Kondisi ekonomi lesu dan daya beli rendah membuat masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uangnya. Insentif diskon dari pemerintah dinilai kurang berdampak.
16 Mar 2025 18:38 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Dua pekan menjelang Idul Fitri, tingkat pemesanan hotel dan paket perjalanan dalam negeri kurang bergeliat. Alih-alih animo masyarakat meningkat, trennya justru melambat dibandingkan Lebaran tahun lalu. Momentum Lebaran kali ini dikhawatirkan tidak optimal di tengah lesunya kondisi ekonomi.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menilai, tingkat pemesanan hotel pada momen Lebaran kali ini justru lebih lambat dibandingkan tahun lalu. Padahal, saat ini tepat dua minggu sebelum perayaan Lebaran.
”Okupansi hotel (hari ini) masih jelek, rata-rata sekitar 20 persen. Untuk Lebaran, kami belum tahu, masih belum kelihatan. Intinya, untuk daerah tujuan pemudik dihitung H-14, memang lebih lambat dibanding tahun lalu,” tutur Hariyadi saat dihubungi di Jakarta, Minggu (16/3/2025).
Tahun lalu, dari 100 kamar yang tersedia, pihak hotel sudah mengantongi kepastian reservasi 50 kamar atau setengah kapasitas pada H-14 Lebaran. Saat ini, ada penurunan tren tingkat reservasi sekitar 30 persen.
”Memang harapannya nanti mendekati hari-H, sekitar H-5 atau H-3, itu (tren) naik, hotel bisa picking up,” kata Hariyadi, yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/01/bacac49d-02ef-48cf-9a01-3649cb8eef2d_jpg.jpg)
Ketika ditanya alasan di balik perlambatan tren reservasi itu, Hariyadi belum dapat memastikan. Meski demikian, ia meyakini tren semasa musim puncak (peak season) akan tetap lebih tinggi dibandingkan masa normal.
Ia pun memprediksi tingkat keterisian hotel akan berkisar 80-100 persen, seperti Lebaran tahun lalu. Namun, angkanya bergantung pada hotel favorit dan lokasinya. ”Rata-rata 80-85 persen (okupansi) dapat, sama dengan tahun lalu,” ucapnya.
Tingkat keterisian dipengaruhi beragam variabel. Dua di antaranya, persebaran hotel yang semakin merata dan pembangunan infrastruktur.
Hotel baru yang tersebar lebih luas memberi banyak opsi menginap bagi wisatawan. Di Yogyakarta, misalnya, wisatawan memilih menginap di Gunungkidul dan Boyolali karena padatnya Sleman dan daerah kota.
Selain itu, jalan Tol Surakarta-Yogyakarta menurut rencana akan beroperasi pada saat Lebaran mendatang. Hal itu turut menyumbang okupansi hotel bagi kedua daerah itu serta daerah-daerah yang dilewati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/14/f2b0d4f2-f5fa-47b4-bb94-969c750e44e0_jpg.jpg)
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah, tren perjalanan saat Lebaran mendatang memang menyusut tipis. Ia menduga hal itu karena kondisi daya beli masyarakat yang masih lesu.
Tahun ini tidak terlalu banyak permintaan yang masuk meski ia mengakui agak sulit membedakan antara pergerakan orang untuk mudik dan berwisata. ”Kalau kami ambil secara total keseluruhan, target pemerintah juga tahun ini tidak terlalu optimistis. Namun, mari kita lihat pada hari-H nanti,” ujar Budijanto.
Tren wisata yang masih landai menjelang Lebaran juga ditengarai akibat kebijakan diskon tiket pesawat domestik yang ”terlambat” diumumkan pemerintah.
Di satu sisi, ikhtiar pemerintah memberi diskon tiket pesawat domestik mampu sedikit mengerek tingkat pemesanan tiket, setidaknya naik 5-10 persen dibandingkan sebelum pengumuman.
Namun, kendati penurunan harga tiket pesawat sedikit mendongkrak animo masyarakat, efeknya tidak terlalu besar.
”Namanya peak season, kadang-kadang jumlah ketersediaan tiket pesawat dengan permintaan tidak sama. Jadi, kami berharap saat diumumkan diskon tiket pesawat, ketersediaan kursi masih ada. Takutnya sudah tinggal sedikit, atau malah habis. Jadi, tidak terlalu berefek,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/16/d1b94d4efa4efdefc984e35e47e855c2-20250313_192420.jpg)
Serupa, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan, ia sedikit kecewa karena diskon tiket domestik Lebaran baru diumumkan sekitar sebulan sebelum Lebaran.
Padahal, jika diumumkan sejak jauh hari atau pemerintah setidaknya mendesak maskapai agar membuka promosi sejak awal pengumuman diskon, para agen perjalanan masih bisa mendorong masyarakat untuk berwisata di dalam negeri.
Menurut Pauline, pengumuman diskon tiket pesawat idealnya dilakukan tujuh bulan sebelum hari-H, sedangkan Budijanto menilai setidaknya dua bulan sebelum hari-H.
”Kami jualan (tiket pesawat dan paket perjalanan) sudah dari Agustus-September tahun lalu (2024). Kalau (harga tiket) diturunkan dari tahun lalu, itu akan lebih baik lagi. Kami, kan, maunya supaya mengalihkan traveler yang ke luar negeri menjadi ke dalam negeri,” ujar Pauline.
Ia menjelaskan, masyarakat umumnya sudah merencanakan perjalanan Lebaran dari tahun sebelumnya pada Agustus-September. Sementara pada Februari, mereka biasanya sudah membeli tiket untuk libur sekolah pada Juni atau bahkan untuk momen Natal dan Tahun Baru.
”Jadi, sayang saja, karena sebenarnya kami bisa dapat lebih banyak traveler domestik pada musim libur Lebaran. Customer Indonesia itu sudah diedukasi beli (tiket) jauh-jauh hari supaya harga lebih murah. Kalau dekat-dekat, malah mahal,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/14/15241bd1-5739-4a8c-af15-61d3b4712d84_png.png)
Di sisi lain, semakin mendekati masa Lebaran, pelaku usaha pun tidak bisa melakukan banyak intervensi pada komponen harga, seperti memberikan promosi dan diskon saat musim puncak. Upaya itu biasanya hanya memungkinkan dilakukan pada masa normal (low season).
Sejauh ini, hal yang dapat dilakukan sebatas menambah layanan, seperti menyiapkan lebih banyak varian makanan serta menyediakan kendaraan khusus untuk mengantar pelanggan ke pusat perbelanjaan.
”Harga (kamar) hotel dibikin dinamis semua. Misalnya, kalau sampai H-3 kamar belum penuh, harga enggak naik. Namun, kalau okupansi meningkat mendekati hari-H, otomatis harga lebih mahal,” ujar Hariyadi.
Adapun daerah tujuan utama para pelaku perjalanan pada libur panjang mendatang masih serupa. Tujuan domestik antara lain Yogyakarta, Surakarta dan Semarang di Jawa Tengah, Bandung dan Cirebon di Jawa Barat, serta Malang di Jawa Timur. Bali menjadi tujuan yang dikunjungi sesudah Lebaran karena bersifat santai (leisure).
Sementara pergerakan tertinggi jelang hingga seusai Lebaran adalah ibadah umrah ke Mekkah, Arab Saudi. Rata-rata tiket pesawat untuk Timur Tengah penuh, bahkan sampai setelah Idul Fitri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/24/59e71616-b62b-4547-a89b-6ef0d80ae52a_jpg.jpg)
Selain Timur Tengah, negara lain yang masih menjadi favorit adalah Jepang karena bertepatan dengan musim mekar bunga sakura pada akhir Maret-awal April. Destinasi lain adalah Hong Kong, Eropa, dan China.
Pada 5 April 2025, masyarakat etnis Tionghoa memperingati hari Ziarah Kubur atau Ceng Beng. Alhasil, banyak pula warga keturunan Tionghoa yang juga pulang ke kampung halaman masing-masing, seperti Medan (Sumatera Utara) dan Pontianak (Kalimantan Barat).
Pauline merekomendasikan kepada masyarakat untuk jeli merencanakan perjalanan. Harga tiket yang terjangkau bisa didapat jika dibeli sejak jauh hari. Kalender libur juga perlu diperhatikan, apalagi pemerintah cenderung menambahkan libur mendekati hari-H.
”Booking saja dulu tiket, enggak masalah. Ada tiket-tiket pesawat atau paket wisata yang di-cover asuransi sehingga jika terjadi pembatalan perjalanan masih bisa terlindungi asuransi,” ujar Pauline.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/b1310106-a01b-4bae-8cdf-f0220b41bd1e_png.png)
Lesunya animo masyarakat jelang Lebaran juga berkaitan dengan lesunya kondisi perekonomian beberapa waktu terakhir.
Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai, penurunan aktivitas ekonomi di sektor tertentu jelang Lebaran tahun ini disebabkan oleh daya beli yang menurun. Hal itu beriringan dengan optimisme ekonomi masyarakat yang memudar.
”Tren menurunnya daya beli sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu dan terus berlanjut hingga kini, bahkan data Bank Indonesia menunjukkan belanja retail/eceran turun 4,75 persen (year on year) pada Januari dan diperkirakan akan terjadi lagi Februari,” tutur Wijayanto.
Kondisi ini diperburuk dengan kebijakan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang drastis pada awal tahun. ”Optimisme warga juga memudar karena tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diperkirakan akan makin melejit pada bulan-bulan mendatang,” ujarnya.
Tunjangan hari raya (THR) pun tidak begitu berdampak pada perayaan Lebaran. Sebab, di tengah ketidakpastian ekonomi, masyarakat cenderung membelanjakan uangnya secara lebih hati-hati. Apalagi dengan fenomena ”makan tabungan”, simpanan warga umumnya juga sudah menipis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/13/0c8517ad-5cff-4125-9ff4-42ee080220c8_jpg.jpg)
Meski demikian, pakar pariwisata meyakini, geliat Lebaran akan tetap dirasakan. Apalagi, pemerintah telah melakukan beragam intervensi, seperti menetapkan fleksibilitas bekerja (work from anywhere/WFA) serta memberikan diskon tarif tiket pesawat dan diskon tarif tol.
Pendiri Indonesia Tourism Strategies, Taufan Rahmadi, mengatakan, dengan beragam intervensi itu, wisatawan dapat bekerja sekaligus menikmati liburan di dalam negeri. Okupansi hotel dan penginapan pun diperkirakan meningkat, begitu pula jasa sewa mobil dan ojek wisata.
Isu yang perlu diantisipasi adalah wisata berlebih atau overtourism yang dapat mengurangi kenyamanan wisatawan. Kesiapan infrastruktur, seperti transportasi, akomodasi, dan fasilitas umum, juga perlu diperhatikan.
”Jika momentum ini dikelola baik, bukan tidak mungkin Lebaran tahun ini akan menjadi titik balik bagi transformasi industri pariwisata nasional ke level yang lebih tinggi,” ucap Taufan.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti