Perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat-Israel membunyikan alarm bahaya penggunaan kecerdasan buatan. Perang ini menandai semakin runtuhnya etika dalam penggunaan teknologi itu.
Dalam perang di Timur Tengah, dua hal yang dulu dianggap tabu dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini semakin wajar dilakukan. Alarm pertama adalah penggunaan AI dalam rantai intelijen untuk mencari target serangan. Alarm kedua, misinformasi dan disinformasi yang mencapai level keganasan terbaru.
Begitu luar biasa pelecehan terhadap kebenaran di era AI ini. Dokumen dan kesaksian asli pun bisa dengan mudah dipatahkan, yaitu dengan dituduh palsu sebagai buatan AI. Bahkan, saat rekaman itu datang dari media kredibel ataupun pejabat sekalipun.
Kejadian terbaru, jurnalis Inggris Steve Sweeney dan timnya nyaris menjadi korban serangan rudal Israel saat meliput di Sungai Litani, Lebanon selatan, pada pertengahan Maret 2026. Insiden itu terekam dalam video.
Dentuman dan ledakan besar terlihat jelas di belakang Sweeney. Bom jatuh saat ia sedang merekam laporan. Sweeney terlempar ke depan dan rekaman pun terhenti.
Setelah insiden itu, Sweeney juga mengunggah video di Instagram. Video memperlihatkan serpihan logam dari serangan tersebut dikeluarkan dari lengannya.
Namun, meski direkam dan disiarkan jurnalis senior, video insiden itu tetap dituduh sebagai hasil AI. Tim verifikasi BBC Verify, Sabtu (21/3/2026), sampai perlu menegaskan rekaman tersebut asli. Media itu melakukan pemeriksaan komprehensif dan menyiarkannya agar orang percaya tidak ada AI dalam rekaman itu.
Hal ini merupakan tantangan terbaru jurnalisme: harus membuktikan pemberitaannya bukan manipulasi hasil AI.
Sebelumnya, tuduhan yang sama menimpa tragedi sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan. Sekolah itu menjadi sasaran rudal yang belakangan diduga dari AS.
Sekitar 165 orang tewas dan sebagian besar adalah siswi usia 7-12 tahun. Namun, sejumlah situs dan akun media sosial berusaha menuduh foto dan video reruntuhan serta korban adalah manipulasi AI.
Praktik ini tak pandang ideologi, keyakinan, dan pangkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun harus susah payah membuktikan diri bahwa dirinya masih hidup. Ia disebut telah tewas dalam serangan Iran. Dua videonya diyakini sebagai hasil AI. Padahal, video itu terverifikasi asli.
Masalah ini bukan soal membela Israel atau Iran. Lebih besar dari itu, masalah ini soal kebenaran. Begitu mudahnya rekaman asli dituduh palsu buatan AI bisa berimplikasi besar.
Dengan metode terbaru ini, suara korban menjadi semakin lemah. Suara sipil semakin mudah dicitrakan tak bisa dipercaya. Suara institusi dan pemerintah pun semakin mudah dianggap palsu.
Kesaksian korban kekerasan aparat atau pemerkosaan, misalnya, dengan mudah disebut bohong. Rekaman asli mereka dengan mudah disebut palsu buatan AI.
Berbahaya
Peneliti psikologi politik dan informasi Helena Rea menilai, perkembangan AI generatif telah membawa masyarakat ke situasi baru yang berbahaya. Bukan hanya karena konten palsu makin mudah dibuat, melainkan juga karena konten asli kini ikut dianggap palsu. Dalam kajian ilmiah, kondisi itu dikenal sebagai liar’s dividend atau keuntungan bagi pembohong.
Menurut Helena, dampak paling serius dari fenomena itu bukan semata pada teknologi, melainkan pada kepercayaan sosial. Saat orang makin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang manipulatif, kepercayaan terhadap sesama, terhadap institusi, dan terhadap ruang publik ikut terkikis.
”Kalau kita menjadi hiper-skeptis, kita tidak percaya pada institusi, hal itu bisa membuat negara tidak stabil. Akuntabilitas publik juga menjadi lemah,” ujar Helena, dihubungi dari Jakarta, Minggu (21/3/2026).
Kalau kita menjadi hiperskeptis, kita tidak percaya pada institusi, hal itu bisa membuat negara tidak stabil. Akuntabilitas publik juga menjadi lemah.
Ketika masyarakat tak lagi yakin pada kenyataan yang telah diverifikasi, yang muncul bukan selalu sikap kritis yang sehat. Yang muncul justru bisa berupa apatisme dan fanatisme terhadap figur yang dianggap paling otoritatif.
”Justru yang muncul itu kita menjadi semakin fanatik terhadap figur yang otoriter. Ini terlihat pada fenomena global sekarang, negara-negara cenderungan menuju otoritarianisme” kata Helena.
”Kill chain”
Dari medan tempur, alarm kedua adalah terkikisnya tabu penggunaan AI dalam rantai pembunuhan (kill chain). Hal ini dari pengakuan AS yang terbuka mengakui menggunakan AI dalam memproses data intelijen dalam memilih target.
”Alat AI canggih dapat mengubah proses yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam, bahkan kadang berhari-hari, menjadi hanya hitungan detik,” kata Panglima Komando Tengah AS Brad Cooper, Rabu (11/3/2026).
Sebelum AS, Israel, Ukraina, dan Rusia mengakui penggunaan AI di medan tempur. Seperti pengakuan Cooper, mereka menyatakan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Namun, siapa bisa memverifikasi atau mengawasi proses ini? Kenyataannya, ada sekolah dasar Minab yang menjadi salah sasaran diduga rudal Tomahawk AS.
Sebelum pengakuan militer AS, penggunaan AI untuk penargetan senjata otonom masih dianggap tabu. Ada batas etika untuk tidak menggunakan, atau setidaknya tak mengakuinya.
Sejak serangan AS-Israel ke Iran, tabu itu kian terkikis. Perdebatan tertinggal di ruang-ruang konferensi akademis dan diplomasi.
Kegelisahan itu disuarakan China. Juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin, pada pertengahan Maret, mengatakan China menentang pemanfaatan keunggulan AI untuk mengejar dominasi militer absolut.
Ia, seperti dikutip dari China Daily, juga memperingatkan bahaya ketika algoritma diberi kuasa menentukan hidup dan mati manusia. Jiang menyatakannya saat menanggapi laporan media bahwa Departemen Perang AS menuntut perusahaan teknologi Amerika membuka penggunaan AI secara tak terbatas bagi militer
Menurut Jiang, bahaya itu tampak dalam empat hal. Bahaya itu adalah militer memakai AI tanpa batas, AI dipakai untuk melanggar kedaulatan negara lain, AI diberi pengaruh berlebihan dalam keputusan perang. Lalu, algoritma diberi kuasa menentukan hidup mati manusia.
Menurut dia, langkah-langkah semacam itu mengikis pembatas etika dan akuntabilitas dalam perang. Risikonya juga lebih besar karena teknologi bisa lepas kendali. Ia bahkan memperingatkan, dunia yang hancur oleh robot perang seperti dalam film Terminator bisa menjadi kenyataan.
Di film itu, negara-negara dan tatanan sipil runtuh. Sistem AI militer Skynet memicu perang nuklir yang menghancurkan peradaban modern. (AP/REUTERS/AFP)
Perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat-Israel membunyikan alarm bahaya penggunaan kecerdasan buatan. Perang ini menandai semakin runtuhnya etika dalam penggunaan teknologi itu.
Dalam perang di Timur Tengah, dua hal yang dulu dianggap tabu dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini semakin wajar dilakukan. Alarm pertama adalah penggunaan AI dalam rantai intelijen untuk mencari target serangan. Alarm kedua, misinformasi dan disinformasi yang mencapai level keganasan terbaru.
Serial Artikel
Tragedi SD Minab dan Etika AI di Perang Iran
Dua peristiwa itu memunculkan pertanyaan. Jika AI yang digadang-gadang sangat presisi itu dipakai, mengapa ada SD menjadi sasaran?
Begitu luar biasa pelecehan terhadap kebenaran di era AI ini. Dokumen dan kesaksian asli pun bisa dengan mudah dipatahkan, yaitu dengan dituduh palsu sebagai buatan AI. Bahkan, saat rekaman itu datang dari media kredibel ataupun pejabat sekalipun.
Kejadian terbaru, jurnalis Inggris Steve Sweeney dan timnya nyaris menjadi korban serangan rudal Israel saat meliput di Sungai Litani, Lebanon selatan, pada pertengahan Maret 2026. Insiden itu terekam dalam video.
Dentuman dan ledakan besar terlihat jelas di belakang Sweeney. Bom jatuh saat ia sedang merekam laporan. Sweeney terlempar ke depan dan rekaman pun terhenti.
Setelah insiden itu, Sweeney juga mengunggah video di Instagram. Video memperlihatkan serpihan logam dari serangan tersebut dikeluarkan dari lengannya.
Namun, meski direkam dan disiarkan jurnalis senior, video insiden itu tetap dituduh sebagai hasil AI. Tim verifikasi BBC Verify, Sabtu (21/3/2026), sampai perlu menegaskan rekaman tersebut asli. Media itu melakukan pemeriksaan komprehensif dan menyiarkannya agar orang percaya tidak ada AI dalam rekaman itu.
Hal ini merupakan tantangan terbaru jurnalisme: harus membuktikan pemberitaannya bukan manipulasi hasil AI.
Sebelumnya, tuduhan yang sama menimpa tragedi sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan. Sekolah itu menjadi sasaran rudal yang belakangan diduga dari AS.
Sekitar 165 orang tewas dan sebagian besar adalah siswi usia 7-12 tahun. Namun, sejumlah situs dan akun media sosial berusaha menuduh foto dan video reruntuhan serta korban adalah manipulasi AI.
Praktik ini tak pandang ideologi, keyakinan, dan pangkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun harus susah payah membuktikan diri bahwa dirinya masih hidup. Ia disebut telah tewas dalam serangan Iran. Dua videonya diyakini sebagai hasil AI. Padahal, video itu terverifikasi asli.
Masalah ini bukan soal membela Israel atau Iran. Lebih besar dari itu, masalah ini soal kebenaran. Begitu mudahnya rekaman asli dituduh palsu buatan AI bisa berimplikasi besar.
Dengan metode terbaru ini, suara korban menjadi semakin lemah. Suara sipil semakin mudah dicitrakan tak bisa dipercaya. Suara institusi dan pemerintah pun semakin mudah dianggap palsu.
Kesaksian korban kekerasan aparat atau pemerkosaan, misalnya, dengan mudah disebut bohong. Rekaman asli mereka dengan mudah disebut palsu buatan AI.
Serial Artikel
Rekaman Video Kuak Serangan Tomahawk AS Dekat SD di Iran
Diduga kuat rudal Tomahawk milik AS menghantam SD di Minab dan menewaskan 165 pelajar dan guru. AS tak bisa berkelit karena ada bukti rekaman videonya.
Peneliti psikologi politik dan informasi Helena Rea menilai, perkembangan AI generatif telah membawa masyarakat ke situasi baru yang berbahaya. Bukan hanya karena konten palsu makin mudah dibuat, melainkan juga karena konten asli kini ikut dianggap palsu. Dalam kajian ilmiah, kondisi itu dikenal sebagai liar’s dividend atau keuntungan bagi pembohong.
Menurut Helena, dampak paling serius dari fenomena itu bukan semata pada teknologi, melainkan pada kepercayaan sosial. Saat orang makin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang manipulatif, kepercayaan terhadap sesama, terhadap institusi, dan terhadap ruang publik ikut terkikis.
”Kalau kita menjadi hiper-skeptis, kita tidak percaya pada institusi, hal itu bisa membuat negara tidak stabil. Akuntabilitas publik juga menjadi lemah,” ujar Helena, dihubungi dari Jakarta, Minggu (21/3/2026).
Kalau kita menjadi hiperskeptis, kita tidak percaya pada institusi, hal itu bisa membuat negara tidak stabil. Akuntabilitas publik juga menjadi lemah.
Ketika masyarakat tak lagi yakin pada kenyataan yang telah diverifikasi, yang muncul bukan selalu sikap kritis yang sehat. Yang muncul justru bisa berupa apatisme dan fanatisme terhadap figur yang dianggap paling otoritatif.
”Justru yang muncul itu kita menjadi semakin fanatik terhadap figur yang otoriter. Ini terlihat pada fenomena global sekarang, negara-negara cenderungan menuju otoritarianisme” kata Helena.
”Kill chain”
Dari medan tempur, alarm kedua adalah terkikisnya tabu penggunaan AI dalam rantai pembunuhan (kill chain). Hal ini dari pengakuan AS yang terbuka mengakui menggunakan AI dalam memproses data intelijen dalam memilih target.
”Alat AI canggih dapat mengubah proses yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam, bahkan kadang berhari-hari, menjadi hanya hitungan detik,” kata Panglima Komando Tengah AS Brad Cooper, Rabu (11/3/2026).
Sebelum AS, Israel, Ukraina, dan Rusia mengakui penggunaan AI di medan tempur. Seperti pengakuan Cooper, mereka menyatakan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Namun, siapa bisa memverifikasi atau mengawasi proses ini? Kenyataannya, ada sekolah dasar Minab yang menjadi salah sasaran diduga rudal Tomahawk AS.
Sebelum pengakuan militer AS, penggunaan AI untuk penargetan senjata otonom masih dianggap tabu. Ada batas etika untuk tidak menggunakan, atau setidaknya tak mengakuinya.
Sejak serangan AS-Israel ke Iran, tabu itu kian terkikis. Perdebatan tertinggal di ruang-ruang konferensi akademis dan diplomasi.
Serial Artikel
Nestapa Warga Iran yang Terusir oleh Perang
Tanda-tanda babak akhir perang Iran melawan AS dan Israel belum terlihat. Perang tak cuma memaksa sejumlah warga Iran meninggalkan rumahnya, tetapi juga negaranya.
Kegelisahan itu disuarakan China. Juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin, pada pertengahan Maret, mengatakan China menentang pemanfaatan keunggulan AI untuk mengejar dominasi militer absolut.
Ia, seperti dikutip dari China Daily, juga memperingatkan bahaya ketika algoritma diberi kuasa menentukan hidup dan mati manusia. Jiang menyatakannya saat menanggapi laporan media bahwa Departemen Perang AS menuntut perusahaan teknologi Amerika membuka penggunaan AI secara tak terbatas bagi militer
Menurut Jiang, bahaya itu tampak dalam empat hal. Bahaya itu adalah militer memakai AI tanpa batas, AI dipakai untuk melanggar kedaulatan negara lain, AI diberi pengaruh berlebihan dalam keputusan perang. Lalu, algoritma diberi kuasa menentukan hidup mati manusia.
Menurut dia, langkah-langkah semacam itu mengikis pembatas etika dan akuntabilitas dalam perang. Risikonya juga lebih besar karena teknologi bisa lepas kendali. Ia bahkan memperingatkan, dunia yang hancur oleh robot perang seperti dalam film Terminator bisa menjadi kenyataan.
Di film itu, negara-negara dan tatanan sipil runtuh. Sistem AI militer Skynet memicu perang nuklir yang menghancurkan peradaban modern. (AP/REUTERS/AFP)