Tottenham Hotspur yang memulai dan kian menenggelamkan Manchester City ke dalam titik nadir. Pep Guardiola alami periode terburuk sebagai juru taktik.
24 Nov 2024 06:45 WIB · Olahraga
MANCHESTER, MINGGU — Peribahasa ”bumi berputar zaman beredar” tengah dialami Manajer Manchester City Pep Guardiola. Setelah tak terbendung menguasai Liga Inggris dalam tiga musim beruntun, Guardiola merasakan periode terburuk yang pikiran terliarnya pun tak berani membayangkan itu.
Ditaklukkan Tottenham Hotspur 0-4, Minggu (24/11/2024) dini hari WIB, di Stadion Etihad, memperparah krisis City. Erling Haaland dan kawan-kawan telah menderita lima kekalahan beruntun di tiga kompetisi berbeda. Khusus di Liga Inggris, ”The Citizens” telah mengalami tiga laga dengan hasil akhir membuat kepala tertunduk lesu.
James Maddison mencetak brace pada menit ke-13 dan ke-20. Derita City diperparah dengan dua gol Spurs setelah turun minum. Pedro Porro (menit ke-52) dan Brennan Johnson (menit ke-90+3) membantu Guardiola mengemas rekor terburuk dalam kariernya.
Guardiola belum pernah merasakan kekalahan dengan margin empat gol di laga kandang kompetisi domestik. Tumbang 0-4 di kandang pernah dirasakan Guardiola ketika menangani Bayern Muenchen saat ditaklukkan Real Madrid, April 2014, di Liga Champions.
Selain skor besar itu, Guardiola mengalami masa terburuk dalam karier kepelatihannya akibat lima kekalahan beruntun, termasuk tiga laga dialami di Liga Inggris. Dengan dominasi serta gaya permainan yang menjadi teladan pelatih dan tim lain, mustahil untuk membayangkan juru taktik asal Spanyol itu merasakan periode bak manajer medioker.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/ecaae4c4c6e51463a0a3e4cc8d54ca71-AFP_36N74NR.jpg)
City pun tidak pernah menginginkan kembali merasakan era-era mereka menjadi tim semenjana. Lima kalah beruntun terakhir kali dialami The Citizens ketika ditangani Stuart Pearce pada 2006. Kala itu, gelontoran dana dari Timur Tengah belum dirasakan City.
Tiga tumbang di pertandingan liga berturut-turut juga dirasakan City kali terakhir ketika masih diasuh Manuel Pellegrini. City merasakan itu pada musim terakhir Pellegrini, tepatnya periode Maret 2016. Pellegrini digantikan oleh Guardiola.
Padahal, untuk menutup rentetan hasil negatif itu, City telah menggelar dua ”acara” untuk mengembalikan mood positif skuad. Dalam pekan ini, mereka mengumumkan perpanjangan kontrak Guardiola minimal hingga akhir musim 2025-2026.
City juga memberikan seremoni kepada Rodri yang menjadi pemain pertama mereka meraih trofi individu paling prestisius, Ballon d’Or. Perayaan singkat nan berkesan itu dilaksanakan sebelum sepak mula laga kontra Spurs. Nyatanya, dua hal itu gagal mengangkat moral skuad The Citizens.
”Dalam delapan tahun, kami tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Sekarang kami harus menerima dan mengakhiri (tren kekalahan) dengan memenangkan pertandingan selanjutnya,” ujar Guardiola dalam konferensi pers usai laga dilansir Sky Sports.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/d7de4e062f3f2fcf08a622aa335f40f2-50b754aeb9b844028fc8dc21a76ddc3c_0_1a8a678e7e6349e4b0649157193eb6d7.jpg)
”Kami tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi inilah hidup. Terkadang ini terjadi, kami harus bangkit dan melakukan lagi semuanya dari awal,” katanya.
Jika sekadar membaca statistik, permainan City terlihat tidak ada yang berbeda. Mereka tetap mendominasi dengan catatan 59 persen penguasaan bola dan 23 tembakan. Akurasi operan meraka pun mencapai 93 persen.
Namun, dalam realitas di atas lapangan, angka statistik itu hanya ilusi. Kehilangan pemain penting di lini tengah, seperti Rodri, Mateo Kovacic, dan Kevin De Bruyne, yang memulai pertandingan dari bangku cadangan, berimbas pada hancurnya keseimbangan City.
Tanpa Rodri yang divonis telah mengakhiri musim ini lebih dini, kemudian Kovacic juga menderita cedera ringan menyebabkan City kehilangan filter serangan lawan di depan kuartet bek.
Ilkay Guendogan yang ditempatkan sebagai pivot tampil tak sesuai harapan. Pemain asal Jerman itu tak menunjukksn ketangguhan fisik demi melakukan duel-duel dengan pemain Spurs yang agresif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/fc54ba1647e50c44290e5c01bcc86df7-90d7829f33664718a2442a07279e13b2_0_927a0be7dcec41778fb90104dcd0d648.jpg)
Itu tersaji dari superioritas Spurs memenangi duel. Sebanyak 43 duel diungguli Spurs, sedangkan City hanya memenangkan 39 duel.
Puncaknya, eror dilakukan pemain City ketika Josko Gvardiol mengirimkan operan keliru kepada Guendogan. Situasi itu mengawali gol kedua tim tamu.
Absennya Ruben Dias juga berpengaruh kepada koordinasi lini belakang City. Duet John Stones dan Manuel Akanji bermain penuh cela. Kehadiran Nathan Ake pada awal babak kedua yang mengganti Stones tak membantu The Citizens tampil kokoh.
”Pada momen ini, kami rapuh dalam bertahan. Kami memulai laga dengan normal, tetapi tidak bisa mencetak gol dari sejumlah peluang dan justru kemasukan. Kebobolan lebih dari satu gol membuat segalanya lebih sulit untuk emosi kami,” kata Guardiola.
Meskipun nirpoin sejak pekan ke-10, City masih mempertahankan posisi kedua. Namun, City akan terjerembap keluar dari empat besar jika tidak segera bangkit. Tiga tim di bawah mereka, yaitu Chelsea, Arsenal, dan Brighton & Hove Albion, telah mengemas 22 poin atau hanya berselisih satu poin.
Spurs kian menegaskan diri sebagai pemberi kutukan bagi City. Spurs adalah tim yang menerbitkan krisis kepada City berkat kemenangan di babak 16 besar Piala Liga Inggris, akhir Oktober lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/24/a72ee39c43ba5f1c79b64cacac4ff0cf-AFP_36N74PF.jpg)
Kini, ”Si Lili Putih” kian menenggelamkan City ke dalam krisis yang tak berujung. Manajer Spurs Ange Postecoglou menegaskan situasi buruk yang tengah menimpa City tidak secara otomatis membuat timnya menjalani laga lebih mudah.
”Saya bangga kepada anak-anak untuk sepak bola yang mereka mainkan serta ketangguhan dan disiplin yang kami tunjukkan. Ketika menghadapi City, mereka menguji setiap aspek dalam permainan Anda dan kami mengatasi itu dengan baik,” tutur Postecoglou dilansir BBC.
Berbeda dengan City, Spurs sudah mampu bangkit setelah kekalahan mengejutkan dari tim promosi, Ipswich Town, sebelum jeda internasional. ”Ini adalah pertandingan penting bagi kami untuk melihat reaksi para pemain,” ujarnya.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan