Sejumlah negara mengecam Israel yang menyerang Lebanon habis-habisan. Bagi Netanyahu, Lebanon tak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran.
10 Apr 2026 09:09 WIB · Internasional
AFP/KAWNAT HAJU
BEIRUT, KAMIS — Militer Israel memerintahkan penduduk pinggiran selatan Beirut, Lebanon, segera mengungsi. Israel memastikan terus menyerang Lebanon meski sejumlah negara secara terbuka mengecam.
Pada Jumat (10/4/2026) dini hari, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memastikan serangan berlanjut. ”Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh, dan kami tidak akan berhenti,” ujarnya dalam video yang diunggah Kantor PM Israel ke media sosial.
Itu adalah pengumuman lanjutan Netanyahu yang menegaskan Israel tak menganggap ada gencatan di Lebanon. ”Saya bersikeras bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran tidak termasuk Hizbullah. Dan kami terus menyerang mereka dengan keras,” tulisnya di media sosial pada Kamis.
Padahal, PM Pakistan Shehbaz Sharif dengan jelas mengumumkan gencatan senjata berlaku pula di Lebanon. ”Dengan kerendahan hati yang sebesar-besarnya, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain, berlaku segera,” tulis Sharif.
Sharif bersama Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir menjadi tokoh kunci kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Kesepakatan itu berlaku dua pekan sejak 8 April 2026.
Pada hari pengumuman kesepakatan gencatan senjata, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon. Lebih dari 250 orang tewas dan setidaknya 1.100 lain cedera akibat serangan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/08/e8b694b9-2166-421d-a21d-26a6200037ae.jpg)
Serangan itu dikecam berbagai pihak. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut, Israel negara jahat dan kutukan bagi umat manusia. ”Sementara perundingan perdamaian sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon,” tulisnya di media sosial.
Ia melanjutnya, Israel terus membunuh warga sipil di Gaza, Lebanon, dan Iran. ”Pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti,” lanjutnya.
Hampir bersamaan dengan pernyataan Asif, militer Israel memerintahkan penduduk di pinggiran Beirut segera mengungsi. Perintah diberikan kepada Haret Hreik, Ghobeiry, Laylaki, Hadath, Bourj al-Barajneh, Tahwita al-Ghadir, dan Chiyah. Militer Israel menyatakan akan segera menyerang kawasan itu.
Tak cuma Pakistan, kecaman atas serangan Israel juga disampaikan sejumlah negara Eropa dan Amerika Utara. Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide memperingatkan tindakan Israel berisiko merusak stabilitas regional yang lebih luas. Serangan itu membahayakan gencatan senjata AS-Iran.
”Konflik di Timur Tengah saling terkait. Kami sudah memperjelas bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran juga harus mencakup Lebanon,” ujarnya kepada kantor berita Anadolu.
Kementerian Luar Negeri RI juga mengecam keras berbagai serangan Israel ke Lebanon. ”Serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, serta berisiko semakin memperburuk ketegangan regional yang membahayakan keamanan global,” tulis Kemenlu RI.
”Indonesia menuntut Israel untuk segera dan secara permanen menghentikan kekerasan dan agresi di Lebanon. Indonesia juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, sesuai dengan kewajiban hukum internasional. Indonesia menyerukan kepada semua pihak yang terlibat untuk menahan diri secara maksimal, melakukan upaya deeskalasi, mengedepankan dialog, serta menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi,” tulis Kemenlu RI.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/08/92013178-19c3-419d-a499-8053011303b7.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/10/04214a9e9d64b1d777fac613e6498a31-Lebanon_Israel_Iran_War.jpg)
Bagi PM Inggris Keir Starmer, serangan Israel itu juga sudah jelas salah, seharusnya tidak terjadi, dan harus segera dihentikan karena ini ”masalah prinsip”. Starmer menegaskan Inggris ingin agar Lebanon juga dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
”Kami ingin melihat gencatan senjata diperluas ke Lebanon. Saya sangat prihatin dengan peningkatan serangan yang kita lihat dari Israel di Lebanon kemarin. Kita sudah melihat konsekuensi kemanusiaan, pengungsian massal besar-besaran di Lebanon,” kata Menlu Inggris Yvette Cooper kepada Sky News.
Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stéphane Dujarric, Rabu, mengecam keras hilangnya nyawa warga sipil dan sangat prihatin atas meningkatnya jumlah korban di kalangan sipil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/08/94913558-d76a-4e42-9052-519ca7b0ce0b.jpg)
Seiring dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang masih berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata tersebut serta upaya menuju perdamaian yang berkelanjutan dan menyeluruh di kawasan.
Sekjen PBB, lanjut Dujarric, menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan. Hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, harus dihormati setiap saat. Warga sipil dan obyek sipil harus dilindungi setiap saat, dan serangan yang ditujukan kepada mereka tidak dapat diterima.
”Tidak ada solusi militer untuk konflik ini. Sekretaris Jenderal terus menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan jalur diplomatik dan kembali berkomitmen pada implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan 1701,” ujarnya.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan, Lebanon dan sekutu regional Iran lainnya yang merupakan ”poros” Iran adalah bagian yang tak terpisahkan. Pakistan disebutkan sedang mengupayakan gencatan senjata di Lebanon dan Yaman.
Israel dan Hizbullah pernah menyepakati gencatan senjata yang ditengahi AS pada November 2024 untuk menghentikan perang selama setahun. Walakin, Israel telah ribuan kali menyerang Lebanon sejak gencatan senjata November itu.
Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut AS bodoh jika membiarkan Israel membahayakan gencatan senjata AS-Iran dengan melanjutkan serangan ke Lebanon. ”Jika AS ingin menghancurkan ekonominya dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pilihan mereka. Kami pikir itu bodoh, tetapi kami siap untuk itu,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/09/c5d177f5-e099-4f75-be0e-1c84dfa5dc98_jpg.jpg)
Ia menggunakan kata bodoh meniru pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya. Vance memperingatkan agar Iran tidak membiarkan gencatan senjata gagal karena Lebanon. ”Kami pikir itu akan bodoh, tetapi itu pilihan mereka,” ujarnya.
Trump mengaku sudah meminta Israel untuk mengurangi operasinya di Lebanon. ”Saya berbicara dengan Bibi [Netanyahu], dan dia akan melakukannya secara diam-diam. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih diam-diam,” ujarnya kepada NBC News.
Menurut seorang pejabat AS di Deplu AS, Israel dan Lebanon akan berunding di Washington, AS, pekan depan. Namun, seorang pejabat Lebanon menyatakan harus ada gencatan senjata terlebih dahulu sebelum memulai negosiasi apa pun dengan Israel.
Baik Israel maupun Lebanon belum secara terbuka mengonfirmasi pembicaraan AS untuk minggu depan. Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, menegaskan, Hizbullah menolak negosiasi langsung dengan Israel dan Pemerintah Lebanon harus menuntut gencatan senjata sebagai prasyarat untuk langkah selanjutnya. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji