Dunia Terhantam Palu Trump kepada China

Rantai pasok global menjadi tak berguna dengan kebijakan tarif Trump. Resesi membayangi perekonomian.

05 Apr 2025 12:18 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Amerika Serikat sampai Lesotho terkena dampak lonjakan tarif bea masuk impor yang diumumkan Donald Trump. Kerja puluhan tahun berantakan oleh pengumuman beberapa menit. Stagflasi kembali mendekati perekonomian AS.

Sikap pesimistis pada masa depan ditunjukkan bank sentral dan bank-bank besar AS. Dalam catatan yang diedarkan pada Jumat (4/4/2025) malam waktu New York atau Sabtu pagi WIB, analis JPMorgan menaikkan peluang resesi. Dari 40 persen, peluang resesi menjadi 60 persen.

Analis di bank investasi besar AS itu menyebut, resesi berpeluang amat besar terjadi pada semester II-2025. Ekonom Kepala JPMorgan, Michael Feroli, menaksir produk domestik bruto (PDB) AS terpangkas 1 persen pada triwulan III-2025. Sementara di triwulan IV, PDB AS diproyeksi terpangkas 0,5 persen.

JPMorgan menjadi bank besar pertama AS yang secara terbuka menyatakan peluang resesi AS meningkat akibat kebijakan Trump soal bea masuk impor (BMI). Pada 2 April 2024, Presiden AS itu mengumumkan kenaikan BMI untuk komoditas dari hampir semua negara.

AS, kata Feroli, berpeluang masuk stagflasi. Kondisi itu adalah kala inflasi tinggi, sementara pertumbuhan rendah. ”Proyeksi stagflasi akan menghadirkan dilema pada pembuat keputusan di Fed (Federal Reserve, bank sentral AS),” tulisnya.

Dalam pernyataan beberapa jam sebelum Feroli, Jerome Powell tak menyangkal peluang stagflasi. ”Sekarang menjadi jelas bahwa kenaikan tarif lebih besar dari dugaan. Hal selaras sepertinya juga pada dampak ekonomi, yang akan termasuk inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat,” kata Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve itu.

Powell menyebut, dampak inflasi akibat kenaikan BMI bisa bertahan lama. Pernyataan suram itu seketika ditanggapi keras oleh Trump. Ia meminta Fed segera memangkas suku bunga acuan (SBA).

Quote

Era globalisasi berdasarkan aturan dan perdagangan bebas sudah berakhir.

SBA salah satu perangkat Fed, juga bank sentral berbagai negara lain, mengendalikan inflasi. Saat SBA naik, pemilik dana cenderung menabung daripada berbelanja atau berinvestasi. Pebisnis juga menahan mengambil kredit saat suku bunga naik.

Risikonya, pertumbuhan ekonomi bisa melambat. Perlambatan itu bisa menaikkan pengangguran. Feroli menaksir angka pengangguran AS bisa mencapai 5,3 persen. Pada Maret 2025, pengangguran AS tercatat 4,2 persen.

Ekonom Senior RSM Joe Brusuelas malah mengatakan, situasi sekarang mirip keadaan akhir 2007. Kala itu, beberapa lembaga investasi kehabisan dana saat pasar ambruk. Dampaknya, terjadi krisis 2008 yang memaksa sejumlah bank bangkrut.

Lehman Brothers, didirikan pada 1850, bangkrut dalam krisis itu. Di Indonesia, pemerintah menalangi Bank Century karena khawatir terulang krisis 1998.

Alasan ada risiko sistemik menjadi dasar talangan Bank Century. Kini, menurut Brusuelas, ada risiko sistemik dari kebijakan Trump. Bank dan lembaga keuangan, kata analis pada lembaga penasihat investasi itu, akan terdampak tarif Trump.

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) at the opening bell on March 7, 2025, in New York City. Wall Street stocks rose early March 7, digesting a mixed jobs report as markets seek a pivot from a rough period amid tariff uncertainty. The US added 151,000 jobs last month, up from January's revised 125,000 figure, but fewer than analysts estimates as unemployment ticked higher. (Photo by CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Ungkap kecemasan

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong tak menutupi kecemasannya atas kebijakan Trump. ”Singapura harus bersiap pada kejutan yang akan datang karena ketenangan dan stabilitas global yang pernah ada tidak akan kembali dalam waktu dekat,” ujarnya.

Singapura selama ini bersandar pada sistem multilateral global. Sistem itu memungkinkan Singapura makmur dengan menjadi perantara dan penghubung berbagai kepentingan dari beragam penjuru dunia.

Keputusan Trump, kata Wong, mengguncang tatanan global. ”Era globalisasi berdasarkan aturan dan perdagangan bebas sudah berakhir. Kita memasuki babak baru, babak yang lebih sepihak, proteksionis, dan berbahaya,” kata Wong.

Ia menyebut, sistem lama memang tak sepenuhnya sempurna. Bersama beberapa negara lain, Singapura berusaha mendorong reformasi tatanan yang disebut Wong diciptakan dan dijaga AS puluhan tahun tersebut.

”Apa yang dilakukan AS sekarang bukan reformasi. Ini mengabaikan sepenuhnya sistem yang diciptakannya,” kata Wong.

Infografik-Negara Tujuan Utama Ekspor Nonmigas Indonesia Januari-Februari 2025 *** Local Caption *** Infografik-Negara Tujuan Utama Ekspor Nonmigas Indonesia Januari-Februari 2025

AS memang menjadi pendominasi tatanan global selepas Perang Dunia II. Dunia sudah terperangah sejak Trump menarik AS dari beberapa kesepakatan multilateral pada masa pemerintahan pertamanya.

Kala itu, perang dagang yang dilancarkan Trump membuat investor mengalihkan investasi dari China ke berbagai negara. Harapannya, akses pasar tetap terbuka dan selamat dari sanksi AS untuk China.

Quote

Susah berhubungan konstruktif dan membangun dengan negara yang cuma menimpukkan bata ke kepala Anda.

Istilah re-shoring dan friendshoring mengemuka. Dengan kebijakan baru Trump, strategi itu tak lagi berlaku. BMI massal, bahkan dikenakan kepada Lesotho yang total ekspornya ke berbagai negara tak sampai 1 miliar dollar AS, membuat rantai pasok global tak berguna.

Trump dengan jelas menegaskan, buka pabrik di AS atau terkena BMI. Hal itu berarti suku cadang dan bahan baku impor akan terkena BMI. Biaya produksi bisa melonjak, untung bisa terpangkas.

Bursa longsor

Potensi pemangkasan laba, proyeksi resesi, dan ketidakpastian kinerja ekonomi membuat bursa-bursa anjlok. Indeks Straits Times, seperti indeks bursa di berbagai negara, longsor selepas pengumuman Trump. Indeks yang mencatat kinerja emiten utama bursa Singapura itu terkoreksi 129 poin dalam dua hari selepas BMI diungkap Trump.

Bursa AS juga memerah sejak Trump mengumumkan BMI massal. Indeks utama bursa AS, yakni S&P 500, Nasdaq, dan DJI, longsor tanpa henti dalam dua hari perdagangan selepas pengumuman Trump.

Ditutup di 5.669 pada 2 April 2025, S&P 500 merosot 594 poin pada penutupan perdagangan Jumat. DJI paling parah, kehilangan 3.956 poin dalam dua hari perdagangan sejak pengumuman Trump. Sementara Nasdaq terkoreksi 2.009 poin dalam periode sama.

Koreksi besar-besaran itu memangkas valuasi triliunan dollar AS dari bursa. Aset 500 orang terkaya dunia terkoreksi hampir Rp 4.000 triliun dalam dua hari itu.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

Sasar China

Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Siwage Dharma Negara, menyebut bahwa berbagai negara terkena dampak kebijakan Trump. Untuk Asia Tenggara, sebenarnya China menjadi sasaran utama kebijakan tersebut.

”Pemerintah (AS) berpikir, dengan menyasar negara-negara ini mereka bisa menyasar investasi China di negara-negara seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Dengan menyasar produk mereka, mungkin bisa berdampak pada ekspor China dan perekonomiannya,” kata Siwage ke The Guardian.

Meski menyasar China, dampak kebijakan AS malah memukul negara-negara Asia Tenggara. Sebab, investasi China atau negara lain di Asia Tenggara mendatangkan pendapatan ekspor dan membuka lapangan kerja.

”Sejumlah (produk) garmen dan alas kaki adalah jenama Amerika, seperti Nike, perusahaan AS yang punya pabrik di Indonesia. Apakah mereka (pabrik-pabrik AS di Indonesia) akan terkena tarif yang sama?” lanjutnya.

Kolega Siwage di lembaga yang sama, Stephen Olson, menyebut kebijakan baru Trump akan memaksa negara-negara ASEAN menimbang ulang hubungan dengan AS. ”Bisa jadi malah semakin dekat ke China. Susah berhubungan konstruktif dan membangun dengan negara yang cuma menimpukkan bata ke kepala Anda,” kata mantan juru runding perdagangan AS itu.

AS, kata Olson, kini seperti menutup pintu untuk impor. ”Kita menghadapi dua kemungkinan skenario: antara mitra terdampak meminta pertanggungjawab perusahaan dan membalas dengan harapan Trump akan mundur. Atau, mereka mempertimbangkan bersepakat dengan Trump demi menghindari tarif. Tidak ada peluang salah satu dari skenario itu berakhir baik,” lanjutnya. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari