Dwifungsi pertahanan modern menuntut kerja sama yang berbasis teknologi. Teknologi dapat digunakan pada saat bersamaan untuk pertahanan dan ekonomi.
07 Jun 2025 11:10 WIB · Politik & Hukum
Mari sejenak kita menyimak perkembangan teknologi. Sebuah satelit yang menggabungkan kemampuan optik dan mengambil data gambar seperti mata manusia serta satelit radar yang mengambil data gelombang radio bisa menghasilkan gambar beresolusi 100 x 4K (4.000 pixel sisi horizontal) yang real time. Gambar ini dapat memantau perubahan cuaca dan fisik sebuah tempat dalam jangka waktu lama sehingga bisa memuat pola tertentu.
Loic Rognant, salah seorang perancang satelit Thales, meyakinkan bahwa dunia bisa menjadi lebih baik dengan data satelit yang lebih akurat. Akhir Mei lalu, di salah satu pusat riset Thales, di Bordeaux, Perancis, dia menunjukkan Satelit All In One, yang dengan bantuan kecerdasan buatan, kemudian bisa memprediksi produksi pangan secara akurat di suatu daerah.
Data yang didapat tidak hanya curah hujan atau arah angin, tetapi juga kondisi tanah di permukaan. Hal ini membuat pemerintah bisa tepat dalam membuat kebijakan demi kehidupan yang lebih baik. Presisi dan akurasi menjadi kunci pengolahan big data hingga petabytes menghasilkan rekomendasi yang juga tepat.
Akan tetapi, Loic Rognant juga menunjukkan gambar satelit gurun di Arizona yang menjadi ”kuburan” sekitar 4.000 pesawat militer AS. Gambar 3D itu bisa di-zoom dengan mudah. Walau itu bukan gambar rahasia, bisa disimpulkan bahwa tidak ada pangkalan militer yang imun dari satelit.
Loic Rognant menunjukkan betapa melalui kombinasi kecerdasan buatan dan seorang analis, dengan mudah dapat dianalisis apa saja aktivitas di sebuah pangkalan militer. Saat ditanya, apakah ia bisa menunjukkan gambar real time sebuah pangkalan militer, sambil senyum-senyum, Loic mengatakan, ia tidak boleh melakukannya.
Definisi ’menang’ bahkan tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Kita memasuki era di mana semua bisa menjadi senjata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/07/b34c71299a3d225c2bb421c3aa98daba-WhatsApp_Image_2025_06_07_at_00.48.07.jpeg)
”Kemhan Indonesia sudah menandatangani pengadaan satelit All in One ini. Thales bekerja sama dengan PT LEN, Indonesia untuk membangunnya,” kata Loic Rognant di Bourdeaux, Perancis, Rabu (28/5/2025).
Hal ini disampaikan juga oleh Nicolas Bouverot, Thales Vice President for Asia Region, dalam wawancara pada Kamis (5/6/2025). Kerja sama antara Thales Alenia Space dan PT LEN ditandatangani pada Desember 2023.
PT LEN akan memproduksi sistem stasiun bumi yang di antaranya terkait dengan pemrosesan data. ”Ini adalah kemitraan strategis untuk memproduksi radar dan satelit untuk Kemhan Indonesia,” kata Nicolas. Bouverot.
Satelit All in One itu menjadi salah satu terobosan dalam industri pertahanan untuk merespons semakin blurnya—kekaburan alias tidak jelasnya—perang versus nonperang. Kekuatan konvensional, seperti jumlah pesawat tempur, kapal perang, dan jumlah tentara kian dipertanyakan karena batas antara perang dan damai kian kabur.
Globalisasi membuat negara-negara saling tergantung, terutama secara ekonomi. Akan tetapi, berbagai tekanan seperti keterbatasan sumber daya, iklim, hingga finansial membuat perang tidak terhindarkan.
Perang konvensional, seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia atau konflik di Timur Tengah, memang tetap ada. Akan tetapi, disrupsi teknologi membuat perang dan konflik jadi bagian dari keseharian, mulai dari telepon genggam di tangan orang biasa.
Definisi ”menang” bahkan tidak bisa didefinisikan dengan jelas karena bisa saja besok ada serangan lain, mulai dari serangan siber, teroris, virus, hingga sanksi ekonomi. Semua bisa menjadi senjata. Kita memasuki era di mana semua bisa menjadi senjata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/14/a9189790d61e1aad031bdd60f3f9260c-WhatsApp_Image_2025_03_14_at_22.50.45.jpeg)
Disrupsi teknologi juga yang mendorong industri pertahanan untuk berinovasi. Militer tidak lagi bisa mendominasi teknologi-teknologi terbaru, tetapi semua harus dijadikan dwifungsi. Teknologi digunakan, pada saat yang bersamaan, untuk pertahanan dan ekonomi.
Sistem radar, misalnya, selama ini dipisahkan antara radar aktif (militer) dan radar pasif (penerbangan), tetapi keduanya kini harus disatukan. Hal ini tentu membawa konsekuensi baru, terutama dalam interaksi lembaga sipil dan militer yang lebih erat dalam tingkat operasional.
European Defence Agency atau Badan Pertahanan Eropa telah meluncurkan skema kerja sama untuk mengintegrasikan berbagai ide inovasi untuk dwifungsi ini. China juga telah menerapkan Military Civil Fusion (MCF) untuk mengintegrasikan riset sipil ke industri militer. Teknologi-teknologi yang mengemuka, di antaranya, robotik, komputasi kuantum, nirawak, analisis big data, teknologi blockchain, kecerdasan buatan, dan teknologi nanomaterial.
Dalam konteks ini, tentunya industri pertahanan Indonesia perlu bersiap tidak saja dalam menghadapi ancaman. Industri pertahanan juga mesti meningkatkan kemampuannya, terutama dalam hal sumber daya manusia.
Dari sisi pemerintah, Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2020-2024 juga telah menjelaskan arah pembangunan teknologi pertahanan yang menggarisbawahi berbagai teknologi dwifungsi, yaitu ”pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), himpunan data dalam jumlah besar (big data), machine learning, sistem otomatis, dan teknologi robot untuk kepentingan pertahanan negara”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/10/06/c70f34b8-2fff-43c0-b95e-4799a07c6dc3_jpg.jpg)
Penguasaan teknologi menjadi sangat penting karena penyebarannya secara global tidak merata. Negara-negara yang menguasai teknologi akan menguasai ekonomi sekaligus pertahanan.
Negara seperti Indonesia yang punya anggaran terbatas sebenarnya bisa mengambil keuntungan dari dwifungsi teknologi ini. Sumber daya bisa lebih dihemat. Selain itu, dengan menggunakan kemampuan inovasi teknologi sipil, Indonesia bisa mengurangi impor teknologi militer asing. Beberapa industri pertahanan di Indonesia secara sadar telah menggunakan konsep ini.
Irland Budiman sebagai Corporate Secretary PT Len Industri (Persero) mengatakan, sebelum PT Len menjadi holding Defend ID, fokusnya ada pada sistem elektronika, energi terbarukan, dan sistem transportasi kereta api. Tahun 2022, saat terbentuk holding Defend ID, Len jadi fokus pada industri pertahanan dengan tetap mempertahankan sektor komersial dengan mengembangkan beberapa produk teknologi dwifungsi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/e3f85c8a1c4dbda2656e334513e5877a-IMG_20250226_175006.jpg)
”Salah satunya Rantis Motor Trail Listrik, Sprint, yang digunakan sebagai alat kendaraan taktis militer,” kata Irland.
Saat ini, Len telah kontrak dengan Kementerian Pertahanan untuk menjual 6.000 unit Sprint. Motor Sprint ini tak hanya digunakan sebagai kendaraan taktis militer, tetapi juga tetap dapat digunakan untuk kebutuhan komersial di lingkungan kementerian dan lembaga lainnya.
Menurut Irland, sebagai holding dari BUMN klaster industri pertahanan, Len memang mengembangkan produk-produk berbasis dwifungsi teknologi. Ada delapan segmen teknologi atau Astacita yang menjadi visi strategis pengembangan jangka panjang.
”Contohnya, teknologi komunikasi sistem pertahanan bisa juga digunakan untuk sistem bencana. Sistem kontrol dan otomasi bisa digunakan untuk pertahanan, transportasi, dan energi,” kata Irland.
Ke depan, PT Len juga berupaya meningkatkan kemampuan di teknologi digital dan kecerdasan buatan melalui kerja sama dengan kampus. Lewat pendekatan ini, PT Len tidak hanya mendukung kemandirian pertahanan nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan ekosistem industri teknologi nasional yang lebih luas dan berkelanjutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/27/20201227-H08-GKT-Pesawat-N-219-mumed_1609084907.png)
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) juga membangun konsep dwifungsi teknologi ini. Salah satunya terkait dengan pesawat turbo prop unggulan terbaru PT DI, yakni N-219. Pesawat yang dirancang dan dikembangkan PT DI ini merupakan pesawat penumpang yang terbang perdana Agustus 2019.
Manajer Komunikasi PTDI Adi Prastowo mengatakan, N-219 adalah salah satu produk unggulan PT DI yang sejak dari awal memang dikembangkan dengan pendekatan dwifungsi. Pengetahuan PT DI dalam bidang pesawat militer dikembangkan guna menciptakan platform yang fleksibel dan adaptif untuk bisa digunakan pada masa damai atau perang.
Dengan mindset dual-use ini, N-219 tidak hanya diposisikan sebagai pesawat angkut sipil untuk konektivitas perintis dan daerah terpencil, tetapi juga mampu dikonversi untuk kebutuhan pertahanan, seperti misi logistik militer dan transportasi pasukan.
N-219 dirancang dengan struktur dan sistem yang memungkinkan konfigurasi kabin fleksibel untuk berbagai misi. Untuk konsumen sipil, N-219 dapat dikustomisasi menjadi pesawat penumpang (hingga 19 orang), kargo, ambulans udara, atau bahkan untuk pemadaman kebakaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/53583f46fb0836a5c06bb308d3a6d6c0-IMG_20250226_101432.jpg)
Sementara itu, untuk kebutuhan militer, N-219 dapat disesuaikan untuk misi angkut personel, logistik, surveillance, hingga misi khusus dengan peralatan militer ringan. Secara teknis, N-219 memungkinkan perubahan konfigurasi operasional dari sipil ke militer secara bergantian, selama sesuai dengan standar sertifikasi dan regulasi yang berlaku.
Misalnya, pada masa damai digunakan untuk transportasi sipil atau logistik daerah. Adapun dalam situasi bencana atau konflik dapat dengan cepat dikonversi untuk misi kemanusiaan atau operasi militer non-tempur.
”Ini pendekatan dual-use PT DI. Satu platform dapat menjawab berbagai kebutuhan nasional tanpa harus mengembangkan produk yang sepenuhnya berbeda. Harapannya, efisiensi anggaran dan pertumbuhan industri lokal,” kata Prastowo.
Kompleksitas dunia modern saat ini membutuhkan tingkat adaptasi dan kelincahan yang tinggi. Dwifungsi teknologi hanyalah salah satu bentuk adaptasi yang berlomba-lomba terus dilakukan sejumlah pihak.
Seluruh pemangku kebijakan perlu punya komitmen bersama membangun dan memajukan industri pertahanan. Dengan adanya dwifungsi teknologi ini, tidak saja TNI dan Polri yang harus menjadi konsumen utama industri pertahanan. Kementerian dan lembaga lain, seperti pemerintah daerah dan perusahaan, pun dapat menggunakan berbagai produk-produk dwifungsi ini.
Penulis:
Edna Caroline Pattisina dari PerancisEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .