Dunia Usaha Terpukul Pelemahan Daya Beli

Bukan sekadar keyakinan masyarakat, dunia usaha juga mulai merasakan pelemahan daya beli masyarakat di sektor riil.

12 Sep 2025 09:24 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Dunia usaha mulai merasakan dampak pelemahan daya beli masyarakat. Pemerintah diharapkan mengambil kebijakan konkret, seperti stimulus dan subsidi secara tepat sasaran.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan, daya beli masyarakat kian menurun. Ini ditandai dengan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian.

”Penjualan ritel yang menjadi tempat masyarakat membeli berbagai kebutuhan sehari mengalami kontraksi sebagai pertanda bahwa daya beli masyarakat belum produktif,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, penjualan eceran pada Juli 2025 secara bulanan menurun meski secara tahunan meningkat. Penurunan ini tampak dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang turun 4,1 persen secara bulanan, lebih dalam dibanding Juni 2025 sebesar 0,2 persen.

Grafik menunjukkan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil menurut kelopok secara bulanan.

Beberapa penjualan yang memengaruhi penurunan tersebut ialah kelompok makanan minuman dan tembakau, serta peralatan informasi dan komunikasi, masing-masing turun sebesar 6 persen dan 1,2 persen. Ini terjadi seiring dengan berakhirnya periode libur dan cuti bersama dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional dan libur sekolah.

Sejalan dengan itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2025 tercatat sebesar 117,2. Meski masih berada di zona optimistis (di atas 100), IKK tersebut turun 0,9 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 118,1. Bahkan, angka itu berada di titik terendah dalam tiga tahun terakhir, sejak September 2022 yang juga mencapai 117,2.

Menurut Sarman, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah, terutama untuk mengerek kembali daya beli masyarakat. Salah satu caranya ialah dengan menstabilisasi berbagai harga pangan pokok. Misalnya, beras yang sempat mengalami kenaikan meski pemerintah mengklaim stok beras aman.

Quote

Pemerintah harus hadir dengan berbagai kebijakan stimulus, baik kepada pelaku usaha maupun masyarakat. Pemerintah harus memastikan agar berbagai bantuan sosial harus tepat waktu dan tepat sasaran.

Di sisi lain, pelemahan daya beli juga tampak dari penjualan mobil yang secara wholesales pada Agustus 2025 merosot hingga 19 persen secara tahunan. Selain itu, sektor pariwisata, seperti hotel, restoran, kafe, pusat kuliner, serta pusat destinasi wisata, juga mengalami penurunan jumlah pengunjung.

”Pemerintah harus hadir dengan berbagai kebijakan stimulus, baik kepada pelaku usaha maupun masyarakat. Pemerintah harus memastikan agar berbagai bantuan sosial tepat waktu dan tepat sasaran,” ujar Sarman.

Menghadapi situasi seperti itu, para pelaku usaha dituntut lebih kreatif dan responsif melayani berbagai kebutuhan pelanggan. Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan lebih aktif membuka komunikasi dengan dunia usaha di berbagai sektor guna menjaring aspirasi terkait insentif yang dibutuhkan agar tidak memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sejumlah buruh tesktil yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Patung Kuda, Jakarta, Minggu (1/6/2025). Fokus utama tuntutan KSPN adalah menolak praktik impor ilegal yang dinilai merugikan industri nasional. Bagi para perwakilan KSPN dari berbagai daerah yang beorasi, usaha yang dilakukan industri dalam negeri untuk melakukan efisiensi produksi tidak akan optimal apabila impor ilegal masih masif dan tidak ada tindakan hukum. Menurut KSPN, lebih dari 60 perusahaan TPT (Tekstil dan produk Tekstil) skala menengah dan besar telah melakukan PHK, baik karena tutup usaha maupun efisiensi. Belum lagi industri-industri yang lain juga terdampak. Dalam catatan KSPN, gelombang Pemutusan Hubungan Keria (PHK) terus mengancam dan menekan jutaan pekerja Indonesia. Data PHK awal 2025 bervarisai jumlahnya, data KSPN ada 61.351 terjadi PHK dari Januari-April 2025. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melaporkan 26.455 kasus PHK hingga Mei 2025, sedangkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat 73.092 pekeria terdampak PHK pada periode Januari-Maret 2025. Dalam dua tahun terakhir ini, tekanan impor murah dan melemahnya daya beli masyarakat telah membuat industri padat karya khususnya tekstil dan produk tekstil dalam negeri makin terpuruk. Dalam hal ini, KSPN juga meminta pemerintah untuk menjaga keberlanjutan industri padat karya bahkan meningkatkannya merupakan langkah strategis pemerintah untuk menahan lonjakan pengangguran, mempertahankan daya beli masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang akan mampu berkontribusi menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Dalam aksi tersebut KSPN menyampaikan lima tuntutan, yaitu Pemberantasan Praktik Impor Ilegal, Revisi Permendag Nomor 8 Tahun 2024, Upaya Antisipasi PHK Massal, Penciptaan Lapangan Kerja Baru serta Penegakan Hukum dan Pengawasan Perdagangan Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Dihubungi secara terpisah, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menambahkan, pelemahan ekonomi dan daya beli masyarakat sebenarnya tampak sejak sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

”Setelah Covid-19 sempat recovery sebentar saat pemerintah memberikan stimulus, tapi sekarang jatuh lagi. Tahun lalu, berbagai sektor mengalami penurunan dan tahun ini lebih turun lagi. Jadi, dua tahun berturut-turut,” katanya.

Merujuk Survei Penjualan Eceran BI pada Agustus 2025, kinerja penjualan eceran diprakirakan tetap tumbuh. Hal ini salah satunya tecermin dari IPR Agustus 2025 yang tumbuh sebesar 2,7 persen secara tahunan.

”Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Barang Budaya dan Rekreasi,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers.

Pegawai menata beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di ritel modern Hypermart, Pejaten Village, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025). Melalui jaringan ritel modern, Asosiasi Peritel Indonesia berkomitmen menyalurkan beras SPHP sebanyak 800 ribu ton hingga akhir 2025. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah mayarakat mendapatkan beras dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. 

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
11-09-2025

Secara bulanan, penjualan eceran pada Agustus 2025 secara bulanan diprakirakan turun sebesar 0,3 persen, lebih baik dibandingkan penurunan sebesar 4,1 persen pada Juli 2025. Perbaikan ini didukung oleh kinerja penjualan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Subkelompok Sandang.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu pada Oktober 2025, diprakirakan stabil. Akan tetapi, tekanan inflasi pada enam bulan mendatang, yaitu pada Januari 2026, diprakirakan meningkat.

Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2025 sebesar 134,8, relatif stabil dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 134,7. Sementara itu, IEH Januari 2026 tercatat sebesar 169,3, lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 163,4.

Quote

Terutama masyarakat kelas menengah bawah dan kelas bawah, mereka berjaga-jaga apabila terkena PHK. Terlebih indeks ketersediaan lapangan kerja masih di bawah level 100 yang berarti masyarakat tidak yakin ada lapangan kerja baru.

Di sisi lain, Direktur Digital Economy Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, sejak April 2025, sikap optimisme masyarakat akan perbaikan ekonomi menurun. Masyarakat masih menahan belanja untuk berjaga-jaga ekonomi ke depan semakin buruk.

”Terutama masyarakat kelas menengah bawah dan kelas bawah, mereka berjaga-jaga apabila terkena PHK. Terlebih indeks ketersediaan lapangan kerja masih di bawah level 100 yang berarti masyarakat tidak yakin ada lapangan kerja baru,” katanya.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi tingkat keyakinan masyarakat terhadap perekonomian ialah PHK yang masih melonjak tajam. Hingga Juni 2025 saja terjadi kenaikan kasus PHK sebesar 32 persen. Bahkan, menurut data dunia usaha dan serikat pekerja, data PHK lebih besar dibandingkan data pemerintah.

Infografik Tenaga Kerja yang Terkena PHK di Indonesia

Artinya, Nailul melanjutkan, memang tidak ada dorongan dari sisi pendapatan karena pendapatan masyarakat sebagian hilang. Kemudian, masyarakat melihat data yang disampaikan pemerintah juga menyiratkan ketidakpercayaan masyarakat akan kebijakan pemerintah.

”Ketika pemerintah menyampaikan data yang baik, tapi kenyataannya buruk, masyarakat semakin tidak yakin pemerintah bisa menyelesaikan problem mereka. Ketidakpastian ekonomi menjadi naik kembali,” ujarnya.

Selain itu, minim kebijakan stimulus perekonomian dari pemerintah juga disinyalir memengaruhi keyakinan masyarakat. Salah satunya terkait kebijakan subsidi beberapa waktu lalu yang dirasa tidak mendongkrak konsumsi masyarakat secara signifikan, mengingat yang dibutuhkan masyarakat ialah uang tunai untuk belanja kebutuhan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto