Imbas Trump, Pasar AS Kehilangan Nilai Setara PDB Indonesia Dua Tahun

Valuasi emiten S&P 500 ditaksir terpangkas 2,9 triliun dollar AS. PDB Indonesia 2024 hanya 1,4 triliun dollar AS. Kebijakan Trump akan memicu inflasi di AS.

04 Apr 2025 11:30 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

NEW YORK, JUMAT — Bursa Amerika Serikat kehilangan valuasi setara produk domestik bruto Indonesia selama dua tahun. Kehilangan itu wujud kegelisahan pasar pada keputusan Donald Trump soal bea masuk impor bagi seluruh mitra dagang Amerika Serikat.

Dalam penutupan perdagangan Kamis (3/4/2025) malam waktu New York atau Jumat pagi WIB, semua indeks utama bursa AS memerah. S&P 500, Dow 30, dan Nasdaq anjlok masing-masing 4,84 persen, 3,98 persen, dan 5,97 persen.

Valuasi emiten S&P 500 ditaksir terpangkas 2,9 triliun dollar AS sepanjang Kamis. Sebagai pembanding, produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2024 setara 1,44 triliun dollar AS. Dengan demikian, valuasi S&P 500 yang tergerus lebih besar daripada PDB Indonesia dua tahun.

Bloomberg billionaires index menyebutkan, 500 orang terkaya dunia kehilangan aset 208 miliar dollar AS akibat penurunan saham. Elon Musk, orang terkaya dunia dan penyokong penting Trump, kehilangan 11 miliar dollar AS karena saham-saham perusahaannya anjlok selepas keputusan Trump.

Dow Jones Market Data mencatat, bursa AS terakhir kali mencatat penurunan separah ini pada Maret 2020. Kala itu, pandemi Covid-19 dimulai.

Kini, pasar anjlok selepas pengumuman Presiden AS Donald Trump soal perdagangan internasional AS. Trump memutuskan, komoditas dari hampir semua mitra dagang AS dikenai bea masuk impor.

Bahkan, Lesotho dikenai BMI 50 persen oleh Trump. Padahal, nilai ekspor negara di Afrika itu ke seluruh dunia cuma 831 juta dollar AS pada 2023.

Meski pasar memerah, Trump berkeras keputusannya berdampak baik. ”Pasar akan membaik, saham akan meledak, dan (perekonomian) negara ini akan membaik,” kata Trump.

Ia menyatakan itu kala indeks utama bursa-bursa AS anjlok. Menurut dia, AS seperti pasien sakit dan butuh operasi untuk memulihkan kesehatan. BMI adalah cara Trump memulihkan perekonomian AS. ”Semua akan baik-baik saja,” ujarnya.

(FILES) A trader works on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) at the opening bell in New York City on March 10, 2025. Wall Street stocks plummeted on March 10, 2025 as investors fretted that uncertainty over President Donald Trump's tariff policy could tip the world's biggest economy into a recession. (Photo by CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Pengenaan BMI tinggi, menurut dia, akan memaksa berbagai perusahaan menanam modal di AS untuk mengakses pasar negara itu. Ia siap menurunkan tarif BMI. Syaratnya, negara-negara lain harus memberi tawaran luar biasa. ”Selama bertahun-tahun, kita berada di sisi yang salah,” ujarnya.

Ia merujuk pada neraca perdagangan barang dan jasa AS. Pada 2024 saja, AS menanggung defisit 1,063 triliun dollar AS. Dari perdagangan barang defisit 1,294 triliun dollar AS. Dari perdagangan jasa surplus 231 miliar dollar AS.

Defisit itu, menurut Trump, karena AS dicurangi berbagai negara. Karena itu, sekutu hingga lawan dikenai BMI. Paling rendah 10 persen.

Investor terkejut

Sejak beberapa pekan lalu, investor bersiap pada BMI ke pasar AS. Walakin, pasar menduga kebijakan itu hanya taktik jangka pendek untuk mendorong perundingan dagang.

Dengan pernyataan terbarunya, Trump mengindikasikan BMI sebagai strategi jangka panjang. Hal itu memicu kekhawatiran pasar.

Rantai pasok industri dan konsumsi AS sejak lama mengandalkan produksi dari negara lain. Departemen Pertanian AS mengakui, AS kehilangan kemampuan domestik untuk memproduksi dan mendistribusikan berbagai bahan pangan.

Potret fasilitas penyimpanan mobil berbentuk menara Volkswagen di pabrik kantor pusat perusahaan di Wolfsburg, Jerman tengah, pada 11 Maret 2025.

Pisang dan avokad hanyalah sebagian kecil komoditas yang nyaris sepenuhnya bersandar pada impor. Sementara aneka barang lain bisa ditekan harganya karena diproduksi di negara lain yang biaya produksinya lebih murah daripada AS.

Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook, menyebutkan bahwa kebijakan Trump akan memicu inflasi di AS. Sementara pertumbuhan ekonomi akan melambat.

Kombinasi kedua hal itu akan menyulitkan Federal Reserve atau The Fed menyusun kebijakan moneter. Biasanya, bank sentral seperti The Fed akan menaikkan suku bunga acuan untuk meredam inflasi. Masalahnya, kenaikan SBA bisa sekaligus meredam pertumbuhan ekonomi.

Aneka kredit akan mahal karena suku bunga naik. Sementara di AS, konsumsi dan investasi bersandar pada kredit.

BMI, kata Cook, pada akhirnya akan ditanggung konsumen. Ia mencontohkan, BMI untuk aluminium dan baja, komoditas pokok dalam industri otomotif.

Kenaikan BMI aluminium dan baja membuat harga mobil di AS naik. ”Harga lebih tinggi pada kendaraan bermotor dapat menaikkan biaya pada layanan terkait, seperti persewaan, asuransi, hingga bengkel,” katanya. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase