Bagaimana duet Jimmy Butler dan Stephen Curry berhasil mengubah status Golden State Warriors, dari tim medioker menjadi kandidat juara NBA, hanya dalam dua bulan?
06 Apr 2025 06:45 WIB · Olahraga
Stephen Curry mungkin harus puas menamatkan karier dengan empat cincin juara, sementara Jimmy Butler harus rela menyandang status bintang tanpa mahkota. Dua bulan lalu, Februari 2025, realitas itu menghantui kedua pebasket veteran tersebut. Garis takdir berubah seketika setelah mereka bersatu di Golden State Warriors.
Warriors menjadi tim paling ditakuti seisi NBA saat ini, sekitar dua pekan sebelum playoff. Curry mulai diprediksi bisa meraih cincin kelima di akhir musim, sementara Butler akan merasakan titel juara pertama. Transformasi drastis bukan sekadar skenario film atau khayalan, itu benar-benar terjadi di klub asal San Francisco tersebut.
LeBron James, pebasket Los Angeles Lakers yang digadang-gadang sebagai sosok “GOAT”, memvalidasi itu. “Saya pernah berhadapan saat mereka (Warriors) menambah Kevin Durant. Jimmy adalah pemain hebat. Dia membuat mereka lebih tangguh. Namun, itu selalu sama. Mereka selalu menemukan jalan keluar,” katanya.
Ungkapan James bukan sekadar formalitas, bukan hanya demi menjaga tali persahabatan dengan Curry. Dia mengatakan itu tepat setelah Lakers kalah dari Warriors di kandang sendiri, Stadion Crypto.com Arena, pada Jumat (4/4/2025). Terdapat rasa kekaguman dan sedikit kecemburuan dalam kalimatnya.
Wajar jika James merasa terancam. Sebelum Butler ditukar dari Miami Heat, tepat dua bulan lalu, Warriors lebih mungkin gagal dibandingkan lolos playoff. Mereka kini melompat hingga peringkat kelima Wilayah Barat usai menang beruntun atas tiga tim rival dalam rentang empat hari, yaitu Lakers, Memphis Grizzlies, dan Denver Nuggets.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/4e87dd76c9f2e6a67f8f3540c82fa712-APTOPIX_Warriors_Lakers_Basketball.jpg)
Sejak era Butler, Warriors menunggangi momentum dengan rekor 23 kali menang dan 5 kali kalah atau terbaik ketiga di liga. Catatan itu lebih impresif lagi jika hanya dihitung hanya saat Curry dan Butler bermain bersama sejak awal laga, yaitu 20 kali menang dan 2 kali kalah. Tidak bisa dimungkiri, mereka adalah tim terpanas di NBA saat ini.
Sorotan utama dari keberhasilan Warriors pasti tertuju ke Curry. Penambak paling jitu di kolong langit itu sedang “wangi-wanginya”. Lihat saja sampel di tiga laga terakhir yang sangat penting. Dia memimpin tim dengan sumbangan total 125 poin, termasuk mencetak 52 poin di kandang Grizzlies.
Urgensi, kata Curry, rahasia utama dari performa berapi-api tersebut. Dia sudah masuk dalam mode playoff. “Perasaan tentang di mana posisi anda di klasemen membuat setiap pertandingan jadi penting. Kami tahu kapabilitas tim ini. Rasa percaya diri ada bersama kami, jadi tinggal menunggangi momentum,” ujar guard 37 tahun itu.
Super Butler
Kehebatan Curry sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebelum Butler datang, dia juga menggendong Warriors sendirian nyaris di setiap pertandingan musim ini. Curry hanya lebih termotivasi lagi dibandingkan pada awal musim. Terlepas dari itu, alasan utama tim asuhan pelatih Steve Kerr bisa kembali relevan adalah sosok Butler.
Laga Warriors versus Nuggets, pada Jumat pagi WIB, cukup untuk menjelaskan itu. Kemenangan 118-104 tersebut merupakan yang pertama untuk Warriors setelah sembilan kali kalah beruntun dari Nuggets. Bukan kebetulan, Butler (19 poin, 5 asis, 5 steal) merupakan pemain yang paling berpengaruh sepanjang laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/5d8c96e7c4a9d0c3efd2dc16651cbfc5-Nuggets_Warriors_Basketball_1_.jpg)
Pengaruh Butler tercermin dari statistik plus minus yang tercatat paling tinggi (+21). Sang forward membawa keunggulan 21 poin ketika di lapangan. Menariknya lagi, Warriors mampu lebih unggul 8 poin atas Nuggets saat Curry duduk di bangku cadangan. Sebelum Butler datang, kejadian tersebut sangat langka.
Curry sekarang bisa tersenyum dari bangku cadangan. Dia tidak perlu lagi khawatir timnya kehilangan momentum saat kembali ke lapangan. Semua berkat Butler yang berperan memimpin unit kedua Warriors. Ketika Warriors bisa unggul dengan dan tanpa Curry di lapangan, tim lawan seperti tidak punya pilihan selain berserah diri.
Curry sempat berkata, sosok Butler memberikan eksperimen baru yang belum pernah dirasakan sejak debut pada 2009. Curry, bersama mantan rekannya Klay Thompson, dijuluki “Splash Brothers” karena sama-sama piawai menembak tiga angka. Butler sangat berbeda, lebih banyak mencari poin dari area dalam.
Kehadiran sosok dengan elemen berbeda itu sukses mengubah gaya main Warriors. Evolusi bisa dilihat dari catatan jumlah tembakan bebas. Bersama Butler, Warriors menjadi tim dengan rerata jumlah tembakan bebas terbanyak di liga (20,6 kali). Sebelum pemain dengan enam kali penampilan All-Star itu datang, mereka berada di posisi terbawah (14,7 kali).
Tembakan bebas datang dari agresivitas Butler di area dalam. Pemain 35 tahun itu memasukkan rerata 6,3 kali tembakan bebas dari 7,3 kali percobaan. Walaupun baru dua bulan di Warriors, Butler sudah tercatat sebagai pemain kedua dengan total tembakan bebas terbanyak di klub. Catatannya hanya di bawah Curry.
Tim lawan tidak hanya harus meladeni tembakan-tembakan ajaib Curry dari garis tiga angka, tetapi juga menjaga area dalam dari ancaman Butler. “Sejak kami mendapatkan Jimmy, tim kami sangat efektif dengan rotasi bermain di lapangan. Jimmy juga bisa bekerja dengan ruang lebar yang diberikan para pemain lain,” kata Kerr.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/c3b1bed08ae3739378c9ad5ce943a280-Nuggets_Warriors_Basketball.jpg)
Butler, berstatus lima kali masuk tim All-Defensive, juga menambah intensitas di pertahanan Warriors. Tim lawan sudah harus menghadapi pemain spesialis bertahan seperti Draymond Green, lalu ditambah dengan Butler. Adapun Green merupakan kandidat terkuat pemenang penghargaan Defensive Player of The Year musim ini.
Aksi duo Butler-Curry masih akan berlanjut di penghujung musim reguler. Warriors akan memainkan lima laga tersisa untuk menentukan posisi di klasemen akhir. Warriors (46 menang - 31 kalah) masih bisa menyusul peringkat ketiga Lakers (47-30) dan peringkat keempat Nuggets (47-31) atau merosot keluar dari enam besar.
Duet antara Butler dan Curry tidak pernah diperkirakan akan cocok sebelumnya, tetapi ternyata mereka menyatu seperti sudah digariskan di langit. Butler membocorkan rahasia kecocokan tersebut dengan singkat, padat, dan jelas. “Sejujurnya, dengan rendah hati, saya cocok untuk bermain di mana pun,” tegasnya. (AP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar Alexey