Dua Anak, Dua Emas SEA Games Diananda Choirunisa

Diananda hanya membawa satu anak ke Thailand, tetapi bertanding di final SEA Games dengan dua anak. Satu anaknya masih di dalam kandungan, baru diketahui pagi hari.

17 Des 2025 19:59 WIB · Olahraga

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Oleh Kelvin Hianusa, dari Bangkok, Thailand

BANGKOK, KOMPAS — Medali emas SEA Games bukanlah sesuatu yang sangat istimewa bagi pemanah Indonesia, Diananda Choirunisa. Dia sudah berkali-kali mendapatkannya. Namun, dua emas di edisi Thailand 2025 terasa begitu spesial karena sang pemanah berjaya saat sedang mengandung anak kedua. 

Hari terbaik atau terburuk bisa datang kapan saja. Diananda sudah membuktikannya. Di ajang multicabang terakhir sebelum ke SEA Games Thailand 2025, Olimpiade Paris 2024, dia begitu terpuruk karena gagal naik podium. Saking kecewa dan hancur, Diananda sempat muak ketika melihat busur sepulang dari Paris.

Diananda memutar takdir itu di Thailand. Hari terindah datang menyapanya. Pagi hari jelang final beregu dan individu putri, Rabu (17/12/2025), dia baru saja mengetahui sedang hamil. Anugerah itu dijadikan motivasi bertanding. Bersama anak dalam janinnya, dia memenangi dua emas di Lapangan Sport Authority of Thailand, Bangkok.

Pemanah recurve Indonesia Diananda Choirunisa membawa anaknya Daisha Arraya Almahyra naik ke podium dalam upacara penghormatan pemenang nomor individu putri SEA Games Thailand 2025 di Lapangan Sport Authority of Thailand, Bangkok, Rabu (17/12/2025). Diananda meraih emas setelah mengalahkan wakil Vietnam Huyen Diel Trieu 6-4 di final.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

”Sama sekali tidak mengganggu. Alhamdulillah, medali emas dua, anak dua he-he-he,” katanya soal bertanding dalam kondisi mengandung. ”Sebenarnya baru tahu banget tadi pagi karena memang sudah telat (menstruasi) sekitar tiga minggu. Mualnya itu anehnya pagi, tetapi di lapangan (justru) menter,” lanjut pemanah 28 tahun itu.

Bagi Diananda, kemenangan terasa semakin indah karena anak pertamanya, Daisha Arraya Almahyra (3), turut datang. Biasanya Daisha tidak diajak saat Diananda bertanding di luar negeri. Kali ini berbeda, sang anak sampai diajak naik ke podium saat penyerahan medali. Sang ibu pun disematkan emas bersama kedua anaknya.

Kondisi hamil bukan alasan untuk tampil tidak optimal. Diananda berhasil melewati kondisi panas terik dan angin yang begitu ”liar” selama pertandingan. Matahari seperti menyorot tepat di atas kepala. Sementara itu, saking kencang angin, umbul-umbul di lapangan selalu berkibar dengan tegak.

Di final individu, Diananda menaklukkan wakil Vietnam, Huyen Diel Trieu, 6-4. Momentum sempat berbalik di pertengahan laga. Diananda, yang sudah unggul 4-0, kalah dalam dua set beruntun. Skor jadi 4-4. Anak panahnya beberapa kali menancap di nilai 7. Bagi pemanah olimpian sepertinya, itu seharusnya tidak terjadi. 

Beruntung, jiwa bonek (bondho/modal nekat) pemanah asal Jatim itu berkobar. Di set terakhir, dia mendapatkan nilai sempurna (10) dua kali dari tiga percobaan. ”Anginnya agak ekstrem. Jadi, harus berani ambil keputusan. Kunci di terakhir itu keberanian. Kalau Anis (Diananda) ini memang pemberani. Dia luar biasa,” kata pelatih tim panahan Indonesia, Hendra Setijawan.

Pemanah recurve Indonesia Diananda Choirunisa beraksi dalam final individu putri SEA Games Thailand 2025 di Lapangan Sport Authority of Thailand, Bangkok, Rabu (17/12/2025). Diananda mengalahkan wakil Vietnam Huyen Diel Trieu 6-4 di final.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Diananda terlebih dahulu memenangi emas di nomor beregu putri bersama para yuniornya, yaitu Ayu Mareta dan Rezza Octavia. Mereka menaklukkan tim Malaysia 5-3. Laga juga sempat berlangsung sengit hingga akhir. Bedanya, pembeda di duel itu adalah Rezza yang berkali-kali mendapat nilai sempurna di set-set terakhir.

Rezza sendiri mempersembahkan kemenangan itu untuk Diananda yang sudah seperti kakaknya. ”Aku nangis. Jadi pagi tadi tiba-tiba ditanya, ’Kamu bawa test pack enggak?’ Terus dia bilang ternyata garis dua saat mau mandi. Aku nangis, terharu juga. Jadi, kebahagiaan di dalam tim itu yang juga dibawa untuk bertanding hari ini,” tuturnya.

Ada hikmah di setiap cobaan. Diananda memahami itu. Baginya, pengalaman di Paris memang pahit. Namun, itu membuatnya jadi versi lebih baik. Tidak ada kebahagiaan di Thailand, tanpa luka di Paris. ”Kalau aku dapat medali di Paris, aku pasti sudahan. Itu mimpiku. Karena gagal, aku masih penasaran Olimpiade,” kata Diananda.

Karena itu pula, Diananda sebenarnya tidak terlalu berbunga-bunga dengan raihan dua emas SEA Games. Baginya, menjadi yang terbaik di Asia Tenggara sudah merupakan keharusan. ”Target saya Olimpiade, bukan SEA Games. Kalau misal saya di sini tidak dapat, bagaimana Olimpiade? Jadi, ya, motivasi saya harus jadi nomor satu di sini,” pungkasnya.

Dengan kondisi kehamilannya, atlet berhijab itu berencana menepi sejenak dari pemusatan latihan nasional. Diananda tidak akan turun di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Meeskipun begitu, dia masih akan mengejar mimpinya ke Olimpiade Los Angeles 2028 dengan tetap berlatih di pemusatan latihan daerah Jatim.

Pemanah recurve Indonesia Diananda Choirunisa merayakan kemenangan atas wakil Vietnam Huyen Diel Trieu 6-4 di final individu putri SEA Games Thailand 2025 di Lapangan Sport Authority of Thailand, Bangkok, Rabu (17/12/2025). 
KOMPAS/KELVIN HIANUSA

Lewat sepasang emas Diananda, tim recurve berhasil menutup SEA Games dengan koleksi empat emas dan satu perunggu. Indonesia menyapu bersih empat laga final di hari terakhir. Dua emas lain dihasilkan dari nomor beregu putra (Ahmad Khoirul Baasith, Arif Dwi Pangestu, Riau Ega Salsabilla) dan individu putra (Riau). 

Pencapaian itu terbilang cukup baik. Indonesia berhasil mempertahankan capaian empat emas, seperti saat panahan terakhir dipertandingkan di edisi Vietnam 2021. Satu emas berhasil dicuri tim Singapura yang saat ini dipimpin oleh pelatih kepala asal Indonesia, Denny Decko. 

Menurut Denny, Indonesia semestinya tidak boleh puas dengan prestasi SEA Games. Sebab, level tim ”Merah Putih” sudah di Olimpiade. ”Kelas SEA Games saya rasa bukan kesulitan bagi Indonesia. Di Olimpiade terakhir kita sudah masuk lima besar dunia,” kata mantan pelatih tim Indonesia tersebut. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa, dari Bangkok, Thailand
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul