Belum hilang duka ”galodo” Gunung Marapi, rumah Ratnawati (32) kembali dihantam banjir bandang. Kini sang suami tewas, meninggalkannya dan empat putri.
30 Nov 2025 16:06 WIB · Nasional
KOMPAS/YOLA SASTRA
Di hadapan keempat putrinya, Ratnawati (32) berupaya tegar menghadapi duka di pengungsian di Kantor Lurah Silaing Bawah. Ia tak ingin anak-anak larut dalam kesedihan. Jenazah sang suami, Reki Saputra (38), baru dimakamkan pada Sabtu (29/11/2025) siang.
Keluarga Ratna tak henti dirundung duka. Saat banjir bandang (galodo) dari Gunung Marapi pada 11 Mei 2024, rumahnya di sekitar jembatan kembar hanyut dihantam air bah. Kini, ia kembali kehilangan rumah sekaligus suami karena galodo di jembatan kembar di perbatasan Padang Panjang dan Tanah Datar itu, Kamis (27/11/2025) siang.
”Musibah datang kembali dengan cerita berbeda. Dulu hanya rumah, kini suami juga. Ibaratnya, tonggaknya benar yang sudah rebah,” kata Ratnawati dengan suara bergetar menahan tangis, Minggu (30/11/2025).
Reki tewas tersapu banjir bandang di rumahnya di sekitar jembatan kembar jalan nasional Padang-Bukittinggi di Kelurahan Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, Kamis siang. Jenazahnya ditemukan hanyut di aliran Sungai Batang Anai di sekitar pemandian Megamendung di Lembah Anai, Nagari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar.
Jembatan kembar di gapura perbatasan Padang Panjang merupakan lokasi pertemuan dua sungai yang menjadi Sungai Batang Anai. Sungai sebelah kanan dari arah Padang Panjang berhulu di Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Sungai sebelah kiri, yang lebih kecil, berhulu dari arah Bukit Tui.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/6c06e8acfaf283ccae65cae44140787d-DSC04380.JPG)
Ratna bercerita, saat galodo Marapi, rumah mereka yang masuk wilayah administrasi Nagari Singgalang, Tanah Datar, hanyut akibat air bah dari sungai bagian kanan. Keluarganya nyaris hanyut. Trauma masih membekas di ingatan anak-anaknya.
Seusai bencana, Ratna dan keluarga mendapat bantuan rumah hunian sementara (huntara). Karena tidak punya tanah, huntara dibangun di tanah rumah kakaknya di sekitar sungai bagian kiri, wilayah Kelurahan Silaing Bawah, sembari menunggu bantuan hunian tetap (huntap) selesai.
Sungai kecil itu dianggap tidak berbahaya karena luput dari galodo Marapi. Sementara itu, sungai bagian kanan, bekas galodo Marapi lebih dikhawatirkan sehingga dipasangi perangkat sirene early warning system (EWS).
Hujan lebat dan angin kencang sekitar sepekan sejak 21 November lalu menyebabkan debit air sungai bagian kanan naik pada Rabu (26/11/2025). Kata Ratna, sirene EWS berulang kali berbunyi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/884de25d4d374514d6f96f3ce343d081-DSC04719.JPG)
Atas permintaan suami, Ratna, empat putrinya, ibu, dan kakak sulungnya mengungsi ke tempat saudara di pusat Kota Padang Panjang, Rabu malam. Suaminya tinggal untuk menjaga rumah sembari memantau situasi debit sungai dengan para pemuda.
Meski sungai bagian kiri dianggap aman, suami Ratna tetap khawatir karena sungai ini bagian dari aliran galodo Bukit Tui tahun 1987. ”Suami bilang, lebih baik jauh-jauh dari sini. Mana tahu air tinggi, habis kita kembali. Suami akan mengungsi dengan motor jika debit air makin tinggi,” ujar Ratna.
Rencana Reki mengungsi Rabu malam tidak jadi karena akses antara jembatan kembar ke pusat kota tertutup longsor. Sang suami akhirnya tidur di rumah. Kamis sekitar pukul 08.10, ia berkomunikasi dengan suami dan menyatakan kondisi aman.
Sang suami berencana menyusul ke pusat kota, tetapi kembali tidak jadi karena mesti menjemput kakak sulung Ratna, Maryulis (52), yang mobilnya mogok di tengah jalan. Maryulis turun lebih dulu ke jembatan kembar untuk memasak. Setiba di jembatan kembar, Reki istirahat di rumah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/84d96245-13f3-429b-a210-2b16afc90aa7.jpg)
Sekitar pukul 10.00, sinyal komunikasi hilang akibat listrik padam. Ratna hilang kontak dengan suami. Sekitar pukul 12.00, ia mendapat telepon dari keponakannya, anak Maryulis, bahwa permukiman di jembatan kembar habis disapu galodo dari sungai bagian kiri.
”Terbayang oleh saya, suami pulang sama kakak. Dilihat dari video, seperti tidak ada lagi kampung di sana,” ujar Ratna yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga.
Beberapa waktu seusai kejadian, jenazah Reki ditemukan hanyut di bagian hilir. Begitu pula dengan Maryulis. Karena akses jalan putus, kedua jenazah dibawa ke RS Bhayangkara di Kota Padang. Jenazah Reki dan Maryulis baru dapat dipulangkan pada Jumat (28/11/2025) malam dan dimakamkan pada Sabtu siang.
Selain Reki dan Maryulis, posko induk penanggulangan bencana Padang Panjang melaporkan, hingga Minggu siang, ada 19 korban tewas lainnya dalam insiden banjir bandang di jembatan kembar. Selain itu, puluhan korban lainnya yang belum ditemukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/8053eaa7-8dae-43ef-a315-876125b39d63.jpg)
Musibah itu menjadi pukulan berat bagi Ratna. Kini, perempuan tamatan SMA ini mesti membesarkan keempat putrinya, yaitu Kiara (12) kelas VI SD, Cahaya (10) kelas IV SD, Aishwa (6) sekolah TK, dan Arsila (3), seorang diri.
Sejak kejadian, Ratna mengurung diri di rumah saudaranya menanggung kesedihan. Barulah saat jenazah suaminya pulang dan dimakamkan, ia berangsur menerima kenyataan. Sanggup tak sanggup, katanya, takdir harus dijalani.
”Akhir-akhir ini, suami pernah berpesan soal bencana yang kami hadapi. Kita harus ikhlas, sabar, dan bersyukur. Itu yang jadi penguat saya saat ini,” kata Ratna, yang merupakan anak kesembilan dari 10 bersaudara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/4a3cf22340a4230b8bfa28c02ad06e03-DSC04739_1.JPG)
Seusai suaminya dimakamkan Sabtu siang, Ratna melapor ke lurah agar diizinkan mengungsi di posko pengungsian di Kantor Kelurahan Silaing Bawah. Meski tinggal di wilayah Padang Panjang, Ratna masih ber-KTP Tanah Datar.
”Kami mengungsi di sini supaya anak-anak tidak larut dalam kesedihan. Di sini, anak-anak saya bisa bermain dengan kawan-kawannya yang bernasib sama,” ujarnya.
Sekretaris Kelurahan Silaing Bawah Nurmiati Amin mengatakan, meski bukan KTP Padang Panjang, Ratna dan keempat anaknya tetap diterima di posko pengungsian khusus warga RT 20 itu. ”Kami tidak melihat KTP, kemanusiaan yang harus diutamakan,” katanya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul