Dua Kasus Keracunan Massal di Cianjur, 177 Warga Jadi Korban

Total dua kasus keracunan massal di Kabupaten Cianjur menyebabkan 177 warga menjadi korban.

23 Apr 2025 16:07 WIB · Nusantara

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Dua kasus keracunan massal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menimpa 177 orang sejak Senin hingga hari ini, Rabu (23/4/2025). Korbannya adalah warga peserta hajatan dan siswa yang mengikuti program Makan Bergizi Gratis.

Data Dinas Kesehatan Cianjur menyebutkan, 79 siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur terdampak program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (21/4/2025).

Sementara itu, tercatat 98 warga Desa Kademangan, Kecamatan Mande, menjadi korban saat menghadiri hajatan pada Minggu (20/4/2024). Makanan yang disajikan diduga dalam kondisi basi karena telah dimasak sejak hari Jumat.

Dipicu hal berbeda, semua korban mengalami gejala yang sama, seperti muntah, pusing, hingga diare.

Tampak salah satu dari 78 siswa yang mengalami keracunan di salah satu rumah sakit di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (21/4/2025).  Diduga siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis.

”Pemerintah Kabupaten Cianjur telah menetapkan status kejadian luar biasa atau KLB atas kasus keracunan masal ini. Status ini berlaku selama dua hari terhitung sejak Selasa kemarin,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) di Dinkes Cianjur Frida Laila Yahya, Rabu.

Frida menuturkan, sampel makanan dari dua kasus keracunan ini telah dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jabar di Bandung. Upaya ini demi mengetahui pemicu para korban mengalami keracunan.

Frida menambahkan, kegiatan di dapur yang memproduksi makanan untuk program MBG telah dihentikan sementara oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Upaya ini untuk menanti hasil pemeriksaan sampel makanan.

Salah satu warga yang menjadi korban keracunan makanan di Desa Kademangan, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/4/2025). Total sebanyak 98 warga yang menjadi korban keracunan setelah mengikuti hajatan pernikahan sehari sebelumnya.

”Kami masih mendata jumlah siswa yang diduga mengalami gejala keracunan di sekolah lain. Sebab, dapur itu menjalankan program MBG untuk sembilan sekolah di Cianjur,” tambahnya.

Bupati Cianjur Wahyu Ferdian menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa yang dialami para korban. Ia pun segera menginstruksikan agar fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi jumlah korban yang mengalami keracunan bertambah.

”Saya telah meminta pihak sekolah untuk mendata jumlah siswa yang terdampak. Saya sedih dan kaget anak-anak harus mendapat musibah ini,” kata Wahyu.

Berulang kali

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas dari Dinkes Cianjur dan kepolisian setempat, sudah terjadi sembilan kasus keracunan makanan dari tahun 2019 hingga 2025. Kasus ini mayoritas terjadi di wilayah perkampungan dalam hajatan pernikahan hingga buka puasa bersama.

Total ada 609 warga yang menjadi korban keracunan makanan dalam sembilan peristiwa tersebut. Empat orang di antaranya bahkan meninggal.

Tampak salah satu kasus keracunan makanan yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tanggal 20 Januari 2024. Total korban sebanyak 60 korban keracunan makanan dalam peristiwa ini.

”Masalah keracunan makanan sudah terjadi berulang kali di Cianjur. Hal ini menunjukkan masih terdapat masyarakat yang belum memenuhi standar higienitas dalam menyiapkan makanan yang sehat untuk sebuah hajatan,” ucap Kepala Bidang P2P di Dinkes Jabar Rochady Hendra Setia Wibawa.

Rochady mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi makanan yang sudah berbau dan terasa asam di lidah. Hal ini disebabkan makanan tersebut diduga sudah dalam kondisi basi.

”Jangan melanjutkan mengonsumsi makanan dengan kondisi tersebut. Apabila sudah diare, segeralah berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mengantisipasi dehidrasi karena kekurangan cairan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang