Dua Alasan Man City Tak Lagi Istimewa

Manchester City mencatatkan performa pertahanan terburuk di era Pep Guardiola. Ketergantungan akut kepada Erling Haaland mulai merugikan "The Citizens".

08 Des 2024 11:31 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Sudah satu bulan lebih berlalu, Manchester City dijauhi kemenangan pada pertandingan tandang di semua ajang. Ditahan imbang 2-2 oleh Crystal Palace, Sabtu (7/12/2024), di Stadion Selhurst Park, menyebabkan ”The Citizens” sudah nirmenang di enam laga luar kandang pada tiga kompetisi berbeda.

Jumlah itu termasuk empat laga tandang di Liga Inggris menghadapi Bournemouth, Brighton & Hove Albion, Liverpool, dan Palace. City selalu kemasukan dua gol pada empat pertandingan itu.

Kondisi itu membuat City semakin menjauh dari Liverpool, pemuncak klasemen sementara. Meskipun masih bertengger di peringkat keempat, Kevin De Bruyne dan kawan-kawan sudah berjarak delapan poin dari Liverpool. Selisih poin itu berpeluang membesar karena Liverpool memiliki laga tunda kontra Everton yang seharusnya berlangsung Sabtu kemarin.

Jika tidak segera bangkit untuk konsisten ke jalur kemenangan, City mustahil akan bisa meraih gelar Liga Inggris kelima beruntun. Apalagi, City tidak hanya harus mengejar Liverpool. Mereka juga perlu membuntuti duo klub asal London, Chelsea dan Arsenal, yang sudah menemukan kohesi untuk bersaing di papan atas.

Quote

Ini adalah musim untuk bertahan. Kami tidak bisa berbicara tentang perburuan titel juara ketika kami kalah empat laga beruntun dan imbang.

Britain Soccer Premier League

Lalu, apa penyebab City terlihat seperti tim biasa saja di pengujung 2024? Mereka tak lagi membuat lawan kalah sebelum bertanding. Sebab, City bermain penuh dengan cela yang bisa dimanfaatkan lawan dengan baik.

Merujuk sembilan pertandingan terakhir yang berbuah satu menang, satu seri, dan tujuh kekalahan, terdapat dua masalah akut di dalam skuad City. Pertama, kerapuhan lini pertahanan mereka. Kedua, bumerang ketergantungan pada Erling Haaland.

Pertahanan merana

City telah kemasukan delapan gol dari empat laga tandang terakhir di liga, lalu secara total kebobolan 21 gol pada sembilan laga terakhir sejak tersingkir dari Piala Liga Inggris dari Tottenham Hotspur, 30 Oktober.

Jumlah itu menunjukkan penurunan signifikan kualitas bertahan City. Pada 13 pertandingan awal musim 2024-2025, City hanya kemasukan 10 gol.

Cedera yang dialami sejumlah pemain bertahan penting tak lepas membuat pertahanan City merana. Dalam periode November hingga awal Desember ini, Manajer Pep Guardiola tidak pernah memiliki lima bek murni secara bersamaan, yaitu Ruben Dias, Josko Gvardiol, Nathan Ake, Manuel Akanji, dan John Stones.

Penyerang Crystal Palace Eddie Nketiah (kanan) menekel gelandang Manchester City Jack Grealish dalam pertandingan Liga Inggris antara Crystal Palace dan Manchester City di Stadion Selhurst Park, London, Sabtu (7/12/2024).

Kondisi itu menyebabkan Guardiola meninggalkan pakem tiga bek tengah dengan kembali ke formasi empat bek. Selain itu, ketiadaan Rodri, pemain terpenting City, menyebabkan mereka kehilangan pemimpin dalam skema bertahan sekaligus penyaring awal serangan lawan dari lini tengah.

Berbagai taktik alternatif dilakukan Guardiola dengan menempatkan Mateo Kovacic untuk menyubstitusi tugas Rodri. Namun, Kovacic juga dihantam cedera, yang membuatnya absen sejak awal November lalu.

Ilkay Guendogan pun diberikan tugas bermain lebih dalam dan dekat dengan kuartet bek. Namun, insting bertahan pemain berpaspor Jerman itu tidak sebaik Rodri.

Situasi badai cedera itu diperparah dengan meningkatnya blunder yang dilakukan pemain City. Dalam satu bulan terakhir, Gvardiol, misalnya, telah menyebabkan dua eror yang berbuah gol untuk lawan.

Kerapuhan lini bertahan City bisa dilihat dari angka expected goals allowed (xGA). Dalam sembilan laga terakhir, menurut FBRef, City selalu menjalani pertandingan dengan lawan mencapai lebih dari 1,0 xGA. Artinya, setiap lawan City memiliki probabilitas mencetak satu gol.

Britain Soccer Premier League

Bahkan, City mencatatkan nilai xGA terburuk sejak statistik itu diperkenalkan mulai musim 2017-2018 ketika tumbang 0-2 dari Liverpool di Stadion Anfield, 1 Desember lalu. Serangan bertubi-tubi Liverpool membuat City mengalami 3,4 xGA.

Sebelumnya, catatan terburuk xGA yang dikoleksi City dalam satu laga tercipta saat tumbang 1-2 dari Chelsea pada pekan ke-31 Liga Inggris edisi 2019-2020. Itu adalah untuk pertama kalinya City menderita xGA lebih dari tiga. Catatan negatif itu pun baru tercipta lagi di Anfield.

Jika membandingkan performa bertahan City dalam Liga Inggris dua musim terakhir, City benar-benar mengalami penurunan kualitas defensif mereka. Pada musim ini, yang baru merampungkan 15 laga, City sudah menjalani 10 pertandingan Liga Inggris dengan menderita lebih dari 1,0 xGA.

Padahal, City hanya menderita 14 laga catatan lebih dari 1,0 xGA selama Liga Inggris 2023-2024. Tak heran, City merupakan satu-satunya tim yang sudah kebobolan lebih dari 20 gol dari tim yang menghuni zona lima besar Liga Inggris musim ini.

”Ini adalah musim untuk bertahan. Kami tidak bisa berbicara tentang perburuan titel juara ketika kami kalah empat laga beruntun dan imbang,” ujar Guardiola seusai pertandingan kontra Palace dilansir The Guardian.

Britain Soccer Premier League

Haaland tanpa alternatif

Terlepas dari buruknya lini pertahanan, permainan menyerang City pun sudah terlalu monoton dan mudah diantisipasi lawan. Meskipun Haaland telah mencetak 13 gol di Liga Inggris, lawan-lawan City cukup berfokus meredam penyerang asal Norwegia itu untuk membuat City menderita.

Haaland pun sempat paceklik mencetak gol di tiga pertandingan liga sebelum mencetak gol penyama kedudukan ke gawang Palace. Pemain bernomor punggung sembilan itu pun sudah tidak lagi mampu mencetak lebih dari satu gol per laga sejak melawan Brentford di pekan keempat.

Catatan gol Haaland di liga menurun dari 1,14 per laga pada musim lalu, kini ia hanya menghasilkan 0,86 gol per laga. Merosotnya ketajaman Haaland berimbas pula dengan koleksi gol ”The Citizens”.

City hanya menghasilkan 1,8 gol per laga selama 15 pertandingan musim 2024-2025. Pada musim 2023-2024, mereka mencetak 2,5 gol per laga.

Satu perbedaan mencolok City musim lalu dengan saat ini adalah tidak adanya sumber gol alternatif ketika Haaland tumpul. Pada musim lalu, ketika memastikan tim pertama meraih empat gelar Liga Inggris beruntun, Guardiola juga memiliki Phil Foden dan Julian Alvarez yang mencetak lebih dari 10 gol.

Sebanyak 15 dari 20 pemain yang pernah diturunkan Guardiola sejak menit awal juga memberikan gol untuk City. Artinya, 75 persen pemain inti City mencetak gol.

Ekspresi Manajer Manchester City Pep Guardiola saat pertandingan Liga Inggris antara Crystal Palace dan Manchester City di Stadion Selhurst Park, London, Sabtu (7/12/2024).

Dengan menghitung kontribusi gol yang menggabungkan gol dan asis, maka City memiliki tujuh pemain dengan kontribusi gol dobel digit pada musim lalu.

Sementara itu, pada musim ini, Haaland benar-benar tak tergantikan. Tidak ada pemain lain yang mampu mendekati gol Haaland atau setidaknya menghasilkan lebih dari lima gol. Haaland pun menjadi satu-satunya pemain dengan kontribusi gol dobel digit pada Liga Inggris musim 2024-2025.

Kepergian Alvarez ke Atletico Madrid tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Padahal, Alvarez mampu meningkatkan persaingan di lini depan City sekaligus menjadi deputi Haaland menyumbang gol.

Di sisi lain, Foden pun belum menemukan kembali standar tinggi performanya pada musim lalu. Baru satu asis dihasilkan Foden dari 10 penampilan.

Justru dua pemain berkarakter bertahan asal Kroasia, yaitu Gvardiol dan Kovacic, yang memiliki jumlah gol terbanyak kedua bagi City berkat koleksi tiga gol. Secara total, hanya tujuh pemain dari 21 pemain yang pernah mengisi 11 pemain utama City di Liga Inggris musim ini. Itu menunjukkan hanya 33 persen pemain inti City yang bisa mencatatkan nama di papan skor.

Situasi itu tentu menjadi masalah bagi City yang ingin segera bangkit dari tren hasil negatif. Jaminan gol dari Haaland tentu sangat diperlukan City, tetapi mereka juga perlu sumbangan gol berimbang dari pemain lain seperti pada musim-musim terdahulu.

Britain Soccer Premier League

”Saya tidak melihat mereka memiliki kesempatan (juara). Terlalu banyak pemain yang tidak bermain mendekati kemampuan terbaik mereka,” ucap Paul Merson, pandit Liga Inggris, di Sky Sports.

Dengan situasi serba sulit saat ini, City amat sulit mempertahankan dominasi di Inggris. Namun, jika Guardiola bisa membawa anak asuhannya meraih trofi liga pada musim panas tahun depan, capaian itu layak disebut prestasi terbaiknya sebagai pelatih.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata