Eberechi Eze Fenomenal, London Utara Milik Arsenal

Dari Arsenal untuk Arsenal. Itulah slogan paling pas bagi Eze. Mantan bocah dari akademi Arsenal itu sukses jadi pahlawan ”Si Meriam” dalam derbi versus Tottenham.

24 Nov 2025 07:51 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, MINGGU — Arsenal seolah mengalahkan Tottenham Hotspur sebanyak dua kali hanya dalam satu laga. Sudah menang telak 4-1, ”Si Meriam” menambah parah luka tim tetangga dengan penampilan heroik gelandang Eberechi Eze. Eze nyaris berseragam Tottenham di musim panas, tetapi takdir membawanya ke Arsenal.

Bagi warga London Utara, laga derbi antara Arsenal versus Tottenham merupakan agenda sepak bola terpenting. Itu pula yang dirasakan Eze, sosok yang lahir di wilayah tersebut dan tumbuh di akademi Arsenal. Eze sudah lama bermimpi tampil di derbi. Mimpi itu baru terwujud di Stadion Emirates, Minggu (23/11/2025) malam WIB.

Pemain 27 tahun itu tidak menyia-nyiakan momen yang dinanti sepanjang kariernya. Eze menjadi pahlawan kemenangan tuan rumah dengan sumbangan hattrick ke gawang Tottenham. ”Itu spesial. Saya sangat bersyukur. Saya berdoa untuk itu, untuk menciptakan hattrick. Tuhan memberikannya kepadaku,” ujar Eze.

Kontribusi Eze sempat diragukan. Dia hanya menghasilkan satu gol dari sembilan penampilan di liga. Siapa sangka, pemain tim nasional Inggris itu menjawab keraguan di hari terbesar bagi para pendukung Arsenal. Eze bahkan nyaris mencetak gol keempat di pengujung laga, tetapi masih bisa digagalkan kiper Guglielmo Vicario.

Eze pun sukses menjadi pemain keempat dalam sejarah yang mencetak tiga gol di derbi London Utara. ”Itu menunjukkan betapa sulit yang dilakukannya. Sejujurnya, dia bisa mencetak empat atau lima gol. Dia pemain besar yang bisa menciptakan momen ajaib, membuat lawan hilang keseimbangan,” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta.

Jika dicermati lebih dalam, semua gol Eze nyaris serupa. Sang gelandang menerima umpan di zona 14, area tengah tepat di depan kotak penalti, lalu melakukan satu atau dua ekstra sentuhan sebelum menembak. Dia menunjukkan kualitas sebagai pemain ”nomor 10”, kreator sekaligus eksekutor gol, yang dibutuhkan Arsenal selama ini.

Gelandang serang Arsenal Eberechi Eze (kanan) berupaya melewati pemain Tottenham Hotspur Mohammed Kudus dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Minggu (23/11/2025) malam WIB.

Eze tiba di waktu yang tepat. Arsenal membutuhkan ancaman lebih di kotak penalti dalam laga itu. Sebab, tuan rumah masih harus bermain tanpa striker andalan Viktor Gyokeres yang sedang cedera. Presensi Eze di antara lini belakang dan tengah lawan menjadi teka-teki yang tidak bisa dipecahkan Tottenham selama 90 menit.

Eze seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi pahlawan Arsenal di derbi London Utara. Dia memulai perjalanan sepak bola di akademi Arsenal sebelum dirilis pada usia 13 tahun. Sejak itu, dia selalu bermimpi bisa kembali ke Arsenal sebagai pemain profesional. Mimpi itu terus dijaga, termasuk saat sudah jadi bintang di Crystal Palace.

Eze nyaris saja menjalani kisah seperti Harry Kane, sosok legendaris Tottenham yang juga berasal dari akademi Arsenal. Tottenham sudah sangat dekat untuk mendatangkan sang pemain. Namun, tiba-tiba Arsenal menyalip di tikungan terakhir. Si Meriam pun seolah sudah memenangi derbi sebelum duel sebenarnya terjadi.

