Walaupun didera isu kecurangan wasit dan juri, tim kickboxing Indonesia masih bisa meraih 1 emas di SEA Games. Emas itu sedikit meredakan amarah atlet dan pelatih.
16 Des 2025 22:32 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
BANG SAO THONG, KOMPAS — Luapan amarah tim kickboxing Indonesia menguap sejenak berkat prestasi cemerlang Riyan Jefri Hamonangan Lumbanbatu. Di tengah dugaan kecurangan yang dilakukan para juri dan wasit SEA Games Thailand 2025, Jefri meraih emas dengan dramatis dalam laga pamungkas wakil ”Merah Putih”.
Indonesia nyaris pulang tanpa medali pada hari terakhir pertandingan kickboxing di Stadion John Paul II Sports Center, Bang Sao Thong, Thailand, Selasa (16/12/2025). Jefri, wakil terakhir Indonesia, sempat tertinggal angka dari wakil tuan rumah Jakkrit Kongtook saat ronde terakhir laga final nomor 60 kilogram K-1 tersisa kurang dari sepuluh detik.
Tiba-tiba, atlet asal Sumatera Utara itu sukses mendaratkan dua tendangan ke badan lawan. Keadaan pun berputar. Dua dari tiga juri memenangkan Jefri.
”Ini buat almarhum ayah saya. ’Ayah dipanggil’ saat saya persiapan SEA Games. Saya pulang ke kampung (Siantar) hanya untuk menguburkan ayah saya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/1444f12e62953940ac945270a7898673-IMG_20251216_170212.jpg)
Pelatih tim kickboxing Indonesia, Sadarmawati Icen Simbolon, yang sempat emosi beberapa menit menjelang final, tampak melompat-lompat kegirangan di bawah ring. Sebelum itu, Sadarmawati begitu kesal dengan keputusan para pengadil yang membuat anak asuhannya, Ariyanta Sitepu, kalah dalam final nomor 64 kg point fighting.
Sama seperti sang pelatih, para atlet lain yang datang mendukung turut berbahagia. Atmosfer negatif di dalam tim luntur seketika. Suasana semakin hangat saat semuanya berkumpul di ruang ganti. Jefri menangis tersedu-sedu, berlutut di depan patung Tuhan Yesus yang dibawanya dari rumah. ”Ini doa bapak..,” ucapnya.
Ini buat almarhum ayah saya. ’Ayah dipanggil’ saat saya persiapan SEA Games.
Seisi ruangan jadi melankolis. Mereka bisa sedikit melupakan kekesalan terhadap para juri yang terus membayangi sejak babak perempat final. Banyak petarung Indonesia yang menceritakan ketidakadilan tersebut, mulai dari Abdul Aziz, Andi Jerni, hingga Jefri. Ketiganya sepakat, penilaian juri sering tidak akurat.
Jefri saja yang meraih emas tidak puas dengan standar juri. ”Di sini kami kayak gimana, ya. Ada wasitnya yang ngasih poin ke kami itu agak berat. Saya enggak tahu kenapa. Itu membuat kami kena mental. Tetapi, kalau Jefri, ya, Jefri buang dulu. Hanya mau fokus saja saat bertanding,” ujar sang debutan.
Uniknya, tidak hanya Indonesia, atlet Thailand, Manoban Jantakarn, juga sempat dibuat kesal oleh para perangkat pertandingan. Dia dan dua pelatihnya sempat mendatangi panitia di belakang panggung. Menurut Manoban yang kalah dari atlet Filipina di final, lawannya melakukan pukulan ilegal terus-terusan, tetapi tidak diberikan peringatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/b66e3bd21ed79b71c9ea8e0f5106b1df-FAK_1786.jpg)
Sadarmawati berkata, keputusan paling janggal terjadi dalam laga semifinal 52 kg K-1 putri antara Aprilia Eka Putri versus wakil Myanmar, Thazin Htoo May. Aprilia yang berstatus juara di Piala Dunia Uzbekistan 2025 dikalahkan mutlak 0-3 oleh atlet dari negara yang belum masuk radar persaingan papan atas kickboxing Asia Tenggara.
”Aprilia poin-poinnya banyak yang masuk, tetapi tidak dihitung. Tidak ada yang bisa mewakili kami karena manajer sudah kembali ke Indonesia. Itu semua ada video-videonya (buktinya). Tetapi, saya bersyukur lagu ’Indonesia Raya’ bisa berkumandang. Mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan kepada kami,” ucap Sadarmawati.
Di final sebelumnya, Ariyanta sempat diuntungkan karena sang lawan, Pikanet Sukykik, mengalami dislokasi bahu. Atlet tuan rumah itu sempat mendapatkan perawatan beberapa menit, lalu kembali bertanding dan memenangi laga. Tim pelatih Indonesia protes karena batas waktu untuk merawat cedera hanya 30 detik.
Sebelum persoalan tentang obyektivitas wasit, tim kickboxing sudah mendapatkan masalah karena sang manajer Rosi Nurasjati dideportasi oleh Asian Kickboxing Conferderation (AKC). Rosi dituduh melanggar aturan karena berada di area SEA Games walaupun tidak terdaftar sebagai ofisial tim resmi.
Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Kickboxing Indonesia Ngatino, Rosi tidak dideportasi atas permintaan AKC. Hanya saja, sang manajer memang tidak mendapatkan kartu identitas SEA Games. ”Karena id card tidak keluar dari NOC (Komite Olimpiade Indonesia), apa boleh buat,” ujarnya.
Terkait protes dari para atlet dan pelatih Indonesia, Ngatino berupaya mendinginkan suasana. ”Bisa dilihatlah, ya, kan. Ya, mestinya kita lihat faktanya dulu kaya apa, ya. Kan, ada mekanismenya kalau mau protes. Biasalah kaya gini. Harapan kami pemahaman ke depan ada edukasi dari kejadian ini,” ujar Ngatino.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/16/7281544a1c046f22ee043c5179dbe678-FAK_2265.jpg)
Setelah semua pertandingan final selesai digelar, drama baru tersaji. Panitia dari AKC tidak mengizinkan Jerni naik podium untuk menerima medali perunggu di nomor 50 kg point fighting putri. Dia dilarang karena telah membuat ”ramai” soal kontroversi juri dan wasit SEA Games di media sosial pribadinya.
Setelah bernegosiasi selama sekitar satu jam, Jerni baru diperbolehkan naik ke podium. Syaratnya, dia harus mengunggah video permintaan maaf di media sosial miliknya sekaligus menghapus video protes yang telah diunggah. Jerni terpaksa menerima persyaratan dari panitia tersebut.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa dan Fakhri Fadlurrohman dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto