Dua Perspektif Liverpool dari "Menara Gading"

Di balik kesempurnaan Liverpool di lima pekan awal Liga Inggris, ada banyak hal belum berjalan sesuai harapan Slot. Mereka masih beradaptasi dengan perubahan sistem.

22 Sep 2025 16:58 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Saat 19 klub lainnya bersaing ketat pada awal musim Liga Inggris, Liverpool seolah hanya mengamati dari ”menara gading”. Mohamed Salah dan rekan-rekan sudah lupa bagaimana rasanya kehilangan poin. Walaupun masih jauh dari potensi penampilan terbaik, “Si Merah” selalu mampu menang dalam lima pertandingan awal.

Ada dua perspektif untuk menilai Liverpool setelah lima pekan berlalu, yaitu dengan idiom gelas setengah kosong atau setengah penuh. Kemenangan sulit nan tipis di setiap laga mencerminkan masalah yang bisa menjadi ancaman pada masa depan. Sebaliknya, itu memperlihatkan potensi tim untuk tampil lebih baik seiring waktu.

Jika tidak banyak perubahan dalam tim itu setelah menjadi juara liga pada musim lalu, situasi saat ini mungkin terbilang kurang baik. Namun, tim asuhan Arne Slot itu mengubah banyak hal dengan kedatangan segudang pemain baru. Pencapaian sapu bersih kemenangan dengan skuad yang masih dalam proses adaptasi itu bisa dilihat sebagai hal positif.

Perubahan paling vital dari Liverpool adalah struktur pertahanan tanpa penguasaan bola. Musim lalu, mereka menggunakan formasi 4-2-4. Komposisi tim tanpa penyerang murni membuat pertahanan mereka lebih fleksibel. Pemain seperti Dominik Szoboszlai bisa memimpin tekanan, lalu mundur ke lini tengah saat dibutuhkan.

Slot tidak bisa menggunakan struktur serupa pada musim ini. Dia harus memfasilitasi pemain bintang baru di lini serang, antara lain, Alexander Isak dan Florian Wirtz. Struktur awal Liverpool terganggu karena Isak dan Wirtz bukan pemain spesialis bertahan. Kedua pemain itu tidak berkapasitas mundur ke lini tengah seperti Szoboszlai.

Struktur pertahan Liverpool

Pada saat bersamaan, Slot ingin memaksimalkan potensi dan mengurangi beban penyerang sayap berusia 33 tahun, Mohamed Salah. Liverpool pun menggunakan struktur formasi 4-3-3 dengan Isak, Writz, dan Salah, yang memimpin tekanan. Skema tersebut digunakan saat Liverpool berhadapan dengan Atletico Madrid pada tengah pekan lalu.

Hasilnya, tiga pemain di lini tengah menanggung beban lebih untuk melindungi para bek. Mereka salah satunya adalah penyerang sayap Cody Gakpo yang terpaksa mundur, sejajar dengan gelandang bertahan Ryan Gravenberch. Hal itulah yang membuat lini tengah “Si Merah” lebih mudah dilewati tim lawan sejak awal musim ini.

Quote

Kami juga pasti harus lebih baik dalam pekan-pekan berikutnya dan beberapa bulan ke depan. - Arne Slot -

Liverpool sudah kemasukan 9 gol dari 7 laga di seluruh kompetisi. Dalam empat pertandingan di antaranya, mereka kecolongan dua gol saat sudah unggul 2-0 lebih dulu. Beruntung, “Si Merah” selalu punya sosok penyelamat di pengujung laga. Adapun gol kemenangan dalam empat laga awal Liverpool di liga dihasilkan setelah menit ke-80.

Kendala Wirtz

Slot terpaksa sedikit mengorbankan sisi pertahanan demi memaksimalkan potensi di lini serang. Masalahnya, serangan Liverpool belum menunjukkan performa yang lebih baik ketimbang musim lalu. Padahal, mereka sudah mendatangkan Wirtz dan Isak yang berhasil memecahkan rekor transfer Liga Inggris.

Liverpool memang menjadi tim tersubur sejauh ini dengan 11 gol. Namun, ancaman serangan mereka tidaklah istimewa jika dibandingkan dengan musim lalu. Jika dilihat dari statistik, mereka bisa menghasilkan gol sebanyak itu karena efisiensi tinggi. Jadi, bukan karena peluang yang sangat banyak, seperti tercermin dalam statistik The Analyst.

Manajer Liverpool Arne Slot memberikan instruksi ke pemainnya aaat melawan Atletico Madrid pada laga Liga Champions Eropa di Stadion Anfield, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB. Liverpool menang, 3-2.

Nilai peluang Liverpool musim ini di liga hanya 6,98 xG (expected goals). Catatan itu berada di peringkat ketujuh terbanyak, masih di bawah tim medioker Everton (7,11 xG). Artinya, mereka mampu mencetak sekitar empat gol lebih banyak dari perkiraan. Tidak ada tim yang mencatat efisiensi lebih tinggi dari mereka.

Sebagai pembanding, Liverpool menghasilkan 83,5 xG dan mencetak 86 gol pada musim lalu. Dua aspek itu mengungguli jauh catatan seluruh tim di liga. Rerata nilai peluang mereka mencapai 2,19 xG per laga, hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan musim ini (1,39 xG).

Tanda tanya terbesar tertuju kepada Wirtz yang belum berkontribusi gol dan asis selama 367 menit penampilan di liga. Dia masih kesulitan beradaptasi memainkan peran gelandang serang dalam formasi 4-2-3-1. Wirtz sering kali memperlambat permainan cepat tim atau justru kehilangan bola akibat kalah duel.

Wirtz mengalami kesulitan, bukan hanya karena pindah dari Jerman ke Inggris yang terkenal dengan permainan cepat dan keras. Dia juga masih beradaptasi dengan peran baru. Adapun dalam kepemimpinan Pelatih Xabi Alonso di Leverkusen, Wirtz dimainkan sebagai gelandang serang sisi kiri dalam formasi 3-4-2-1.

Data Opta memperlihatkan perbandingan sentuhan Wirtz saat di Liverpool dan Leverkusen. Dia lebih banyak menyerang dari area sayap atau halfspace kiri di Leverkusen. Berbeda dengan di Liverpool, sentuhan Wirtz lebih sering berada di area tengah ataupun halfspace kanan.

Wirtz

Masalah itu bisa diselesaikan dengan dua kemungkinan, adaptasi Wirtz atau perubahan Slot. Kebetulan, sang juru taktik sepertinya sudah bisa melihat masalah tersebut. Dalam laga terakhir Liverpool, yaitu versus Everton, Wirtz dimasukkan dari bangku cadangan untuk mengisi posisi sayap kiri. Perannya lebih mirip seperti saat di Leverkusen.

Selain Wirtz, potensi Liverpool juga berlum terungkap sepenuhnya dari sosok Isak. Dia baru bermain selama 81 menit untuk Liverpool dalam dua laga. Saat sudah bugar dan lebih terbiasa dengan sistem tim, pencetak 44 gol dalam dua musim terakhir di liga tersebut akan menjadi senjata mematikan untuk “Si Merah”.

Slot mengakui, Liverpool masih jauh dari potensi terbaik. Namun, dengan kualitas pemain yang ada, hanya langit batasan mereka. “Jadi, kami pastinya bisa lebih baik dari ini. Kami juga pasti harus lebih baik dalam pekan-pekan berikutnya dan beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Bayangkan, jika Liverpool bisa menyapu bersih lima kemenangan dalam mesin tim yang belum berjalan sempurna, lantas seperti apa dominasi mereka saat dalam versi terbaik? Teka-teki itu akan terjawab seiring musim berjalan. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase