PESOHOR

Ed Sheeran Akhirnya Bersuara Jelas soal Gaza

Selepas gelombang kecaman, ajakan boikot, dan permintaan pengembalian uang tiket konsernya, Ed Sheeran pun menyebut kondisi di Gaza mengerikan.

20 Sep 2026 14:00 WIB · Internasional

AP Photo/Andy Kropa

Oleh Kris Mada

PHILADELPHIA, MINGGU — Setelah hampir tiga pekan, Ed Sheeran (35) akhirnya bersuara lagi soal Gaza. Ia menyampaikan itu selepas gelombang protes dan ajakan boikot terhadap rangkaian konsernya.

Dalam konser di Lincoln Financial Field pada Sabtu (19/9/2026) malam waktu Philadelphia atau Minggu pagi WIB, Sheeran menyampaikan komentar kedua soal Gaza. ”Kritik minggu ini menyangkut hal yang jauh lebih penting. Saya harus mengambil keputusan-keputusan sulit, saya pun melakukan kesalahan, dan saya sungguh, sungguh memohon maaf,” ujarnya.

”Situasi yang terjadi di Gaza sangatlah menghancurkan, tidak dapat dibenarkan, dan tidak proporsional. Hati saya hancur melihat besarnya kehancuran serta hilangnya nyawa warga sipil—termasuk nyawa anak-anak. Ketidakadilan sistemik yang sedang terjadi di Tepi Barat tidak boleh diabaikan. Saat ini, saya sedang berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari cara memberikan kontribusi nyata bagi para korban di masa-masa kelam ini, sembari terus mendengarkan dan belajar, karena saya menyadari bahwa pengetahuan saya masih terbatas,” lanjutnya.

Pernyataan itu sama sekali berbeda dengan beberapa hari sebelumnya. Awal pekan ini, ia berkeras tak mau terlibat perdebatan soal perang di Gaza. Ia berkilah, penggemarnya tidak datang ke konser untuk mendengar masalah tersebut.

Setiap konser Sheeran dalam Loop Tour, rangkaian tur kali ini, ditaksir menghasilkan pendapatan kotor hingga 7 juta dolar AS. Taksiran itu sebelum terjadi gelombang boikot dan permintaan pengembalian dana pembelian tiket.

Gelombang kecaman dan ajakan boikot menggema selepas salah satu penampil pendukung konser itu, Ben Hagerty, yang dikenal sebagai rapper Macklemore, diberhentikan. Pemberhentian menyusul seruan ”Bebaskan Palestina” dalam konser Sheeran pada 4 September 2026.

Lincoln Financial Field dimiliki konglomerat Amerika Serikat, Robert Kraft. Selepas pernyataan Macklemore, Kraft yang pendukung Israel itu menegaskan tidak mau rapper tersebut tampil di tempatnya.

FILE - Macklemore performs at Austin City Limits Live during the South by Southwest Music Festival in Austin, Texas on March 17, 2023. (Photo by Jack Plunkett/Invision/AP, File)

Maka, Macklemore diberhentikan. Para pendukung dan calon pendukung konser Sheeran memutuskan ikut berhenti tampil. Mereka, antara lain, Finneas, saudara penyanyi Billie Eilish.

Macklemore mengatakan, ia dan Sheeran bukan korban. Anak-anak di Gaza adalah korban sebenarnya. Ia juga mengumumkan menyumbangkan 1 juta dolar AS untuk Gaza.

Sementara Kraft menyatakan akan menyumbangkan 2 juta dolar AS. Bedanya, Kraft tak menyebutkan untuk siapa pastinya sumbangan itu dikucurkan.

Sheeran menyatakan, pemberhentian Macklemore adalah keputusan promotor. Ia juga menyatakan punya sikap walau tak menyuarakan secara terbuka.

Pernyataan itu memicu kontroversi dan kecaman. Sebagian pihak mengingatkan, Sheeran menggelar konser amal untuk mendukung Ukraina yang diserang Rusia sejak Februari 2022. Sementara soal Gaza, Sheeran menyatakan tak mau memihak.

Bukan cuma kecaman, sebagian pihak menganjurkan boikot atas konser-konser Sheeran. Selain tidak hadir, cara boikot termasuk meminta pengembalian uang tiket konser-konser itu.

Alasan pengembalian, antara lain, tidak mendapat hal yang dijanjikan dalam kontrak. Alasan itu dipakai karena praktis hampir seluruh penampil pendukung konser Sheeran, termasuk kelompok musik, tidak tampil.

Hasil boikot, antara lain, Lincoln Financial Field separuh kosong hingga 15 menit menjelang Sheeran memulai konser sendirian. Lazimnya, tempat konser sudah penuh setidaknya 30 menit sebelum penampil utama naik panggung.

”Saya tidak ingin mengecewakan para penggemar dan saya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis, tetapi situasi ini telah menempatkan saya di tengah perdebatan sengit dan penting mengenai kebebasan berpendapat serta isu politik paling rumit di dunia. Konser-konser saya selama ini selalu menjadi ruang yang aman bagi siapa saja, dan hal itu sangatlah berarti bagi saya. Menepati komitmen kepada para penggemar juga merupakan bagian tak terpisahkan dari jati diri saya; itulah sebabnya saya berada di sini malam ini seorang diri dan melanjutkan tur yang sedang berjalan,” katanya di Lincoln Financial Field.

Serangan berlanjut

Di Gaza, Israel terus menyerang meski menyepakati gencatan senjata sejak Oktober 2025. Serangan Israel ke Gaza pada Sabtu menewaskan seorang anak perempuan berusia 10 tahun, seorang remaja pria, dan dua orang dewasa. Selain itu, dua orang lain cedera.

Salah satu korban adalah Baseer al-Barsh, anak Direktur Jenderal Kesehatan Gaza Munir al-Barsh. Baseer tewas dalam serangan Israel ke Jabalia. ”Ini kejahatan Israel yang terus berlanjut,” kata Munir saat pemakaman anaknya.

Sehari sebelumnya, Israel menembaki orang-orang di Nuseirat dan Al-Bureij. Akibatnya, sejumlah orang cedera. Sementara pada awal pekan ini, serangan Israel menewaskan seorang paramedis dan siswa berusia 15 tahun.

Sejak gencatan senjata yang didorong AS disepakati berlaku pada Oktober 2025, Israel telah menewaskan 1.381 orang di Gaza. Ada ribuan orang lain cedera.

Para korban itu tidak termasuk 73.795 orang tewas dan 174.869 lain cedera akibat serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023-Oktober 2025. Unicef menyatakan, rata-rata satu anak Gaza tewas setiap hari akibat serangan Israel sejak Oktober 2025 saja. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati