Dari perbedaan performa drastis di tengah dan akhir pekan, Arsenal memperlihatkan prioritas pada sisa musim ini. Liverpool bisa lebih lega menatap gelar juara liga.
13 Apr 2025 04:15 WIB · Olahraga
LONDON, MINGGU — Hasil laga dalam sepekan terakhir memperlihatkan, Arsenal seperti sedang hidup dalam dua dunia berbeda. Penampilan mereka sangat fokus dan berenergi ketika tengah pekan di Liga Champions, tetapi selalu “datar” dan mudah “goyang” pada akhir pekan di Liga Inggris.
Reaksi penonton di Stadion Emirates cukup untuk mencerminkan perbedaan drastis dari hasil dan performa. Tengah pekan kemarin, saat Arsenal menang atas Real Madrid 3-0, para penggemar tetap bertahan di tribune setelah laga berakhir untuk memberikan apresiasi kepada tim.
Pemandangan itu tidak terlihat saat Arsenal ditahan imbang tim medioker Brentford 1-1 di stadion yang sama, pada Minggu (13/4/2025) dini hari WIB. Sebagian penonton meninggalkan kursi sebelum injury time. Mereka tidak percaya “Si Meriam” bisa kembali unggul dengan sepuluh pemain.
“Sikap (para pemain),” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta saat ditanya soal apakah timnya kekurangan energi. “Jika Anda lihat, kami bisa membuat dua peluang lagi setelah bermain dengan sepuluh orang. Anda tidak bisa mengatakan itu tentang energi, tetapi masalah sikap,” lanjutnya.
Arsenal unggul lebih dulu berkat gol Thomas Partey yang diinspirasi aksi dribel Declan Rice dan lemparan cepat David Raya. Saat waktu normal tersisa 17 menit, tim tamu menyamakan kedudukan dengan gol Yoane Wissa yang bermula dari kesalahan koordinasi di pertahanan Arsenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/3d16cc11263335a095de72a21ca47edd-Britain_Soccer_Premier_League_1_.jpeg)
Menariknya, gol balasan tercipta beberapa menit setelah Arteta mengganti empat pemain sekaligus. Beberapa pemain utama diistirahatkan, termasuk sang pencetak gol Partey. Pemain kunci yang berstatus cadangan pada awal laga, antara lain Bukayo Saka dan Martin Odegaard, dimasukkan.
Arteta merotasi skuadnya demi laga kedua perempat final versus Madrid, pada Kamis depan. Urgensi itu pula yang membuat Rice harus ditarik, semenit setelah gol Brentford. Padahal, Rice yang menyumbang satu asis merupakan salah satu sosok andalan di lini serang Arsenal.
Akibat rotasi masif itu pula, Arsenal terpaksa bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-85. Gelandang veteran Jorginho mengalami cedera, sementara tuan rumah sudah menggunakan seluruh kuota pergantian. Adapun Arteta sangat jarang mengganti lima pemain dalam satu laga.
Pekan lalu, Arsenal juga kehilangan poin penuh setelah unggul lebih dulu di kandang Everton. Ada kesamaan selain hasil laga yang berakhir 1-1, Arteta merotasi lima pemain utama di kedua laga tersebut. Dia lebih memprioritaskan agenda Liga Champions pada tengah pekan.
Arteta bersikap realistis. Rotasi wajib dilakukan karena banyak pemain utama yang cedera. Liga Inggris pun dijadikan “tumbal” karena sudah sulit mengejar pemuncak klasemen Liverpool. “Dengan hasil ini, pastinya, (meraih juara) semakin sulit untuk terjadi,” kata Arteta.
Keputusan rotasi itu turut berdampak terhadap performa “Si Meriam”. Selain tidak menurunkan kekuatan penuh, keseimbangan mereka juga terganggu dengan banyak pergantian di tengah laga. Sinyal “bendera putih” dari Arteta soal perburuan gelar liga turut tercermin dalam sikap pemain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/9832d74f60ad1f264d9d9d3b29f50e62-wires_photo_85_.jpg)
Para pemain Arsenal, salah satunya Partey, juga tidak terlalu kecewa setelah hasil imbang. Dia langsung mengarahkan fokus ke kandang Madrid. “Kami tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Kami harus pergi ke sana (Madrid) dengan mentalitas untuk meraih kemenangan,” ujar Partey.
Lewat hasil itu, Arsenal masih berada di peringkat kedua klasemen dengan 63 poin dari 32 laga. Liverpool yang akan berhadapan dengan West Ham pada Minggu malam WIB, memimpin dengan 73 poin dari 31 laga. Liverpool hanya butuh tiga kemenangan lagi untuk memastikan gelar juara.
Terlepas dari hasil, Arsenal memang menghadapi pendekatan bertahan yang jauh berbeda dibandingkan versus Madrid. Brentford memainkan blok pertahanan ekstra rendah nyaris sepanjang laga. Sebelas pemain mereka ditugaskan bertahan, termasuk Wissa yang berperan sebagai ujung tombak.
Brentford tidak terlalu mementingkan serangan balik, tidak seperti Madrid yang menugaskan Kylian Mbappe dan Vinicius Junior untuk bersiaga dalam situasi transisi. Itu yang membuat tim tamu hanya mampu menciptakan tiga tembakan selama 90 menit.
Pelatih Kepala Brentford Thomas Frank mengatakan, keberhasilan timnya bermula dari struktur pertahanan yang sempurna dan bisa membatasi bola mati lawan. “Kredit untuk para pemain kami yang tidak frustasi menghadapi gempuran Arsenal. Kami tahu momen kami akan tiba,” ucapnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .