledakan terdengar di Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.
Kedubes AS di Kuwait telah menyiarkan imbauan agar tidak ada yang mendatangi kedutaan. ”Ada ancaman serangan terus-menerus dari rudal dan pesawat nirawak ke Kuwait. Jangan ke kedutaan. Para pegawai kedutaan sedang di tempat perlindungan,” demikian peringatan itu.
Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab dilaporkan, pusat data Amazon AWS jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Dampak serangan itu, layanan Amazon dari pusat data di kedua negara itu terganggu.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Brigadir Jenderal (Purn) Ali Larijana menyatakan, Iran tak menyerang tetangganya di kawasan. Iran menyerang aset-aset AS di kawasan.
”Jika pangkalan yang berlokasi di negara Anda digunakan melawan kami dan AS melancarkan serangan dengan mengandalkan kekuatan itu, kami akan menyerang pangkalan itu,” tulisnya di media sosial.
Ia menyebut, pangkalan-pangkalan itu tak bisa disebut sebagai wilayah negara para tetangga Iran. Semua itu wilayah AS.
Ia merujuk pada sebaran pangkalan dan aneka aset di negara-negara Timur Tengah. Sebagian aset itu menempel pada pelabuhan dan bandara sipil.
Diaspora Iran di AS, Trita Parsi, mengatakan ada alasan kuat Iran menyerang pangkalan AS-Eropa di kawasan. Kini, Teheran tak mencari gencatan senjata atau menerima upaya komunikasi dari Presiden AS Donald Trump.
”Mereka (Iran) percaya bahwa sudah salah kala setuju gencatan senjata pada Juni, yang memungkinkan AS-Israel membangun ulang perbekalan dan memobilisasi untuk perang baru. Kalau mereka (Iran) setuju gencatan senjata sekarang, mereka akan diserang beberapa bulan lagi,” kata Wakil Presiden Quincy Institute di Washington DC itu.
Oleh karena itu, fokus Iran sekarang adalah membuat AS menanggung harga sebesar-besarnya. Dengan demikian, AS akan berpikir ulang untuk terus berperang dengan Iran.
Serial Artikel
Perundingan AS-Iran Cuma Pura-pura
Seperti pada Juni, serangan kali ini dilancarkan di tengah proses perundingan. Kamis lalu, delegasi AS-Iran berunding di Geneva, Swiss.
Memang, Iran tetap menyerang Israel, dengan skala berbeda dibandingkan Juni lalu. ”Iran tak masalah dengan kerugian yang mungkin sedikit di Israel asalkan AS menjauh dari perang. Jadi, fokusnya beralih ke AS,” ujarnya.
Dengan alasan itu, Iran menyerang berbagai pangkalan AS di kawasan. Iran kini tak merasa punya batasan lagi setelah AS-Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran.
Teheran, lanjutnya, tak mau terus dianggap lemah atau tak mau menghadapi AS secara langsung. ”Teheran melakukan segala hal untuk membalikkan pandangan itu walau harus menanggung harga mahal,” katanya.
Bukan cuma AS, Iran juga menyerang pangkalan negara Eropa di kawasan. Tujuannya sama: agar Eropa berpikir ulang untuk berperang terus dengan Iran.
Sejak mulai membalas serangan AS-Israel, rudal dan pesawat nirawak Iran menyasar berbagai negara di Timur Tengah. Pada Senin, rudal dan pesawat Iran, antara lain, menyasar kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi.
Marah besar
Serangan dilancarkan setelah ada laporan Arab Saudi mendesak negara-negara kawasan untuk sekuatnya tidak bereaksi pada serangan Iran. Peneliti Gulf International Forum, Abdulaziz Alghashian, menyebut Arab Saudi marah besar dengan serangan AS-Israel.
Riyadh pun mati-matian tidak terseret dalam masalah itu. Meski demikian, Arab Saudi tak akan banyak bicara di muka umum. Riyadh akan bekerja dalam senyap untuk meredakan keadaan.
Serangan itu terbukti memicu konflik di kawasan. Tidak ada negara Timur Tengah yang selamat dari gempuran rudal AS-Israel-Iran. Kalau tak terkena rudal Iran, negara-negara di kawasan dihajar Israel.
Serial Artikel
Iran Yakin Kesepakatan Tercapai apabila Fokus soal Bom Nuklir
Iran setuju tidak membuat bom nuklir. Walakin, Iran tak mau meninggalkan teknologi nuklir.
Sumber di Arab Saudi mengatakan, meski sudah mencemaskan, kawasan khawatir ada yang lebih besar. ”Ketakutan terbesar kami adalah eskalasi ini dijadikan Iran untuk melepaskan (kekuatan) jaringan proksi mereka,” kata sumber itu kepada Middle East Eye.
Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) sampai menelepon Presiden UEA Mohammed bin Zayed (MBZ). Padahal, mereka dilaporkan sedang perang dingin.
Telepon MBS ke MBZ menggambarkan kegentingan situasi sehingga mereka mengesampingkan perbedaan untuk mengurus hal lain yang dianggap lebih penting.
MBS juga menelepon petinggi Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Ia juga mengutus para diplomat Arab Saudi untuk berkomunikasi dengan mitra di kawasan.
Intinya, negara kawasan akhirnya sepakat bahwa pembalasan Iran relatif lebih rendah dari kecemasan kawasan. Negara-negara di kawasan harus sekuatnya menahan diri bereaksi atau bertindak langsung pada serangan pembalasan Iran itu. Sebab, dikhawatirkan Iran semakin mengamuk.
Pengamat pertahanan di Riyadh, Hesham Alghannam, menekankan penting bagi Arab Saudi untuk menegaskan posisinya dalam perkembangan kini. Jika Riyadh bisa menyakinkan tidak akan ikut menggempur Teheran, maka Houthi tidak akan menyerang Arab Saudi.
”Kalau mereka (Houthi) melihat Riyadh menjaga jarak dari barisan anti-Iran, mereka (Houthi) akan menahan diri juga,” katanya. (AP/AFP)