Arteta berkata, penampilan spesial anak asuhnya itu tidak jatuh dari langit. Eze mempersiapkan laga derbi dengan motivasi berlipat. Dia sampai memangkas waktu istirahat yang diberikan setelah pulang dari tugas internasional bersama timnas Inggris. Adapun Eze bermain dua kali untuk Inggris pada pekan lalu.

”Semua terjadi karena sebuah alasan. Dia punya jatah libur dua hari, tetapi langsung berlatih setelah libur sehari. Dia ingin berlatih, ingin mengembangkan diri, dan mau melakukan latihan tambahan. Dia bertanya banyak hal kepada saya. Ketika pemain punya talenta dan keinginan sebesar itu, hal-hal hebat akan terjadi,” jelas Arteta.

Ide buruk Frank

Dominasi Arsenal tidak lepas dari bantuan pelatih lawan Thomas Frank. Di laga sebesar itu, Frank tiba-tiba mengubah formasi tim jadi 3-4-2-1. Sang pelatih memang sering menggunakan formasi serupa saat masih di Brentford, tetapi dia selalu memakai sistem empat bek sejak bersama Tottenham pada musim ini.

Frank ingin bermain lebih defensif dengan menempatkan lima bek sejajar saat tanpa penguasaan bola. Namun, Tottenham justru kehilangan kendali di lini tengah. Mereka kalah dalam duel-duel perebutan bola di area vital tersebut. Urgensi memainkan lima bek itu dipertanyakan, apalagi Arsenal tampil tanpa penyerang murni.

Gelandang Arsenal Mikel Merino (tengah) berduel udara dengan para pemain Tottenham, antara lain Cristian Romero (kiri) dan Richarlison (kanan) dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Minggu (23/11/2025) malam WIB.

Inefisiensi strategi tim tamu terlihat di gol pembuka Arsenal yang dicetak penyerang sayap Leandro Trossard. Trio bek tengah Tottenham, Cristian Romero, Micky van de Ven, dan Kevin Danso, tampak pasif menunggu di kotak penalti dalam gol tersebut. Tidak satu pun dari mereka yang mengantisipasi pergerakan penyerang Mikel Merino.

Merino, ”penyerang palsu” Arsenal, sering kali mundur ke lini tengah untuk membangun serangan. Dia pula yang menjadi otak untuk gol Trossard lewat umpan terobosan ke kotak penalti. Masalahnya bagi Tottenham, bek mereka bermain terlalu dalam sehingga memberikan ruang terlalu banyak di depan kotak penalti.

”Saya mencoba bermain dengan formasi 5-4-1. Saya bertanggung jawab atas pilihan itu. Pada akhirnya kami mengubah sistem itu setelah babak pertama. Terlepas dari itu, apa pun formasinya, kami tidak memiliki cukup duel atau intensitas di momen-momen penentu. Sangat sulit menang dengan kondisi seperti itu,” ujar Frank.

Tottenham kembali bermain dengan empat bek selepas turun minum, saat kondisi tertinggal 0-2. Danso digantikan oleh gelandang Xavi Simmons. Selain kemasukan di menit pertama babak kedua, tim tamu mampu tampil lebih baik. Mereka bisa bertahan dan membangun serangan lebih efektif dengan tambahan gelandang.

Satu-satunya gol Tottenham dihasilkan lewat kesalahan gelandang Arsenal, Martin Zubimendi. Penyerang ”Si Lili Putih” memanfaatkannya dengan tendangan spekulasi dari tengah lapangan. Gol indah tercipta karena kiper David Raya terlalu jauh dari gawang dan tidak mampu menjangkau bola.

Adapun Tottenham hanya mampu menghasilkan total tiga tembakan sepanjang laga, dua kali di antaranya tepat sasaran. Jumlah itu bahkan masih lebih rendah dibandingkan total gol Arsenal. Perbandingan tersebut memperlihatkan laga yang berjalan satu arah. London Utara pun menjadi milik Arsenal. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan