Muhammad Rifqi Fitriadi dan kawan-kawan hanya butuh satu kemenangan lagi untuk bertahan di Grup Dunia II Piala Davis. Dua kemenangan pada hari pertama jadi modal.
07 Feb 2026 17:34 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
JAKARTA, KOMPAS — Kemenangan pada dua laga awal cukup krusial bagi perjalanan tim Indonesia di playoff Grup Dunia II pada kejuaraan tenis beregu putra Piala Davis 2026. Selain tekanan menjadi berkurang pada hari kedua, kepercayaan diri dan motivasi tim pun bertambah untuk bisa membalaskan kekalahan dua tahun silam sekaligus mempertahankan posisi di Grup Dunia II.
Muhammad Rifqi Fitriadi membuka kemenangan Indonesia dengan mengalahkan petenis Togo debutan Piala Davis, Noah Koffi, 6-1, 6-1, di Tennis Center Court Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (7/2/2026). Setelahnya, masih di sektor tunggal putra, Justin Barki menaklukkan Kwami Stanislas Dussey, 6-0, 6-3. Dengan kemenangan ini, Indonesia unggul 2-0 atas Togo.
Piala Davis mencari tim yang mampu memenangi tiga pertandingan. Artinya, Indonesia membutuhkan satu kemenangan lagi pada laga hari kedua yang diawali partai ganda, Minggu (8/2/2026), untuk bertahan di Grup Dunia II.
”Saya cukup menikmati pertandingan karena persiapannya sudah bagus, cukup matang,” kata Rifqi yang tanpa kesulitan menaklukkan Noah Koffi, pemain yang baru berusia 17 tahun.
Meski belum pernah bertemu sebelumnya, Rifqi memang punya pengalaman yang lebih banyak daripada Koffi. Apalagi, di Piala Davis yang menjadi lambang supremasi tenis beregu putra dunia ini, Rifqi sudah debut sejak 2019.
Pengalaman itu pula yang ditunjukkan Rifqi ketika Koffi memaksanya bermain dengan reli panjang pada gim ketujuh. Rifqi mampu membalikkan momentum dengan memanfaatkan kesalahan dari Koffi dan kembali mendominasi permainan melalui penempatan pengembalian bola yang cerdik.
Menurut pemain yang kerap disapa Tole ini, dia menikmati pertandingan karena bisa benar-benar menyiapkan diri untuk Piala Davis. Selepas SEA Games Thailand 2025, Tole mengikuti turnamen ITF World Tennis Tour M15 Hyderabad, India, selama dua minggu.
”Walau hasilnya kurang memuaskan (terhenti pada babak kedua), setidaknya bisa uji tanding dengan pemain luar negeri dan bisa latihan bersama,” kata Rifqi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/df204a764dff2087b0984ed40db747c9-DSC08354.JPG)
Selain Rifqi dan Justin, Indonesia diperkuat Christopher Rungkat, Anthony Susanto, dan Lucky Candra Kurniawan. Mereka merupakan bagian dari skuad yang meraih medali emas beregu putra SEA Games Thailand 2025. Kata Rifqi, kembali berjuang bersama skuad emas SEA Games menambah kepercayaan dirinya di Piala Davis.
Tak hanya itu, pemain berusia 27 tahun ini termotivasi membalas kekalahan menyakitkan dari Togo pada 2024 ketika Indonesia terdegradasi ke Grup III Zona Asia Oseania dari Grup Dunia II. Momen pahit itu terjadi karena kekalahan 2-3 dari tuan rumah Togo pada babak playoff Grup Dunia II di Stade Omnisport de Lome, Lome.
Sejak 2020, format Piala Davis diubah menjadi persaingan antarzona dengan grup elite atau dunia terdiri atas Grup I dan II serta grup regional terdiri dari Grup III, IV, dan V. Pada 2023, Indonesia bermain di Grup II Dunia, tetapi kemudian terdegradasi sehingga harus ikut playoff Grup II Dunia 2024.
Pada playoff Grup Dunia II 2024 itu, Indonesia hanya diperkuat tiga pemain, yaitu Rifqi, Anthony Susanto, dan petenis debutan Claudio Renardi Lumanau. Di dalam skuad yang disebut Rifqi seadanya itu, hanya dia yang aktif bertanding di level profesional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/a6e88eb9e46a3f4d4bd93d84f11dca70-DSC08326.JPG)
Dua kemenangan dari empat pertandingan tunggal dan satu ganda pun disumbangkan Rifqi. Setelah pemain asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini membuka kemenangan pada partai pertama, Togo menyamakan skor pada laga kedua dengan kemenangan atas Anthony. Selepas skor berimbang 1-1 pada hari pertama itu, Indonesia tertinggal 1-2 karena kekalahan Rifqi/Anthony dari Komlavi Loglo/Thomas Setodji.
Rifqi lalu berhasil menyamakan skor menjadi 2-2 berkat kemenangan atas Setodji. Namun, pada partai penentu, Anthony kalah dari Loglo, pemain yang saat itu berusia 39 tahun.
”Waktu kami kalah dari Togo, itu benar-benar sedih dan kecewa karena bukan cuma kalah, tetapi pertama kalinya kami turun ke Grup III sepanjang sejarah. Jadi, cambukan sekali buat saya untuk bisa mengembalikan tim ke Grup II dan berharap bisa kembali bertemu Togo buat membalaskan kekalahan,” ujar Rifqi.
Pintu untuk keinginan Rifqi untuk mengembalikan tim ke Grup II perlahan terbuka setelah mengantarkan tim mendapatkan tiket promosi. Indonesia promosi ke playoff Grup II setelah menempati peringkat kedua Grup III Asia/Oseania 2025.
Rifqi pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk benar-benar bisa kembali ke Grup II dan menjadi bagian dari 26 negara peserta. Apalagi, dengan hasil laga hari pertama, Indonesia kini sudah punya modal kemenangan 2-0 atas Togo. Tekanan pada pertandingan hari kedua pun menjadi berkurang.
Setelah dua laga pada hari pertama, pertandingan dilanjutkan dari kategori ganda. Indonesia yang diwakili pasangan Christopher Rungkat/Justin Barki melawan pasangan Kwami Stanislas Dussey/Kadanga Kili. Setelah itu terdapat dua jadwal pertandingan tunggal lainnya.
”Tentu kemenangan 2-0 itu membantu meringankan beban untuk besok. Karena secara mental tentu berbeda kalau menang 2-0 dibandingkan skor imbang 1-1. Jadi, kami mengharapkan besok juga bisa tampil maksimal, semoga bisa mengunci kemenangan 3-0,” ujar Justin.
Kapten tak bermain tim Indonesia, Sebastian Da Costa, juga berharap Indonesia bisa tampil maksimal pada partai ganda sehingga bisa langsung menyegel kemenangan 3-0. Indonesia tetap akan menurunkan komposisi Christo/Justin pada sektor ganda, lalu akan mengubah komposisi tunggal jika sudah bisa mengamankan kemenangan 3-0. Sebelumnya, Rifqi direncanakan bertemu Dussey, sedangkan Justin melawan Koffi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati