Dua gempa besar pada 19 September tahun 1985 dan 2017 melanda Meksiko.
22 Sep 2025 08:08 WIB · Internasional
Bagi masyarakat Meksiko, pada 1985, ada satu visual yang sangat melekat dalam ingatan. Hotel Regis di kota Meksiko yang sangat mewah, hari itu, tanggal 19 September, berubah menjadi tumpukan puing. Hotel Regis ambruk setelah gempa bermagnitudo 8,1 melanda kota itu. Gedung yang menjadi pusat kehidupan politik, seni, dan sosial itu hancur dalam sekejap.
Gempa susulan yang tak lama berselang turut menghancurkan ibu kota Meksiko. Data resmi menyebutkan, jumlah korban mencapai 12.000 orang, tetapi jumlah sebenarnya masih belum diketahui. Gempa yang terjadi pada pukul 07.19 waktu setempat, 40 tahun lalu itu, masih selalu terbayang Enrique Linares (62). Saat itu Enrique masih menjadi mahasiswa akuntansi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/8462c2a6-2d72-40a2-8337-a07741b5a83c_jpg.jpg)
Ia mengatakan bahwa saat itu ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia melihat orang-orang berlarian di jalan, para dokter dengan jas putihnya tampak berlumuran debu merah. Saat ia mendongak ke atas dan tidak menemukan bangunan rumah sakit 12 lantai dengan lampu merah khas di atasnya, saat itulah ia mulai gemetar. Ia baru sadar bahwa rumah sakit telah runtuh.
Pencarian korban selamat berlangsung selama berhari-hari. Seminggu kemudian, upaya itu membuahkan hasil. Beberapa bayi yang baru lahir berhasil diselamatkan hidup-hidup dari reruntuhan. Mereka dijuluki ”bayi ajaib”, yang belakangan menginspirasi serial televisi tentang mereka.
Suara kencang jeritan para penjahit yang terkubur di bawah salah satu pabrik tekstil ibu kota yang runtuh masih terkenang oleh Gloria Juandiego, yang kini berusia 65 tahun. Tak lama kemudian, jeritan datang dari orang-orang seperti dirinya yang berada di luar reruntuhan, berteriak mengabarkan bahwa ada yang terjebak di dalam. Para tentara tidak berbuat apa-apa, katanya.
”Para bos mengeluarkan peralatan, bahan baku, kotak penyimpanan mereka, mereka memprioritaskan itu,” ujarnya.
Mereka tidak membiarkan para pekerja merobek pakaian bekas untuk membungkus luka di badan. Makin banyak perempuan yang datang dan meminta pihak berwenang menyelamatkan rekan-rekan mereka. Akhirnya, ratusan penjahit yang biasanya bekerja 12 jam sehari tanpa istirahat meninggal.
Titik inilah yang akhirnya menjadi awal mula berdirinya serikat penjahit di Meksiko. Mereka memperjuangkan kondisi kerja yang layak bagi anggotanya. ”Tuntutan kami terkubur di bawah reruntuhan,” bunyi sebuah spanduk populer saat itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/8814beba-d1b4-43e7-9e8b-7da9eff687a7_jpg.jpg)
Pada 19 September 2017, 28 tahun kemudian, gempa bumi kembali melanda Meksiko. Situasinya masih sama. Ratusan pekerja tekstil terkubur di bawah gedung yang kontruksinya sangat buruk. Satu-satunya perbedaan adalah kali ini, kebanyakan korbannya adalah imigran.
Waktu terjadinya gempa hanya berselang dua jam setelah latihan antisipasi gempa tahunan. Sebuah tradisi yang selalu dilakukan untuk mengingat dan belajar dari kasus gempa di tahun 1985.
Gempa bermagnitudo 7,1 kembali mengguncang Meksiko. Episentrumnya begitu dekat dengan ibu kota sehingga alarm peringatan tidak berbunyi. Hampir 400 orang tewas pada kali ini dan beritanya menyebar dalam sekejap di media sosial.
Kehancuran dan banyaknya korban yang timbul menunjukkan masih ada pelajaran yang belum dipetik sebagai pembelajaran. Kematian dan jumlah korban seharusnya dapat dicegah. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan