Selain dua jenazah, tim SAR gabungan juga menemukan bagi tubuh di dua lokasi pencarian korban longsor Majenang, Cilacap, Minggu (16/11/2025).
16 Nov 2025 18:49 WIB · Lingkungan
DOKUMEN KANTOR SAR CILACAP
PADANG, KOMPAS — Tim SAR gabungan kembali menemukan dua jenazah dan dua bagian tubuh korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Korban tewas dalam bencana ini bertambah menjadi 13 orang dan 10 orang lainnya belum ditemukan.
Kedua korban yang baru ditemukan itu adalah Kasrinah (47) dan Diah Ramadhani di Dusun Cibuyut, Minggu (16/11/2025) siang. Kasrinah ditemukan di worksite A-2 pukul 12.03, sedangkan Diah ditemukan di worksite A-1 pukul 14.58.
Selain dua jenazah tersebut, tim SAR gabungan juga menemukan bagian tubuh di dua titik pencarian, yaitu di worksite A-1, Dusun Cibuyut, dan di worksite B-1, Dusun Tarukahan.
”Dari 12 orang yang dicari Minggu ini, ditemukan dua jenazah. Berarti ada 10 korban lagi yang akan dicari pada hari kelima operasi SAR nanti,” kata Kepala Kantor SAR Cilacap Muhamad Abdullah, Minggu (16/11/2025) sore.
Dengan tambahan dua jenazah itu, korban meninggal dalam bencana longsor Majenang, Kamis (13/11/2025) malam, mencapai 13 orang. Secara keseluruhan, ada 17 keluarga dengan 46 jiwa terdampak longsor ini, yaitu 13 jiwa meninggal, 10 jiwa hilang, dan 23 jiwa selamat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/32e582c231bf8693995486cf2d303382-WhatsApp_Image_2025_11_16_at_12.45.19.jpeg)
Abdullah menambahkan, pada pencarian hari kelima, Senin (17/11/2025), tim SAR gabungan akan melakukan pencarian di empat lokasi. Worksite A-1 satu orang, A-2 tiga orang, B-1 tiga orang, dan B-2 tiga orang.
Sebelumnya, Abdullah menyebutkan, operasi pencarian korban longsor di Cilacap pada hari keempat melibatkan 1.001 orang, baik yang bertugas di posko maupun di lokasi bencana longsor. Pencarian menggunakan 21 ekskavator, 17 alat bantu kompresor, dan 9 anjing pelacak (K-9).
Cuaca tidak menentu jadi kendala tim SAR gabungan dalam operasi pencarian korban hilang. BMKG memprakirakan, dalam sepekan ke depan, wilayah Cilacap dan sekitarnya masih akan dilanda hujan deras.
Sebagai antisipasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, OMC dimulai BNPB pada Minggu ini.
Bergas menyebutkan, OMC dilakukan untuk mencegah turunnya hujan di lokasi bencana. Tujuannya agar waktu pencarian korban oleh tim SAR gabungan lebih optimal sekaligus mencegah longsor susulan.
”Kemarin-kemarin, sore hari sudah hujan. Sore ini, belum ada tanda-tanda hujan, langit berawan tipis,” kata Bergas, ketika dihubungi dari Padang, Minggu sore.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/834a71a79fd7c6daec232d8ec8441ce3-WhatsApp_Image_2025_11_15_at_20.43.18.jpeg)
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada Dwikorita Karnawati, dalam rapat koordinasi di Cilacap, Minggu siang, mengatakan, pihaknya bersama Basarnas menemukan retakan-retakan di bagian atas lokasi longsor. Longsor susulan masih berpotensi terjadi mengingat prakiraan hujan lebat di Cilacap dan sekitarnya dalam sepekan ke depan.
”Wilayah ini mesti bebas dari aktivitas keluar-masuk masyarakat. Hanya orang-orang yang benar-benar terlatih, Basarnas, TNI, Polri, itu yang bisa masuk,” kata Dwikorita yang juga mantan Kepala BMKG, dalam siaran langsung akun Instagram @bpbdcilacap.
BMKG bersama Basarnas, kata Dwikorita, juga menemukan genangan air yang terbendung di bagian atas lokasi longsor. Basarnas sudah berupaya menyudet agar bendungan itu tidak memicu banjir.
”Namun, lebih aman lagi, itu dibuat tidak terbendung karena bisa menjadi bencana yang lebih dahsyat dibanding kemarin,” ujarnya.
Dwikorita melanjutkan, wilayah yang rawan longsor tidak hanya Cilacap, tetapi daerah lain yang berada di lereng-lereng gunung. Daerah-daerah mulai dari Cilacap, Brebes, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, hingga Karanganyar harus siaga.
”Indikator awal adalah retakan tapal kuda. Kalau ditemukan retakan tapal kuda di tebing, itu sudah harus ditinggalkan, jangan ada warga di situ saat turun hujan,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/0a281b91-6e6b-4a20-ac70-463c2f586611_jpg.jpg)
Bergas menambahkan, sejak longsor, warga sekitar lokasi mengungsi sementara, terutama pada malam hari. Ada dua titik pengungsian, yaitu di balai desa (60-an orang) dan di MTs (100-an orang).
Sebelumnya, longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025), sekitar pukul 20.00. Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, BPBD Jawa Tengah, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut.
Selain menimbulkan korban manusia, longsor juga menyebabkan kerugian material. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor dan 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.
Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor tidak hanya menimbun permukiman, tetapi juga menyebabkan penurunan tanah sedalam lebih kurang 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase